
Amaris sedang sibuk mengisi nilai rapor untuk para siswanya. Fokus berkutat dengan data dan angka. Karena minggu depan adalah minggu terakhirnya mengajar di Jakarta.
Ia sudah mengajukan resign ke kepala sekolah. Dan sudah membuat beberapa lamaran untuk di SMA maupun SMK yang ada di Semarang.
Ponselnya berdering. Sebuah video call masuk ke ponselnya. Ia mencari-cari barang itu dan dapat. Ia melihat nama yang muncuk di ponselnya. "Mamas" katanya dengan senyum mengembang.
Ia mengangkat panggilan video itu. "Assalualaikum" sapanya. "Waalaikum salam, lagi ngapain yank?"
Amaris meletakkan ponselnya pada posisi yang bisa tetap terlihat di video call itu. Dambil mengerjakan tugasnya. "Ngisi rapor mas"
"Owh, banyak banget ya? Sampai lupa tadi disuruh apa sama Mamas"
Amaris hanya tersenyum sambil menulis. Lalu ia melotot. "Astaghfirullahal 'adzim...... lupa!" katanya sambil melihat ke Damar.
"Maris jemput mamas sekarang!" katanya sambil berdiri.
"Iya"
Ia mulai berlari untuk bersiap. Kembali lagi mengambil ponselnya. "Tunggu ya? Sabar ya?"
"Heemmmmm" jawab Damar mulai kesal.
Amaris segera bersiap. Berganti baju, dan memakai jilbab instan. Memoleskan sedikit bedak dan lipcream di bibirnya.
teng tong. Amaris menoleh. Ada seseorang yang memencet bel rumahnya. "Siapa sih ah! Orang lagi buru-buru begini kok" katanya sedikit kesal.
Akhirnya ia keluar dari kamar dan membukanya terlebih dahulu. ceklek. Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di hadapannya. Damar. Telah sampai terlebih dahulu di rumah Amaris.
Reflek saking senangnya, Amaris loncat-loncat dan memeluk Damar. "Eh, maaf" katanya sambil melepaskan pelukan itu.
Damar tertawa. "Sesenang itu ketemu sama Mas?" Amaris tersenyum malu dan mengangguk. "Kok udah disini aja sih? Siapa yang jemput?"
"Supir papah" Amaris mengangguk. "Yuk masuk"
Damar mengangguk. Ia merebahkan dirinya di sofa. Melihat tumpukan rapor yang dikerjakan Amaris. "Masih banyak?" tanyanya.
Amaris menggeleng "Tinggal dikit kok, Mas udah makan? Mau dibikinin minum apa tayangkuuuu"
"Belum, masakin Mas mie kuah kasih telur cabainya 3 dong yank, minumnya es teh manis"
"Berasa di angkringan ya pak?" mereka tertawa. Amaris menuju dapur dan segera membuatkan pesanan Damar. Sedangkan di ruang tamu, Damar bermain ponsel milik Amaris.
Membuka satu per satu foto milik Amaris. Melihat foto mereka berdua. Sampai saat video call pun selalu Amaris ambil gambarnya. Ia mengambil gambar dirinya sendiri. Lalu memposting di status sosmed milik Amaris dengan caption malam mingguku ditemani Mamas police.
Amaris datang membawa mie dan minuman. "Tolongin panas" katanya. Damar menolongnya dan meletakkan mie di depannya. "Aku selesaikan ini dulu ya?"
Damar menggeleng. "Temani mas makan dulu" Amaris mengangguk. Damar mengaktifkan kameranya tanpa sepengetahuan Maris. "Suapin" rengeknya. Amaris memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Manjanya gak ketulungan" katanya. Akhirnya Amaris menyuapkan Damar, meniup mie panas itu secara perlahan dan menyodorkannya pada Damar. Kamera ponsel pun merekam semuanya.
"Enaknya disuapi sama calon bojo, bentar lagi halal makin enak dong" kata Damar sambil mrnaik turunkan alisnya. Amaris hanya tersenyum. Selesai menyuapi Damar, Amaris melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama Amaris telah selesai mengisi rapor itu. Damar mematikan rekamannya dan mempostingnya di status WA. "Mau jalan gak?" tanya Damar
"Mau ngajak kemana emang?"
Damar berpikir. "Kemana ya?"
"Di rumah aja lah. Mas, nitip sebarin lamaran aku dong"
Damar menerimanya. "Banyaknyaaaa"
"Hehehe" Damar membuka ponselnya karena berbunyi terus semenjak tadi. Pesan dari grup somplak.
Hamka : Damaaaarrr........... njir ya lu! Ngerjain senior! Minta tuker jadwal ternyata malam ini ngawal pengamanan! Dia pasang status lagi ayang ayangan sama Maris! Batal kan gua kencan sama bini gua!
Sigit : ππ Damar memang kurang ajur! Emang dia kemana sih? Jakarta kah? Aku kok belum lihat statusnya. Cek sek ah
Hamka : Ya kemana lagi?? π€π€π€
Ali : Hiyak! Banteng mulai mengamuk! Siap-siap diseruduk, namun sayang, yang hendak menyeruduk ngawal pengamanan πππ
Damar : π€£π€£π€£ Maaf ya bang, sumpah gua gak gahu kalau ada pengawalan
Damar : Njir! Parah lu Bim! Kapan gua ngomong begitu?? πππ
Ali : Bener kata Bima deh bang Hamka, Damar ki ncen wes.... angel, senior kok digarap π€ͺπ€ͺ
Sigit : Iya, bener omongan Bima. Aku denger sendiri dehπ
Damar : π π π π ππππππ kalian memang kompor!
Hamka : π€π€π€ Awas lu pulang gak bawain gua oleh-oleh, gak mau lagi gua dituker jadwalnya!
Ali : ππππ€£π€£π€£π€£
Sigit : Sabar Dam, bang Hamka memang kejam! π€π€
Damar : Iya nanti gua bawain oleh-oleh yang buanyak buat semua yang ada di grup. Buat nyumpel mulut kompornya!
Danang : πππ Sabar-sabar. Mulut gua gak kompor kok, asal yang keluar dari dompet lu warna merah semua gambarnya Bung Karno dan Bung Hatta
Habib : Apaan nih ada yang mau bagi2 duit THR yang masih ya? Aku juga mau.....
Damar : ππππ Duitnya ditabung buat nikah!
__ADS_1
Sigit : Dari kemarin-kemarin kayaknya lu bilang mau nikah mulu tapi gak jadi-jadi Dam
Ali : Iya, sampai drama matahin kakinya sendiri lagi
Hamka : π€£π€£π€£π€£ Itu kaki yang satu belum lu patahin Dam! Patahin gih, besok langsung lu nikah sama Maris. Kan kemarin pas yang satu patah lu langsung balikan ama dia
Habib : Ide bagus memang bang Hamka. Aku kok seneng yo punya sedulur somplaaaaaakkkk kabeh orangnya
Damar : π Ide yang kurang briliant bos! Sekalian aja lu keluarin senapan lu terus lu tembak gua dari Magelang!
Sigit : Woh! Nantang!
Ali : Sikat bang!
Bima : Kasih bang!
Damar : ππππ canda doang! Udah ah, gua mau lanjut sayang2an ama Maris. Bye!
Damar tertawa dan menyimpan ponselnya. Ia mengobrol dengan Amaris. Membicarakan tentang konsep pernikahannya.
"Mau konsep pernikahan kayak gimana yank?" tanyanya.
"Garden party" jawab Amaris
"Mau pakai adat atau gak?" Amaris menggeleng. "Aku pengennya yang simpel, ngundang cuma keluarga deket sama temen-temen, biar rasa kekeluargaannya kental"
Damar mengangguk. Ia menunjukkan gambar baju akad dan resepsi dari ponselnya. "Mau yang ini atau ini?"
"Ini" Amaris menunjuk sebelah kanan. Damar mengangguk. "Oke, semuanya udah siap, tinggal nunggu kamu pulang, kita sidang pra nikah, fitting baju, buat undangan, nunggu hari H, dan halal!" kata Damar.
Amaris tersenyum. "Enak ya ternyata mau halal sama bos resto Damar Wulan, tinggal tunjuk dan ngomong udah siap aja. Hahaha. Makasih ya sayang"
"Sama-sama. Yuk ah jalan, mubeng Jakarta deh. Mas kangen jalan sama kamu"
Amaris mengangguk. "Pake motor ya?" Damar mengangguk. Maris meraih kunci motornya dan mengambil helm. Mereka berboncengan menyusuri jalanan ibukota. Kebahagiaan yang sederhana tapi membekas di hati.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip