Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 110


__ADS_3

Damar dan Amaris telah mendarat di Jakarta. Mereka menginap di sebuah hotel dekat dengan kawasan rumah Seno. Amaris hanya mengikuti rencana suaminya. Tapi, dalam benaknya memang dirinya sangat ingin tahu mengapa Mamah mertuanya melakukan hal itu padanya.


Mereka tak keluar kemanapun sebelum berhasil mengungkapkan kecurigaan Damar. Amaris memilih memakan di dalam kamar bersama suaminya. Dirinya memesan makanan sederhana, makanan yang sangat dirindukannya. Kerak telor dan soto betawi.


Makananpun datang. Amaris bersama Damar duduk berdampingan menikmati makanan itu. "Enak yank?" tanya Damar. Amaris mengangguk semangat. Membuat Damar senang melihatnya.


"Makan yang banyak, jangan sungkan minta uang ke Mas kalau kebutuhan di rumah dan kebutuhanmu mendesak"


Amaris hanya mengangguk. "Nanti kalau masalahnya sudah selesai kita shopping ya??"


Amaris menggeleng. "Ditabung saja. Siapa tahu nanti kita butuh dana mendesak"


Damar tak menjawab lagi ucapan Amaris. "Mas"


"Mas gak suka kamu seperti ini. Hak kamu untuk menggunakan uang Mas. Gak usah takut sama Mamah. Mamah itu gak berhak mengatur keuangan rumah tangga kita. Kalau cuma menasehati silahkan. Tapi tidak untuk keluar masuknya uang. Itu sudah tugas kamu sebagai bendahara keuangan di rumah tangga kita. Kurang atau cukupnya uang yang Mas peroleh wajib kamu kelola dengan benar. Sekarang, Mas ajak kamu shopping, itu juga salah satu pengelolaan uang dengan benar. Karena membuat istri bahagia. Terserah kamu lah kalau mengikuti kemauan Mamah. Tapi jangan salahkan Mas kalau Mas sampai marah dengan Mamah"


Amaris tersenyum mendengar ucapan suaminya. Memang benar yang dikatakan Damar. Namun, dirinya sedang tidak membutuhkan apapun. "Oke, hanya satu barang dan harganya harus dibawah lima ratus ribu"


"Kok gitu? Gak Mas gak mau"


"Maas.... boros itu perbuatan syaiton. Ayolah sayang, aku sudah mau kamu ajak shopping. Sekarang hargai syaratku juga dong sayang"


Damar menghela nafasnya. Mengalah kepada istrinya. "Dapat barang apa barang di bawah lima ratus ribu yank??"


"Pasti ada. Nanti kita cari. Habiskan dulu makananmu sayang" Kata Amaris beranjak dari kursinya untuk membereskan piring yang ada. Damar menyelesaikan makannya dengan tenang.


Selesai makan malam, mereka menonton tv. Ponsel Damar berdering. Private number. Damar segera mengangkatnya.


"Kita bertemu di lobby hotel 1 jam lagi" Damar mematikan ponselnya. Kembali memeluk Amaris. "Nanti mantan anak buah Mas Zaf akan datang. Membawa berita untuk kita"

__ADS_1


"Berita baik atau buruk?"


"Baik dan buruk"


Amaris menjadi kepikiran dengan berita yang akan mereka terima. Namun, dirinya mencoba tenang. Damar menunggu saat itu. Ia mulai gelisah sambil melihat jam yang ada pada dinding hotel itu.


Waktu pertemuan pun tiba. Damar dan Amaris turun ke lobby untuk menemui informan mereka. Amaris terlihat ragu. Ia takut jika suaminya kalut dan marah dengan keluarganya jika mendengar bagaimana nanti cerita sebenarnya.


Mantan anak buah Zafran sudah menunggu mereka. Damar tersenyum menyambutnya. "Assalamualaikum Mas Damar"


"Waalaikum salam Mas loundry" Amaris tercengang mendengar panggilan itu. "Nama samarannya" kata Damar seakan mengerti arti tatapan Maris.


"Sudah lama Mas?" tanya Damar


"Baru Mas, saya sudah bawa baju yang anda mau. Baju kotor dulu yang akan saya sampaikan" kata Mas Loundry. Amaris mencerna kode-kode yang mereka gunakan dalam percakapan itu.


Baju kotor berarti berita buruk. Baju bersih mungkin berita baiknya. Emang begini ya para intel berinteraksi? Tanya Maris dalam hati.


Jadi, jalur satu-satunya adalah lewat saudara-saudaranya. Jika nanti para saudaranya sudah dihancurkannya, dia berpikir bahwa akan lebih mudah menyentuhnya karena pastinya Aylin akan rapuh. Dan saat itulah balas dendamnya terbalaskan. Itu baju kotor yang saya bawa. Sedangkan baju bersihnya adalah, selamat, Mamah kalian bukanlah orang yang mudah dihasut" Kata Mas Loundry menjabat tangan Damar.


"Mamah kalian sebulan yang lalu memang datang ke rumah kalian dan seperti cerita Mas Damar, itu hanya untuk melakukan kroscek dengan kebenaran yang ada. Karena saya mendengar sendiri Mamah Mas Damar, memuji istrinya Mas. Beliau bilang begini 'Maris itu tidak seperti yang kamu katakan. Dia memang sangat bijak dalam mengelola hal keuangan. Tak ada yang ditutupinya dariku. Sungguh bodoh diriku jika sampai termakan oleh omonganmu'. Tak usah khawatir akan Mamah Mas Damar, karena beliau cerdas dalam menerima informasi"


Amaris dan Damar saling toleh dan tersenyum senang. "Ini isi percakapan yang berhasil saya sadap. Disana jelas dia sedang melakukan percakapan dengan temannya dan Mamah Mas Damar. Oh ya Mas, HP milik Mamah Mas Damar masih ada cipnya ya. Nanti tolong diambil hehehe"


Damar mengangguk. "Terima kasih bantuannya Mas, sisanya sudah saya transfer. Tolong dicek"


Lalu mereka berpisah. Damar langsung kembali ke kamar bersama istrinya. Langsung melihat informasi yang diberikan Mas Loundry.


Damar mendengarkan isi percakapan Suci dengan seorang perempuan. "Jadi benar yang menghasut Mamah tuh Mambak Suci Mas?"

__ADS_1


Damar mengangguk. "Kita dengarkan dulu isi percakapannya" Damar mulai memutar percakapan itu.


Suci : "Aku benci banget sama dia tahu gak sih No, Mas Seno tuh kadang masih membanding-bandingkan aku dengan dia coba. Berkat saran dari kamu untuk menghasut Mamahnya Mbak Wulan, rasa sakitku sedikit terobati tahu gak sih? Hahahaha, kalau gak bisa mengganggu kakaknya adiknya pun boleh"


Terdengar gelak tawa dari kedua perempuan itu.


Mrs. X : "Tuh kan! Retno gitu lhoh! Nanti pelan-pelan hancurin dari adiknya. Baru ke sasaran utamanya. Jangan lupa traktiran buat aku!"


Suci : "Iya, nanti aku traktir satu kalung cukup lah. Hahahaha"


Damar mengepalkan tangannya. Tak menyangka Suci tega melakukan hal itu padanya. Karena dirinya kenal baik dengan Suci. Damar memutar percakapan kedua. Antara Mamahnya dan Suci.


Suci : "Gimana tante kemarin?"


Mamah : "Gak gimana-gimana. Maris itu pintar mengelola keuangan. Gak seperti yang kamu ucapkan ke tante. Kan yang boros kakaknya, belum tentu Maris juga boros. Nyatanya dia pandai tuh nyimpan uang gaji suaminya. Malah tante bangga dengan cara pengelolaan dia. Dia tidak punya penghasilan, tapi bisa menahan nafsunya untuk beli ini itu. Maris itu tidak seperti yang kamu katakan. Dia memang sangat bijak dalam mengelola hal keuangan. Tak ada yang ditutupinya dariku. Sungguh bodoh diriku jika sampai termakan oleh omonganmu"


Suci : "Oh, syukur deh kalau seperti itu"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2