Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 90


__ADS_3

Humai memotong-motong cabai, bawang putih, bawang merah, dan juga belimbing keris. Mbak Yanti membersihkan ayam dan memanaskan daun pisang agar nanti saat digunakan untuk membungkus tidak pecah.


"Mbak Yanti, Pak Camat banyak yang godain apa gak kalau lagi di kantor?" tanya Humai menyelidik.


Mbak Yanti malah tertawa mendapatkan pertanyaan itu. "Gak bakalan ada yang berani godain Bapak Bu! Orang dulu Bapak tuh ditaksir berat sama Bu Camat Zoya. Jenengan tahu sendiri gimana orangnya"


Humai tertawa mendapatkan jawaban dari Mbak Yanti. "Kenapa Bapak gak mau Mbak sama Bu Zoya? Kalau dilihat-lihat.... Bu Zoya juga lumayan"


"Karena kelakuannya Bu, lihat saja kemarin waktu ngamuk Bu. Halah..... nyeremin! Ibu itu beruntung dapat Pak Archee. Bapak tuh orangnya perhatian Bu. Tapi kadang jahil sih, meskipun beliau bilangnya gak sengaja jahil. Suka bagi-bagi rezeki"


Humai menautkan alisnya. Ia belum pernah mengetahui suaminya seperti yang disebutkan Mbak Yanti. "Perhatian iya, jahil banget, tapi saya gak pernah lihat dia bagi-bagi tuh Mbak ke orang-orang"


Humai mulai menyusun daun pisang, memasukkan ayam, menambahkan irisan bawang putih, bawang merah, daun jeruk, daun salam, cabai, belimbing wuluh dan menambahkan kuah santan. Lalu menguncinya dengan tusuk gigi.


Mbak Yanti mulai menyiapkan kukusan. "Benar bu, kalau pegawai negeri kan ada insentifnya kan bu, biasanya, kalau insentifnya Bapak cair, sebagian akan dibagikan ke kami. Diantara kami juga masih ada yang wiyata bu, Bapak selalu memberi tambahan uang saku bagi mereka yang wiyata. Karena wiyata di kami itu, yang memberi gaji bukan pemerintah, melainkan iuran dari kami yang PNS. Bapak juga kalau ada yang lagi kumpul makan ikut juga. Humble bu orangnya"


Humai tersenyum mendengarnya. Ia tak begitu dekat dengan Archee. Karena jika mereka bertemu, Archee akan bersama Hilal. Dan Humai hanya akan bertegur sapa dengannya.


Aku beruntung menjadi istrimu, aku bersyukur benar-benar mencintai orang tulus sepertimu. Batin Humai. Seseorang mengetuk pintu. Humai hendak membukanya. "Biar saya saja Bu" kata Mbak Yanti dan langsung menuju pintu.


Melihat siapa yang datang. Mata Mbak Yanti terbelalak. "Mak! Bu Zoya! Ngapain Mak Lampir itu datang???" Mbak Yanti membukakan pintu untuk Zoya.


"Assalamualaikum" sapa Zoya. "Waalaikum salam, Ibu ngapain kemari?? Jangan buat keributan disini Bu! Bu Humai baru saja sembuh"


Zoya tertawa mendengarnya. "Siapa yang mau buat keributan sih Yan? Saya kesini mau ngasih puding buah untuk Humai. Mana dia?"


Humai berjalan meninggalkan dapur menuju pintu utama. Tersenyum ke arah Zoya. "Assalamualaikum calon sepupu ipar!" Mbak Yanti menjadi bingung dengan sebutan yang diucapkan Humai.


"Waalaikum salam. Sudah pulih beneran? Nih, aku bawakan puding. Bukan buatan aku sih, tapi dijamin enak deh!" Zoya menyodorkan bingkisan itu. Humai menerimanya.


"Makasih kakak" Mbak Yanti menahan tawanya. Kakak? Hahaha? Ini sebenarnya ada apa sih? Mereka mau jadi kakak adik? Istri nomor satu dan dua gitu maksudnya?? Eh, tapi, kan tapi bilangnya sepupu ipar! Astaghfirullah.... Yantiiiii. Batin Mbak Yanti.


Mereka berkumpul di dapur. Humai menghidangkan puding buah itu. Terasa menggiurkan baginya. Apalagi buah yang ada kebanyakan memiliki rasa masam. "Cobain! Sumpah enak banget! Jangan mikir aku naruh racun disitu!"

__ADS_1


Humai tertawa dibuatnya. "Apaan sih Mbak? Gimana PDKT nya sama Mas Zafran?"


Zoya tersenyum mendengarnya. "Aku kesini mau tanya sama kamu. Menurut kamu Zafran tulus gak sih sama aku? Atau hanya pura-pura aja??"


"Ha? Kok Mbak Zoya bisa bilang begitu kenapa?"


Mbak Yanti hanya menjadi pendengar sambil mengecek masakan dan membuatkan minum bagi Zoya. "Ya.... Aku agak ragu saja sih Mai, gimana ya? Maksud aku, apa mungkin karena dia merasa bersalah saja sama aku, karena sudah mencuri ciuman pertamaku? Atau beneran karena tulus cinta dan sayang sama aku??"


"Jangan tanya itu sama aku Mbak Zo, tanya sama hati kecilmu. Kalau Mas Zaf cuma main-main sama jenengan, kenapa pula dia repot-repot minta sama orang tuanya suruh datang melamar?? Mas Zaf cerita gak ke jenengan kalau dia waktu bilang sama orang tuanya mau nikah, itu Budhe Yuna langsung syok! Nangis dan pingsan!"


Zoya menggeleng. Zafran tak menceritakan hal itu padanya. Selama beberapa hari ini, komunikasi mereka hanyalah sebatas menanyakan aktivitas yang sedang dijalani. "Masa sih Mai??"


Humai mengangguk. "Bang Archee ditelpon sendiri sama Pakdhe Agus. Beliau tanya, Mas Zaf ngapain anak orang? Kok tiba-tiba pulang dari tugas minta dilamarkan seorang perempuan. Dikira Budhe Yuna tuh, Mas Zaf sampai menghamili anak orang Mbak. Pas Budhe Yuna sadar dari pingsannya, dia lari ambil sapu mau dipakai buat mukul Mas Zaf"


Mereka bertiga tertawa karena cerita Humai. "Seriusan??" Humai mengangguk. "Kalau menurut aku sih ya, Mas Zaf tidak sedang main-main dengan hatimu, Mbak. Dia sedang berusaha mengungkapkan keseriusannya dengan caranya. Kalau kamu masih ragu, coba tanya sama Allah, minta jawaban dari Allah"


Zoya tersenyum. "Iya Mai, terima kasih sarannya. Aku mau kasih lihat, kebayanya bagus yang ini apa yang ini?" Zoya menunjukkan baju kebaya yang ada di ponselnya.


"Mbak Zo suka mana?"


"Ya sudah, ini saja" Ponsel Zoya berdering. Panggilan video dari Zafran. "Tuh..... dicariin sama Pak Intel!"


Zoya mengangkat panggilan itu. Zafran tersenyum dan menyapanya dengan salam. "Alah Mai..... senyum diaaaaa, hahahaha"


Humai dan Zoya tertawa. "Mas Zaf, sering-seringin senyum. Biar Mbak Zo makin meleleh sama kamu"


"Eh, ada Humai. Sudah sehat Mai? Ehehehe, dia memang harus disenyumin Mai, biar alarm marahnya gak bunyi mulu!"


Mereka tertawa. "Kamu lagi main? Gak kerja kamu Bu Camat?"


"Lagi dinas luar, waktunya masih, ya main saja kesini"


"Cie yang sekarang akur" Mereka kembali tertawa. "Mas lagi apa?"

__ADS_1


"Mikirin kamu"


"Pret!"


"Sumpah! Nih ya, daritadi Mas tuh kayak orang bego! Di prank mulu sama otak! Mau ambil nasi keliru air minum Mas tuang ke piring!"


"Mas"


"Hmmm?"


"Kamu beneran cinta sama aku??"


"Kalau aku jawab jujur, pasti kamu tidak percaya. Dengerin kata Mas, kalau hatimu ragu, kamu boleh tolak lamaran Mas besok hari sabtu. Mas gak maksa kok, karena sejatinya, cinta tak harus memiliki dan tak harus semua cerita cinta itu berakhir dengan bahagia"


Humai bertepuk tangan atas ucapan Zafran. "Sumpah! Kalian berdua keren! Ini nih, yang dinamakan cinta yang dewasa. Tapi, hati Mas Zaf bakalan baik-baik saja kan?"


"Yo ora Mai, yo mesti loruuuuuuu..... jeruuuu..... huhuhuhu" Zoya dan Humai tertawa mendengar hal itu. "Jangan lupa makan, sholat, berdo'a"


Zoya mengangguk. "I love you Bu Camat! Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2