
Sedang pagi hari di tempat yang lain, ada yang sedang malu-malu kucing mengutarakan keinginan hatinya. Archee selesai sholat subuh kembali ke ranjang. Humai melihatnya heran, karena biasanya, setiap selesai subuh Archee akan mengkaji Al-qur'an.
"Abang gak tadarusan?" tanyanya. Archee menggeleng. "Lagi pengen sesuatu yang beda" jawabnya.
Humai mengerutkan keningnya. "Pengen apa? Kopi? Humai buatkan dulu"
"Bukan!"
Humai tak jadi menuju dapur. "Lalu apa?"
"Sarapan" katanya malu-malu sambil memainkan jarinya di kasur empuk itu. "Mau sarapan apa?" tanya Humai lagi.
"Sarapan yang antimeanstream, yang beda dari biasanya"
"Ha? Iya apa menunya namanya? Kalau Humai bisa buat, Humai buatkan" kata Humai sudah mulai bingung dengan keinginan suaminya.
Archee menyuruh Humai mendekat padanya. "Apa sih?"
"Ya sini, tak bisikin menunya" Humai mendekati suaminya. Archee mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. "Abang pengen sarapan kamu" bisiknya.
Humai merona malu, wajahnya sudah sangat merah. "Ini masih pagi Abang" kata Humai.
"Justru pagi hari alamiahnya naluri Abang lagi berada di puncaknya" katanya sambil mendorong tubuh Humai hingga terjerembab di karsur. Archee berada di atas tubuh Humai. Menguasainya.
Humai tersenyum. Ia mengalungkan tangannya ke leher Archee dan membelai rambut suaminya. "Kenapa semalam gak bangunkan Humai kalau Abang sangat ingin?"
Archee mencium bibir manis Humai. "Abang gak tega bangunin kamu sayang" Hati Humai kembali berdesir saat dipanggil sayang oleh Archee.
Archee mencium kembali bibir manis itu. Humai menikmatinya, mengalungkan kedua tangannya di leher Archee. Ciuman yang lembut pun berubah menjadi ganas dan panas. Archee menggigit bibir bawah Humai. "Aw, kok digigit sih Bang?"
"Gemes sama kamu, coba panggil Abang dengan kata sayang, Mai. Abang ingin mendengarnya"
Humai tersenyum. Ia mencium bibir Archee. "Iya sayang" Archee tersenyum bahagia. Mereka kembali berciuman. Archee melu*mat bibir Humai. Memainkan lidahnya di dalam rongga mulut itu. Humai pun tak tinggal diam. Ia kembali membalas aksi yang dilakukan Archee.
Nafas mereka sama-sama tersengal, dan mereka saling lempar senyum bahagia. Archee mulai turun menjejaki leher jenjang milik istrinya. Humai terbuai, ia kembali mengeluarkan desahan akibat ulah Archee.
Archee tak ingin berlama-lama bermain di area leher. Ia langsung turun ke bahu dan dada Humai. Semakin turun di bagian yang ia sukai. Tangannya tak tinggal diam. Tangan itu pun ikut memainkan perannya. Menyingkap baju yang menutupinya dengan sedikit kasar.
Archee pun langsung menikmatinya. Ia seperti orang yang rakus. Melahap keduanya hingga Humai sangat terbawa dengan permainannya. Archee membiarkan istrinya mendesah. Suara desahan itu semakin membangkitkan gairah bercintanya.
Archee segera menanggalkan apa yang tersisa pada dirinya dan pada tubuh istrinya. Tangannya semakin nakal dan menyentuh bagian-bagian yang ingin dinikmatinya. Humai memejamkan matanya karena ia sangat malu polosan di depan suaminya.
Archee semakin turun. Mencari bagian yang ingin dirasakannya. "Abang!" Humai menghentikan aksi suaminya. "Yang ada pada dirimu adalah milik....." kata Archee.
__ADS_1
Humai kalah telak. "Malu bang"
"Abang ini suamimu sayang, jangan malu, apalagi untuk urusan ini. Tak ada yang disebut malu dalam kamus bercinta. Paham?"
Archee melanjutkan aksinya. Humai pasrah dan mulai menikmatinya. "Aahhhhh" lenguhan itu lagi-lagi keluar dari mulut Humai.
Semakin membuat Archee bersemangat. Miliknya sudah keras. Setelah puas melahap habis bagian itu, Archee mulai memasukkan miliknya. "Abang masuk ya sayang"
"Berdo'a dulu sayang" Humai mengingatkan Archee. Archee menengadahkan tangannya dan mulai membaca niat.
"Ya Allah! Sakit!" kata Humai saat mendapatkan hentakan pertama dari Archee. "Tahanlah, demi kenikmatan sayang"
Humai mengangguk. "Agak pelan Bang, Humai merasa perih"
"Iya" Archee mencobanya lagi. Dengan kekuatan lebih dilembutkan. "Uh" kata Humai dengan meringis.
"Tahan ya?" Archee sudah tak sabar. Ia langsung menghentakkan dengan keras miliknya. "Awwwww!" pekik Humai. "Ssstttt?" Archee menempelkan ibu jarinya di tengah bibirnya.
"Sakit bang" kata Humai dengan berderai air mata. "Tahan ya, bentar lagi kok sayang. Habis ini bukan perih lagi. Abang janji. Tahanlah sebentar lagi"
Humai kembali mengangguk. Ia mulai menghentakkan lagi dan berhasil jebol gawang sang istri.
Humai sampai menarik sisi kanan dan kiri seprei dan menangis. Archee tersengal-sengal. "Huh huh huh" nafasnya masih tersengal. Ia mulai memainkan miliknya. Humai mulai merasakannya.
Humai melihat suaminya. Menikmati sesuatu yang berhasil menyatu dengan miliknya di dalam sana. Archee sesekali mencium bibir Humai. Humai mulai ikut dalam tempo permainan Archee.
Mereka sangat menginginkan satu sama lain, saling mendamba. "Mmmmhhhhh" suara lenguhan yang lolos dari bibir Humai. Archee sudah merasa miliknya semakin keras. Ia mempercepat tempo permainannya. Membuat Humai semakin mendesah nikmat.
"Ahh ahhh ahh...." desah Humai. "Abang.... sudah.... ingin klimaks..... kamu gimana??"
"Cepetin lagi..... bang.... ahh"
Archee semakin bersemangat. Mereka sama-sama sudah tak tahan. Dan akhirnya mencapai puncak bersama-sama dan melepaskannya secara bersamaan pula. Nafas mereka sama-sama tersengal.
Archee mencium puncak kepala dan kening istrinya. Lalu menghujaninya dengan ciuman. Menarik miliknya keluar. "Ahhhhh" desah Humai saat barang itu keluar.
Archee menarik bantal dan mengganjalnya di bawah pantat Humai. "Angkat yank"
Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Humai langsung memeluk suaminya. "Makasih istriku sayang"
"Sama-sama suamiku sayang"
"Enak?" Humai mengangguk. "Mau lagi?" Humai mengangguk lagi. "Baiklah, nanti malam lagi ya?"
__ADS_1
"Iya, kalau Abang tidak ada gangguan" Mereka tertawa kecil.
"Kalau si Agil berani ganggu lagi, tak suruh cuti seminggu dia"
"Hahah, jangan begitu ah, dia kan hanya melaksanakan tugasnya sayang" kata Humai.
"Iya Abang tahu. Tidurlah lagi. Masak dan beberes rumah nanti agak siangan saja. Abang pengen meluk kamu"
"Iya" Mereka akhirnya tidur dengan posisi berpelukan. Setelah meneguk nikmatnya proses penyatuan. Terima kasih sudah sabar menunggu cinta hadir dalam hatiku bang. Batin Humai.
"Terima kasih juga karena kamu telah menjaga mahkota ini untuk Abang"
Humai melihat suaminya. "Apa? Kamu ngebatin kan? Abang tahu. Sudah, tidurlah yank"
Mereka akhirnya memejamkan mata bersama-sama. Melupakan sejenak rutinitas mereka, dan meneguk kebahagiaan jasmani.
Archee melepaskan pelukan itu saat istrinya benar-benar terlelap. Ia mengambil dan memakai kembali pakaiannya. Menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tersenyum bahagia dalam guyuran air panas otomatis itu.
"Berguna juga hadiah si Damar. Hehehe" katanya melihat alat pemanas air otomatis yang dipasangnya semenjak Humai mengatakan mulai mencintainya.
Selesai mandi dan berganti baju. Ia melihat Humai masih terlelap. Ia memutuskan untuk segera membersihkan rumahnya dan memasak.
Tak lama setelah itu, ia masuk ke.kamar dengan membawakan makanan untuk istrinya. "Sudah bangun ternyata? Gak usah turun dari ranjang, perih nanti rasanya. Sarapan dulu gih"
Humai tersenyum "Makasih sayang"
"Sama-sama"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Othor lagi pulang dr luar kota. Mau ngeberesin rumah dulu. Buka praktek, sambil ngetik. Sabar yah semuanya.....
__ADS_1