
Hari berlalu tanpa terasa. Bulan pun berganti menyambut bulan baru. Adel semakin bahagia menantikan hari itu. Melingkari hari bakal peetemuannya dengan orang sangat amat dirindukannya. Yang selalu membuatnya semangat meski tak berada di sampingnya. Ilyas adalah alasan Adel harus selalu bahagia. Adel tak ingin mengecewakan Ilyas dengan terus menangis karena menahan rindu.
Mereka sama-sama melalui proses yang ada. Memupuk rasa rindu menjadi sebuah rasa sabar yang akan segera terbayar.
"Mah, Pah, Adel berangkat ke empang dulu. Ada pesenan lele yang harus diantar ke Sleman. Pesanan dari temennya Mas Imam"
Papah Duta dan Mamah Laras mengangguk. "Hati-hati ya nak" Adel mengangguk dan menyalami kedua orang tuanya yang sedang sarapan.
Ia bertemu Imam di depan yang sedang memberi makan burungnya. "Woy! Burung terus diurusin! Burungmu diasah biar gua cepet dapat ponakan!"
"Hahahahah, gak usah kamu ngajari Mas! Belum tahu kamu?? Aylin sudah 2 bulan telat! Weeeeekkkkk" Imam menjulurkan lidahnya persis seperti anak kecil yang sedang main ledek-ledekan.
Adel terheran dan segera masuk ke rumah kembali. "Ada yang ketinggalan?" teruak Mamah Laras. Adel diam tak menjawab. Ia berlari menuju kamar Aylin. Masuk tanpa permisi.
"Astaghfirullah Adellll...... ketuk dulu ngapa!" kata Aylin yang masih diranjangnya tanpa busana. Adel sampai tak percaya melihatnya.
"Kamu hamil Lin?"
"Yang sopan kamu!"
"Iya maaf, kamu hamil kak?" Aylin mengangguk. "Papah dan Mamah sudah tahu??" Aylin menggeleng.
"Del, daripada kamu cerewet begini, tolong belikan degan hijau. Sumpah, Kakak gak bisa bangun kalau belum minum air itu"
"Ck, gak bisa! Adel harus segera ke Sleman, nganterin pesenan lele"
Aylin menjadi sedih. "Tega tante mu bikin kamu ngiler nak!"
"Mulai deh dramanya. Oke, Adel belikan. Pakai baju dulu sono! Eh, lu habis begituan ya sama Mas Imam??"
Imam masuk membuat Adel terkejut. "Bukan urusan anak kicik! Buruan sana keluar. Mas mau ngasah burung Mas seperti saran kamu!"
"Weh! Minta dikerjain ini orang! Awas kalau sampai kenapa-kenapa sama ponakan gua!"
Aylin dan Imam tertawa. "Kakak ngerasa sesak dek kalau tidur pakai baju. Makanya begini" jelas Aylin. Adel segera keluar dari kamar, dan seperti biasa, dia jatuh di anak tangga terakhir.
"Astaghfirullah Adel.... kamu nih ya!" kata Papah Duta.
"Pah, Mah, anak kalian bunting!"
"Ha? Ooohhh" jawab Papah Duta dan Mamah Laras. "Kok oh doang sih!"
"Ya harus gimana? Kami sudah tahu dari Imam kemarin" Jawab Mamah Laras.
__ADS_1
"Pah, beli degan pagi begini dimana?"
Imam turun masih makai sarung dan kaos. "Biar Mas aja yang cari. Kamu anterin lele saja. Soalnya buat jam 12 Del"
"Wokeh siap Ndan! Hahaha" Adel segera pergi meninggalkan rumah. Imam mencari yang diinginkan istrinya.
Saat sedang membeli degan, ponsel Imam berdering.
"Halo, Assalamualaikum" Imam mematung mendapatkan panggilan itu.
.
Dua hari setelah Imam menerima telpon itu, dirinya bersama Aylin dan Adel berada di Batalyon. Imam akan ikut pelatihan untuk mengembangkan kemampuannya menggunakan alusista, di Sumatera.
Aylin menyuruh Adel untuk membelikannya roti di kantin Batalyon. "Nanti beli di luar saja lah" elak Adel.
"Kakak lapernya sekarang dek"
"Hadeh..... Bumil satu ini manja bener!"
Imam dan Aylin hanya tertawa mendengarnya. Adel berjalan menuju kantin batalyon. Aylin dan Imam masih menunggu di mobil.
"Servis Mas bentar bisa kah sayang??" tanya Imam. Aylin tertawa. "Tapi pelan saja ya Mas, ingat kata dokter, boleh, asalkan tidak setiap hari, ditakutkan nanti bisa......"
"Iya" jawab Aylin tersenyum. Imam memastikan keadaan sekitar aman. Lalu mulai melancarkan aksinya. Sedikit cumbuan yang membuatnya berhasil mabuk kepayang.
Imam menghentikan ciuman panas itu. Dirinya takut jika nanti meminta yang lebih dari itu. "Sudah puas?" tanya Aylin.
"Gak akan peenah puas kalau menyangkut kamu"
Aylin tertawa mendengarnya. Seseorang mengetuk pintu mobil. "Assalamualaikum" sapanya.
"Waalaikum salam" Aylin sampai tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ilyas!"
"Hai kakak ipar.... calon ponakanku gak diapa-apain kan sama dia??"
Imam keluar dari mobil dan meninju perut Ilyas. Lalu berpelukan. "Gantian jagain semuanya, gua tugas dulu!" kata Imam
"Oke siap! Adel dimana?"
"Kantin" Aylin bersiap menelpon Adel. "Kak jangan dikasih tahu dulu. Ilyas mau buat kejutan untuk dia. Besok Ilyas mau temui keluarga kalian. Ilyas mau langsung melamar dia"
Aylin tersenyum senang mendengarnya. "Oke kalau begitu"
__ADS_1
Terdengar panggilan bagi yang akan berangkat pelatihan harus berkumpul di lapangan. "Aku cabut dulu. Takut ketahuan. Hehehe"
Ilyas pamit kembali ke asramanya. Aylin bersama Imam menuju ke lapangan. Sementara Adel masih harus berjalan dari kantin batalyon yang letaknya cukup jauh untuk kembali ke mobil.
"Mas berangkat dulu ya? Jangan nyetir sendirian. Jaga kesehatan selama Mas tinggal tugas. Makan teratur dan bergizi"
Aylin mengangguk. "Bawelnya suami aku" Imam menangkup wajah Aylin lalu mengecup keningnya. Lalu mengecup perut Aylin. "Anak Bapak, jagain Ibu ya?"
Aylin menyalami Imam. "Hati-hati ya Mas. Kamu juga disana jaga kesehatan. Jangan telat ibadahnya. Jaga ini untuk aku dan anak kita" Aylin menunjuk dada Imam.
"Insyaallah. Nanti Mas kabari kalau sudah sampai" Aylin mengangguk. Ia mencoba tegar karena ini pertama kali bagi dirinya ditinggal tugas setelah mereka menikah.
Adel berjalan dengan santai. Saat dirinya sedang menyenandungkan lagu, dirinya sekelebat melihat sosok lelaki yang sangat ingin dia temui. Adel mengucek matanya. Takut jika dia berhalusinasi. Ia berjalan agak cepat ke arah lelaki tadi lewat. Berputar mencari keberadaan sosok lelaki itu.
Hatinya bergetar. Rasa rindunya membuncah. Dia ingat betul jalan menuju asrama itu. Dia memantapkan hatinya. Sambil melihat kalender di ponselnya. "Harusnya kan seminggu lagi. Apa aku salah lihat?"
Dadanya terasa sesak. Sulit mengutarakan apa yang dia rasa saat ini. Hingga membuatnya menangis dalam perjalana. menuju asrama itu. "Kalau beneran dia, awas saja nanti! Aku beri pelajaran karena bohong sama aku! Hiks...."
Dia berjalan semakin dekat dengan asrama itu. Langkahnya semakin berat untuk melangkah. Kini, dirinya sudah berdiri di depan pintu asrama itu. Air matanya semakin deras. Takut, jika itu hanyalah halusinasinya saja akibat rindunya yang tak terbendung.
Tangannya mencoba mengetuk pintu asrama itu. Kembali mengurungkannya. Ingin berbalik meninggalkan asrama itu. Namun, langkahnya tertahan dengan rasa keingintahuannya. Akhirnya dia mencoba mengatur emosionalnya. Menghela nafas dan mengetuk pintu itu.
"Ya sebentar" jawab seorang laki-laki dari dalam asrama itu.
Telinga Adel tak mungkin salah dengar. Ada yang menjawab ketukan pintunya dari dalam. Jantungnya kini berdesir hebat.
Ceklek
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Pasti manti banyak yang ngehujat othorrr... Hahahaha. Othor suka bikin kalian pinisirin.
__ADS_1