Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 38


__ADS_3

Adel dan Aylin masuk ke dalam rumah. Adel sangat ingin tahu cerita salah sambung itu. Ia membuntuti kakaknya hingga ke kamarnya. Aylin membiarkannya, ia sibuk membersihkan diri.


"Ih.... kakak....." rengek Adel. Aylin tersenyum.


"Apa sih bos lele? Sebutanmu unik juga ya dek, bos lele, hahaha"


Adel berdecak. Ia merebahkan dirinya di ranjang Aylin. "Ayolah kak, cerita gimana bisa kalian salah sambung"


Aylin duduk di kursinya lalu mencharger ponselnya. "Dia yang salah sambung, dia tuh pengen nelpon sepupunya atau siapanya gitu, cuma beda nomor satu angka doang, berujung salah sambung. Video call lagi. Kakak gak ngeh kalau Ilyas yang dimaksud adalah Ilyasmu, soalnya sempet dia bilang, eh kok mirip Adel pacarnya Ilyas? Gitu. Terus dia chat, mastiin lagi ini beneran salah sambung apa gak? Ujung-ujungnya ngajak kenalan. Udah si gitu doang"


Adel cekikikan mendengarkan cerita Aylin. "Kalian tuh sama-sama" ucap Adel menggangtung. Membuat Aylin mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Iya, sama-sama pas mau dikenalin entar-entar, nanti-nanti, kosak kosek, tahunya! Hmmm! Dasar!"


Aylin tertawa. "Dia beneran baik kan Del?" tanya Aylin mulai penasaran. Adel mengangguk. "Cuma agak selengekan aja kalau sama cewek, dia tuh pernah dipandang sebelah mata sama keluarga mantannya, halah gaji tentara kecil gak bisa nyukupi kebutuhan gitu katanya"


Aylin mengangguk. "Dan itu yang membuatnya selengekan sama cewek?" Adel mengangguk.


"Kakak udah siap benar kan buka hati buat Bang Imam? Ya.... maksud Adel, hati kalian itu sama-sama pernah terluka, semoga ini adalah obat kalian. Tapi kalau kalian ragu, ya mendingan jangan, karena Adel gak sanggup lihat kakak nangis lagi karena cowok"


Aylin tersenyum. "Insyaallah, gak tahu kenapa tadi pas pertama ketemu dia, jantung kakak tuh langsung berdebar-debar cepet banget dek"


"Ciee..... cie..... cie..... pertanda nih!" Adel dan Aylin tertawa. Adel bangun dari ranjang Aylin.


"Eh, kamu sama Ilyas gimana?" tanya Aylin. Adel tersenyum.


"Adel memutuskan mau menikah dengan Bang Ilyas, setelah kak Maris. Kakak gak papa dilangkahi dua orang?" tanya Adel. Aylin tersenyum dan menggeleng.


"Kita ini lahirnya sama, gak ada istilah langkah melangkahi. Kakak ikhlas lahir batin" Adel berdiri dan memeluk kakaknya.


"Ya sudah, Adel mau mandi dan siap-siap calling sama Abang" Aylin mengangguk.


"Kakak juga mau mandi" Adel keluar dari kamar Aylin dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Aylin pun melakukan hal yang sama.


Selesai mandi Aylin mengeringkan rambutnya, ponselnya berdering, sebuah panggilan video masuk. Ia segera meraih hijabnya dengan senang. Hatinya berdesir kembali. Ia menstabilkan emosinya terlebih dahulu lalu mengangkat panggilan video itu.


"Assalamualaikum" sapa Aylin


"Waalaikum salam, ehm... udah tidur Ay?" tanya Imam dari seberang. Terdengar gelak tawa Ilyas yang tertawa mendengar panggilan Imam untuk Aylin.


Baru beberapa jam ketemu, udah manggil Ay aja lu Mam!


"Ay itu kependekan namanya Aylin. Sono ah lu balik asrama lu! Gak kangen apa sama bos lele?" Usir Imam pada Ilyas. Akhirnya Ilyas pamit.


"Maafin ada pengganggu, hidupnya memang begitu, selalu jadi pengganggu" kata Imam. Aylin tersenyum mendengarnya.


"Lagi apa Mas?" tanya Aylin. "Lagi video call sama kamu" jawab Imam lugas. Aylin tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Imama. Aylin hanya menggeleng. "Kamu udah makan belum?" tanya Imam. Aylin menggeleng lagi.


"Mau aku pesenin makanan ke rumah?" tanya Imam lagi. Aylin menggeleng lagi. "Gak usah, udah malam juga kok, malas mau makan. Kamu sendiri udah makan mas?"


"Sudah tadi sama pasangan bucin tuh. Tahu gak sih, mereka tuh selalu pamer kebucinan di depan aku"


Aylin tertawa. "Kamu asli mana Mas?"


"Sleman. Minggu depan Mas dapat IB. Mau gak ikut Mas pulang ketemu emak dan bapak?" Aylin sedikit terkejut dengan ajakan Imam. Secepat itukah? Pikirnya.


"Kok lama jawabnya? Gak mau ya?"


"Bukan gak mau sih, lebih ke kaget aja"


Imam tersenyum. "Kan Mas pengennya nyari istri bukan nyari pacar. Makanya, kalau kamu memang mau Mas ajak serius ya ayo.... Mas ini sudah waktunya berkeluarga, mencari tambatan yang terakhir"


Aylin diam dan berpikir. "Ya sudah, gak usah bahas itu dulu. Kamu lagi ngapain?" tanya Imam.


"Lagi duduk" jawab Aylin lugas membalas jawaban Imam. Imam tertawa mendengarnya. Aylin menikmati tawa itu dengan hati berdesir. "Duduk dimana?" tanya Imam.


"Dihatimu...." jawab Aylin menggoda Imam. Imam kembali tertawa. "Ih gantengnya kalau lagi ketawa" puji Aylin.


Imam menghentikan tawanya. "Gak mau ketawa lagi lah kalau gitu"


"Ih kenapa? Cakep tahu Mas" Imam tak kuasa menahannya. Ia akhirnya tertawa lagi. Hati Imam berdesir hebat saat digoda oleh Aylin.


"Mas, tahu gak aku tuh gak suka sama yang nyusun huruf alfabet"


"Karena memisahkan I dengan U" kata Aylin. Imam kembali tertawa. "Pinter gombal ya?" kata Imam.


Aylin tertawa mendengarnya. "Ay, kamu tahu bedanya kamu sama ikan?"


"Hmm? Apaan?"


"Jawablah" kata Imam. "Gak tahu Mas, memang apaan?"


"Kalau ikan tuh bikin amis, tapi kalau kamu bikin I miss you.... hahahaha" Aylin tertawa mendengarnya.


Mereka tiba-tiba sama-sama diam. "Besok pulang dari klinik jam berapa?" tanya Imam.


"Jam 8 malam. Kenapa?"


"Mas jemput mau?" Aylin senang bukan main mendapat perhatian dari Imam. "Terus mobil ku?"


"Ya gak usah pakai mobil lah. Besok mas jemput. Boleh?" Aylin mengangguk.


"Besok Papah dan Mamah kamu ada di rumah gak?" tanya Imam lagi.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Mau izin mendekati anaknya" Aylin menahan senyumnya. Baru kali ini, ada seorang pria, yang tanpa ia suruh, langsung berani menemui orang tuanya.


"Papah nakutin lho Mas"


"Gak papa, lebih nakutin lagi kalau kamu yang ninggalin Mas" Mereka kembali tertawa. "Ya sudah. Besok jemput di klinik jam 8 ya? Nanti aku bilang sama Papah dan Mamah"


Imam mengangguk. "Papah sama Mamah sukanya buah apa? Atau makanan apa?"


"Gak usah bawa apa-apa. Ngrepotin nanti"


"Siapa bilang? Gak, gak ngrepotin" Aylin tersenyum lalu menguap. Imam memperhatikannya.


"Kalau nguap ditutup neng mulutnya" Imam mengingatkan Aylin.


"Eh, astaghfirullahal 'adzim. Maaf" Imam menggeleng.


"Gak perlu minta maaf, Mas cuma ngingetin doang. Ya sudah kalau ngantuk bobok gih. Mas juga besok harus latihan tembak"


Aylin mengerutkan dahinya. "Latihan tembak?" Imam mengangguk. "Latihan nembak hatimu biar mau jadi pendamping hidup Mas selamanya..... hahahahhaha"


Aylin tertawa mendengar gombalan Imam. "Perutku sakit gara-gara ketawa terus"


"Seneng?" tanya Imam. Aylin mengangguk. "Makasih ya udah bikin aku ketawa lagi"


"Sama-sama"


"Emmmm.... Mas, yakin mau ngajak aku ketemu sama orang tua kamu?" Imam mengangguk.


"Kan Mas sudah bilang, maunya langsung serius, gak mau main-main. Gimana?" Aylin mengangguk. "Aku mau" jawabnya singkat dengan pipi merona merah.


Imam tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, Ia melompat-lompat kegirangan hingga siku nya terkena tembok. "Awww"


Aylin tertawa. "Cerobohnya kayak Adel deh. Ya sudah, aku.... tidur dulu ya?" Imam mengangguk. "Selamat malam Ay, assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab Aylin. Ia tersenyum dan menyimpan ponsel di dadanya. "Semoga memang kamu pelabuhan terakhirku Mas. Aamiin"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Udah mulai kerja ya gaes.... jadi slow up. Yang pada punya utang puasa, buruan dibayar.... othor udah nyicil 2 nih


__ADS_2