
Pagi hari nampak kesibukan di rumah Papah Duta. Semua dalam suasana hati yang gembira. Mereka sudah memiliki kegiatan sendiri-sendiri. Adel akan naik gunung bersama Ilyas guna menepati janji Ilyas dan melakukan sesi pre wedding. Damar bersama Amaris akan terbang ke Jakarta untuk memastikan sesuatu.
Aylin tak ada acara kemana-mana karena suaminya melarangnya agar tak kemana-mana jika tak ada suaminya. Dia memilih menonton drama korea kesayangannya bersama Mamah Laras.
"Del, nanti hati-hati naik gunungnya. Baca sholawat terus. Jaga perilaku kamu sama alam" Mamah Laras berpesan pada Adel sambil mempersiapkan sarapan.
"Nggih Mamahku sayang....." jawab Adel. Aylin duduk dengan lesu. Amaris yang sedang menuangkan air melirik padanya.
"Bumil satu ini kenapa lesu??" tanya Amaris
"Kangen sama Mas Imam, tapi dia masih lama pulangnya"
Amaris tersenyum kecut. "Cuma kangen doang sampai lesu begitu, apalagi kamu jadi aku kak"
"Memang kamu kenapa??"
"Kalau kamu tahu juga gak bakalan kuat Kak"
Semua yang ada di meja makan seketika terdiam. Tak tahu apa yang dimaksud Amaris. Aylin yang sedang hamil, merasa tersinggung dengan ucapan adiknya.
"Apaan sih Ris?? Namanya juga orang kangen sama suami! Wajar dong!" Aylin bangkit dari kursinya dan meninggalkan mereka semua.
"Lah, dia baper" jawab Maris enteng. Papah Duta merasa heran dengan sikap Amaris. Tak biasanya Amaris menyinggung orang seperti itu.
"Kamu sedang ada masalah Ris?" tanya Papah Duta. Amaris menggeleng. "Kalau tidak, kenapa kamu menyakiti kakakmu begitu?"
"Amaris cuma tanya Pah! Bukan menyakiti. Baperan banget sih! Dia kan harusnya tahu resikonya jadi istri abdi negara"
"Ya tapi gak usah begitu juga dong Ris" bela Papah Duta. Membuat Amaris kesal dan pergi meninggalkan ruang makan.
Suasana menjadi berbeda. Entah apa yang membuat Amaris menjadi seperti itu. Damar yang baru saja bergabung bingung mengapa semua menatap dirinya. Dia mencari Maris tapi tak ada dalam jangkauan pandangannya. Papah Duta menyandarkan dirinya di kursi. Siap bertanya pada anak mantunya.
"Dam, apa kamu sedang ada masalah dengan Amaris?" tanya Papah Duta.
Damar duduk dan menggeleng. Karena memang diantara mereka tidak ada masalah. Sedangkan masalah yang terjadi adalah antara Maris dengan Mamahnya. Adel memilih meninggalkan ruang makan dan mencari keberadaan Amaris.
"Ada apa Pah?" tanya Damar. "Amaris membuat Aylin tersinggung dengan mengatakan 'hanya kangen sama suami saja sampai lesu begitu. Apalagi kamu jadi aku kak?' Gitu katanya"
Damar sekarang tahu apa permasalahannya. Istrinya sedang tertekan. Tapi dia tak ingin membaginya. Hanya ingin disimpannya sendiri sehingga malah menyakiti orang lain.
__ADS_1
"Sekarang Amarisnya dimana Pah?" Damar meminta jawaban dari Mamah Laras dan Papah Duta. Mereka berdua mengangkat bahu mereka tanda tak tahu.
Damar terdiam dan nampak melamun. "Mah, Pah, ada sesuatu yang perlu Damar sampaikan" katanya sangat serius. Mamah Laras dan Papah Duta saling pandang.
"Ada apa Dam?" tanya Mamah Laras.
"Mungkin Amaris tertekan Mah, Pah, karena sebulan lalu, Mamah Damar datang ke Semarang. Damar dan Maris mengira awalnya cuma menengok kami. Tapi, pernah sekali Damar memergoki Mamah sedang kalkulasi dengan Maris. Setelah Damar tanya kenapa Mamah begitu, Maris jawab gak tahu, Mamah cuma pengen tahu rincian pengelolaan keuangan keluarga. Damar tanya ke Mamah juga alasannya sama. Tapi, Damar merasa mereka berdua bohong. Maris biasanya minta uang bulanan atau buat bayar air, sampai sekarang belum minta Mah, Pah. Maafkan Mamah Damar ya Pah Mah?"
Mamah Laras tersenyum. "Semua rumah tangga pasti akan menemui masa-masa sulit, kalian sedang dihadapkan dengan itu Dam. Pesan Mamah, kalian harus selalu kompak. Kalau Amaris tidak mau cerita, berarti kamu yang harus lebih peka dan pengertian. Maris adalah anak Mamah yang paling pintar dalam berkamuflase tentang perasaan. Pintar menutupi kekecewaannya"
"Papah setuju dengan Mamah, Papah juga tidak bisa menyuruh kamu untuk membela Maria, pasti nanti keluargamu akan semakin membenci Maris. Disitulah posisi sulitnya. Tapi, yakinlah bahwa kalian akan selalu bisa bersama" Damar tersenyum.
"Makasih Pah"
"Perasaan Mamahmu bukan tipe orang yang kepo akan urusan orang lain Dam. Apakah kamu merasa tidak janggal dengan hal ini?" Tanya Mamah Laras. Damar mengangguk.
"Damar sedang mencuirgai seseorang Mah, Damar meminta tolong dengan mantan anak buah Mas Zaf untuk menyelidiki sesuatu"
"Siapa yang kamu curigai?" tanya Papah Duta.
"Mbak Suci"
"Mbak Suci adalah istri dari Mas Seno. Mantannya Kak Aylin Pah. Dia kenal baik dengan Mbak Wulan"
"Lalu kenapa Maris yang diserang?" Damar mengangkat bahunya. "Itulah yang sedang Damar selidiki Mah, Pah"
Sedang di belakang Amaris menyesali kata-katanya terhadap Aylin. Adel duduk disampingnya. Memeluknya. "Kalau berat masalahnya kenapa gak cerita?"
"Karena itu aib Del"
"Tapi, apa Kakak kuat menerimanya? Malah kakak sendiri kan yang berat menerimanya?"
"Kakak coba curhat saja sama Allah Del, mulut kakak nih jahat banget sama Kak Aylin bilang begitu"
Adel tersenyum. "Ayo ke kamar Kak Aylin" Amaris mengangguk. Mereka menuju kamar Aylin. Mengetuk pintu kamar.
Aylin membuka pintunya. "Apa??" tanyanya
Amaris memeluknya. "Maaf karena menyinggungmu"
__ADS_1
Aylin membalas pelukan Amaris. "Kamu ada masalah apa? Berat banget emang?" tanya Aylin dalam pelukan itu.
"Gak punya duit karena pengangguran!" kata Amaris asal. Mereka bertiga tertawa.
"Kak, mau bantuin temen Adel gak? Dia rumahnya dekat dengan kawasanmu. Anaknya itu susah nangkep pelajaran. Bosenan. Kalau kamu yang ngasih privat gimana?"
Amaris melepaskan pelukan itu. "Nanti aku izin Mas Damar dulu"
"Gak usah nanti, Mas ngijinin kok" kata Damar dari arah tangga. "Ha? Beneran Mas?"
"Iya" Amaris berlari memeluk suaminya. "Cari kegiatan biar kamu gak suntuk. Maafin Mas kalau membuatmu tertekan"
"Makasih Mas"
"Woy woy woy! Pamer! Disini ada yang lagi LDR nih" kata Aylin
"Plus belum halal" imbuh Adel. Mereka semua tertawa. "Del, ditungguin sama Babang Ilyas noh"
"Sudah datang ya Mas?" tanya Adel senang sambil berjalan menuju kamarnya.
"Sudah. Buruan" jawab Damar. "Ayo kak sarapan" Ajak Amaris.
Aylin mengangguk dan ikut turun bersama Damar dan Amaris. Adel juga segera turun. Suasana rumah nampak ceria kembali.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Maaf slow ya, othor rewang seharian. Besok Mas sepupu othor nikah, jadi yo rewang dulu
__ADS_1