
Persiapan pernikahan Ilyas dan Adel dilakukan sematang mungkin. Adel dan Ilyas memilih untuk mengurus sendiri pernikahan mereka. Mereka tak ingin menggunakan jasa wedding organizer. Repot? Sudah pasti. Tapi mereka bahagia melakukannya.
Seperti para saudarinya yang lain. Adel juga menjalani prosesi siraman, pengajian, dan midodareni sebelum esoknya akan akad nikah. Akad nikah dan resepsi akan digelar di kediaman Papah Duta. Imam pulang saat malam midodareni. Semua saudara Adel pulang. Mereka ikut bahagia karena akhirnya dia naik ke jenjang pernikahan.
Jenjang dimana akan lebih serius lagi dalam menata rumah tangga. Membangunnya dengan pondasi agama dan kasih sayang. Papah Duta duduk berdua dengan Mamah Laras tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di rumah mereka.
Mamah Laras menyandarkan kepalanya di pundak Papah Duta. "Mamah sedih?" tanya Papah Duta. "Papah juga kan?" balas Mamah Laras.
"Kita harusnya bahagia ya Mah, semua anak-anak kita bahagia dengan keluarga kecil mereka" tutur Papah Duta. Mamah Laras tersenyum dan menggenggam tangan Papah Duta.
"Beban di pundak kita untuk mengantarkan mereka menuju gerbang rumah tangga sudah selesai Pah. Sekarang, giliran mereka yang akan menjadi seperti kita"
Mamah Laras dan Papah Duta berkaca-kaca. Humai berjalan mendekati mereka dengan membawa Syafiq. Mamah Laras sangat gemas sekali dengan cucu pertamanya itu. Syafiq sudah tak sabar ingin digendong Mamah Laras.
"Cucu Eyang..... senang ya ketemu sama Eyang? Kangen ya??" Mamah Laras berbicara dengan Syafiq. Humai memberikan Syafiq pada Mamah mertuanya.
"Syafiq daritadi ngrecokin Adel terus Mah, henna Adel yang masih belum kering dipegangnya. Eh, dia malah ketawa senang. Tantenya itu yang kesal" terang Humai.
Papah Duta dan Mamah Laras tertawa mendengarkan kelakuan cucu mereka. "Sudah malam kenapa belum tidur Fiq?" tanya Papah Duta. "Baru bangun tadi Pah"
Archee ikut menyusul ditengah-tengah mereka. Merebahkan diri di pangkuan istrinya. "Bantal ternyaman" katanya. Syafiq yang melihat itu menangis. Tak rela jika Uminya digoda oleh Abinya sendiri.
"Astaghfirullah nak.... Abi cuma rebahan sebentar. Kamu sudah nangis kayak begitu" Protes Archee segera bangun dari pangkuan istrinya.
"Memang kalian dulu gak begitu?" protes Paoah Duta yang mengingat masa kecil A squad. Mamah Laras adalah hak milik yang paten bagi mereka. Sekalipun itu Papahnya sendiri.
"Kalian tuh sama dulu kayak Syafiq. Papah pegang Mamah kalian doang, kalian langsung pasang kuda-kuda siap menyerang Papah"
Mereka semua tertawa. Malam semakin larut. Semua bersiap untuk hari esok. Adel pun merasakan hal yang dirasakan oleh saudara-sudaranya. Dia tak bisa tidur menyambut hari esok.
Dia mencoba menghubungi Ilyas. Tersambung. Dan diangkat oleh Ilyas.
Assalamualaikum Dek, belum tidur kamu?
"Waalaikum salam Bang, Abang sendiri juga belum tidur?"
Iya nih, Abang gak bisa tidur. Kamu juga?
Iya, Bang
Hmm? Apa cantik?
__ADS_1
"Heheheh, gak papa"
Dek
"Dalem sayang"
Addduuuuhhhhhh..... rontok tulang Abang mendengar panggilan itu. Adel tertawa mendengarnya. Ilyas selalu bisa membuatnya tertawa lepas.
Dek, besok kamu resmi menjadi istri Abang. Dan Abang resmi jadi suami kamu. Perasaanmu gimana?
"Hihihi, ya senang lah Bang, bahagia. Akhirnya kita menjadi satu dalam ikatan halal. Adek tuh semalam berangan-angan. Bangun rumah tangga sama Abang, penuh kedamaian dan kerukunan, punya anak banyak, punya rumah sederhana. Keluarga lengkap. Hmmmm..... indah kayaknya Bang"
Hahahahah, ngomongnya sudah ke anak aja nih! Sudah siap diterkam emang? Hmm? Abang juga sepemikiran sama kamu. Abang pengennya sampai nanti tua terus sama kamu. Mau dengerin Abang nyanyi gak?
"Ceileh mau unjuk bakat! Mau nyanyi apa?"
Dengerin ya? Sampek tuwek, kowe ra bakal tak culno, masio wis ra wancine sayang-sayangan ning kene, siji-sijine wong sing gawe ademe ati, gawe uripku, seneng....
"Yeeeeee" Adel bertepuk tangan pelan memuji suara Ilyas. "Bang, kalau dulu kita sama-sama gengsi terus gak balikan, pernah gak sih kebayang di diri Abang, akan jadi bagaimana hidup kita?" tanyanya.
Pernah. Jawaban Abang hanya satu kata. Hancur. Dan pastinya kita sama-sama tersakiti. Abang gak mau kehilangan kamu lagi, kecuali itu takdir Allah
"Aamiin"
Adel tertawa mendengarnya. Dia melihat jam. Sudah pukul satu dini hari. "Bang, sholat dulu yuk, habis itu tidur"
Oke, do'akan Abang besok lancar jawab ijab qobul dari Papah ya cantik
"Aamiin, Insyaallah lancar. Assalamualaikum ganteng"
Waalaikum salam
Adel segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam. Meminta ketenangan dan kelancaran bagi hari pentingnya besok.
Pagi menjelang. Akad akan dilakukan jam sepuluh pagi. Adel mulai dirias pukul tujuh pagi. Pukul 09.30 dia sudah selesai dirias. Archee datang bersama Humai dan Syafiq. Memberikan hadiah pernikahan bagi adiknya.
Archee berkaca-kaca. "Selamat ya Del, jadi istri yang baik ya? Nurut sama suami. Semoga pernikahanmu diberkahi Allah Del" katanya.
"Makasih Abang! Ih, Pak Camat bisa nangis juga! Hahaha, jangan sedih dong! Kan ini hari bahagia Adel"
Amaris, Aylin, Mamah Laras, Papah Duta, dan Imam datang menghampiri mereka juga. Memberikan kado istimewanya bagi Adel.
__ADS_1
Pak penghulu bersama rombongannya sudah tiba. Papah Duta dipanggil ke ruang akad nikah. Ilyas pun sudah siap dan nampak gagah mengenakan beskap berwarna putih itu. Persiapan akad pun selesai dilakukan. Papah Duta berjabat tangan dengan Ilyas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Ayu Wicaksana binti Duta Wicaksana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"SAH!!" teriak semua yang menyaksikan itu. Ilyas sampai menitikkan air mata bahagia. Mulai detik ini, Adel resmi menjadi miliknya.
Resepsi pun digelar. Diawali dengan acara pedang pora. Dilanjutkan dengan para tamu undangan yang hadir memberikan selamat bagi kedua mempelai.
Rangkaian acara pun selesai dilaksanakan. Malam menjelang. Adel sudah panas dingin di dalam kamarnya. Sedangkan Ilyas masih mengobrol dengan Archee, Imam, dan Damar di bawah.
ceklek
Pintu kamar pun terbuka. Ilyas masuk dengan penuh senyuman. Menari-nari tak jelas karena kegirangan. Adel tertawa melihatnya. Ilyas segera naik ke ranjang Adel.
"Haduh..... kenapa Abang malah panas dingin begini ya??" tanya Ilyas. Adel tersenyum malu mendengarnya.
Ilyas menarik lengan Adel dan memeluknya. "Lepas dong jilbabnya" pinta Ilyas. Adel melepaskan jilbabnya. menggerai rambut panjangnya.
"Masyaallah..... Hah! Makin mendidih darah Abang. Hayuk lah!"
Ilyas sedang akan melepaskan kaosnya. Seseorang mengetuk. Membuat Ilyas harus membuka pintu lagi. Adel mengenakan jilbabnya kembali.
Sedangkan di depan pintu, Aylin dan saudaranya yang lain tersenyum penuh arti. "Pada ngapain??" tanya Ilyas bingung.
"Mau nemenin adeknya kita malam pertama!" Jawab Maris langsung masuk ke kamar Adel. Adel dan Ilyas sama-sama melongo mendengarnya.
"Kalian ih!" kesal Ilyas. "Permintaan orang ngidam nih Yas" sahut Imam.
Membuat Adel dan Ilyas menghela nafas oasrah dicampur kesal. Semuanya tertawa. "Matiin lampunya Yas!" kata Aylin.
Ilyas menarik tangan Adel dan membawa tas pinggangnya. "Kita mau ke hotel ajah! Bye!" kata Ilyas meninggalkan semua saudaranya.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip