
Hari ini Alena sibuk menyiapkan bekal untuk Devin dan Kaendra. Karena hari ini Alena tidak bisa datang ke kantor Devin, jadi Alena membawakan bekal sekalian, sedangkan Kaendra hari ini pulang sore karena dia harus ikut les. Alena memang sengaja mendaftarkan Kaendra untuk les beberapa bahasa dan juga pelajaran yang dia tidak bisa walau pun kenyataannya Kaendra bisa menguasai semuanya.
“Sayang,” panggil Devin.
Alena pun menoleh pada suaminya, dia juga tersenyum. “Ya, sayang. Ini aku bawakan kamu bekal karena nanti siang aku akan menjemput Jenny ke bandara,” ucap Alena.
“Jenny sahabat kamu?” tanya Devin.
Alena hanya mengangguk, lalu berjalan mendekat pada Devin dan berjinjit lalu mencium bibir Devin dengan sekilas dan tentunya itu membuat Devin kaget. Akan tetapi Alena hanya tersenyum, lalu mengambil bekal Devin dan Kaendra, Alena membawanya sekalian mengantarkan ke depan karena Devin dan Kaendra sudah mau berangkat.
“Sayang, kamu curang,” keluh Devin.
“Tidak, karena kamu juga biasanya begitu jadi kita satu sama,” ucap Alena.
Devin hanya menghela nafas, lalu dia berpamitan pada Alena dan tidak lupa juga dia mencium kening Alena dengan sayang, setelah itu Devin masuk ke dalam mobil dimana Kaendra sudah menunggu di dalam. Saat mobil Devin melaju Alena melambaikan tangannya dan di balas ileh Kaendra. “Mereka sungguh mengemaskan bukan,” ucap Alena pelan, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah.
Alena juga membereskan beberapa alat masaknya yang kotor tadi dengan di bantu oleh pelayan, dan tidak lama kemudian Alice datang. “Eonni, hari ini aku enggak masuk kantor dulu ya, katanya paman hari ini datang ke kantor,” ucap Alice.
“Benarkah? Tidak biasa appa datang ke kantor, lalu siapa nanti yang akan menghandel semuanya Alice kalau kamu tidak masuk?” tanya Alena.
“Benar juga, kalau begitu aku segera mandi dan berangkat ke kantor,” ucap Alice lalu berlari menuju kamarnya, sedangkan Alena menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah laku Alice.
__ADS_1
“Hah! Ada-ada saja Alice,” ucap Alena, sambil mencuci piring.
Kini Alena menuju bandara dengan mengendara mobil sendiri tanpa sopir, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jenny. Sudah beberapa tahun dia juga tidak memberikan kabar pada Jenny dan kini dia akan bertemu kembali pada sahabatnya itu. Bahkan Jenny juga bilang jika dia datang ke sini tidak sendirian, dia bersama dengan Lionel dan Katty sahabatnya dulu kerja. Sungguh Alena sudah tidak sabar bertemu dengan mereka dan merayakan kedatangan mereka di Seoul, dia juga sudah memesan tempat privat untuk merayakannya.
Sampai di bandara Alena di sambut oleh Jenny dan yang lainnya, baik Jenny dan Katty mereka saling berpelukan, bahkan Lionel hanya bisa melihat kebahagiaan ketiga sahabat itu. “Aku sangat merindukan kalian,” ucap Alena.
“Hm, sudah belum berpelukannya,” ucap Lionel mengganggu moment mereka.
Saat itu juga Jenny mendengus kesal. “Baby, bisa tidak kamu tidak mengganggu moment bahagia ini,” ucap Jenny.
Katty dan Alena hanya tertawa melihat ke dua pasangan yang sedang bertengkar, dan setelah itu Alena langsung mengajak mereka pergi ke suatu tempat agar mereka juga bisa istirahat. Alena tahu bahwa perjalanan menuju ke sini sangatlah jauh dan mereka pasti juga sangat lelah. Kali ini yang menyetir mobil Lionel, padahal Alena sudah memperingatinya tidak usah akan tetapi tetap saja Lionel ingin menyetir mobil dan tugas Alena hanya memberi tahu jalan.
“Bagaimana pernikahan kamu dengan Devin?” tanya Jenny.
“Syukurlah kalau begitu, aku sangat senang mendengarnya dan kapan kalian akan punya anak lagi buat teman Kaendra?” tanya Jenny.
“Entahlah, lagi proses,” ucap Alena, baik Jenny dan Katty hanya menganggukan kepalanya.
Sampai di hotel Alena langsung mengajak mereka masuk ke dalam, namun sebelum itu Alena mengambil kartu untuk masuk ke dalam mereka nantinya. Hotel ini miliknya dan dia juga bebas menggunakannya, Alena memberikan dua kartu untuk Jenny dan Lionel.
“Jadi? Aku suruh tidur sendirian?” tanya Lionel saat memasuki lift.
__ADS_1
Baik Alena, Katty, dan Jenny menoleh ke arah Lionel yang tatapannya kini ke arah Jenny. “Aku tidak mau tidur sendiri, aku mau satu kamar dengan kamu dan satu kartu ini untuk Katty. Jadi maaf Katty kamu tidur sendiri ya,” ucap Lionel.
“Aku tidak masalah, tapi masalahnya Jenny mau atau tidak kamu tidur bersama dengannya,” ucap Katty.
Ting ... bunyi lift terbuka dan mereka pun langsung keluar. “Jadi bagaimana baby?” tanya Lionel lagi.
“Baiklah, lagi pula aku juga tidak punya pilihan lagi, kamu itu pemaksa,” ucap Jenny.
Alena dan Katty hanya tertawa, bahkan mereka berdua sampai di tatap tajam oleh Jenny. Sampai di dalam kamar Katty merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Rasanya sangat nyaman, padahal dulu aku berpikir tidak akan pernah ke sini. Aku juga takut jika aku pergi ke sini akan bertemu dengan mantanku,” ucap Katty.
Alena yang duduk pun kini pandangannya beralih pada Katty. “Benarkah? Siapa mantan kamu Katt, karena dulu kamu selalu merahasiakan padaku,” ucap Alena.
“Evan namanya, dia pintar, baik, dan segalanya. Tapi sayangnya hubungan kita harus berakhir,” ucap Katty.
“Kenapa?”
“Karena kita berdua sudah tidak ada perasaan lagi, dan kita memutuskan untuk menyudahinya saja, pekerjaan Evan yang sibuk dan kita menjalani hubungan jarak jauh membuat kita jarang memberi kabar,” ucap Katty tersenyum.
Alena hanya mengangguk. “Aku harap kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik lagi Katt,” ucap Alena.
“Tentu saja,” ucap Katty. Karena perpisahannya dengan Evan bukanlah akhir dari segalanya, di dunia ini masih banyak lelaki dan dia juga bisa mencari yang terbaik untuknya. Mungkin dirinya dan Evan bukan jodoh, jadi dia tidak akan pernah menyesalinya.
__ADS_1
Walau pun hubungan mereka sudah lebih jauh dari sepasang kekasih, namun di negara mereka sudah hal wajar dan mereka juga melakukannya suka sama suka tanpa ada pemaksaan sama sekali. Baginya kini sendirian tidak masalah karena itu bukan masalah yang berat, bahkan dia juga jauh lebih bebas dan bahkan dia juga bisa bercinta dengan lelaki lain, tidak masalah walau pun hanya ons itu sudah jauh menghiburnya untuk melupakan Evan.