Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Katty dan Gladwin


__ADS_3

“Ahh, sstts, Glad,” ucapku.


“Yeah, baby kenapa? Apa aku menyakitimu?” tanya Gladwin


Aku hanya menggelengkan kepala dan menikmati setiap permainan yang kita ciptakan, entah aku sudah keluar berapa kali. Akan tetapi kami berdua terus melakukannya lagi dan lagi, sentuhan Glad yang membuatku mudah menaikkan gairahku.


Bahkan kami juga tidak peduli dengan sekitarnya, aku tahu jika di pavilion ini hanya di tutup oleh kain jika tertiup angin maka akan mudah terbuka dan memperlihatkan kami berdua apa yang sedang kita lakukan. Tapi itu tidak membuat kami takut atau yang lainnya, karena memang kami sedang mengejar kenikmatan satu sama lain, bahkan berbagai gaya kami lakukan semuanya.


“Arrggh! Sial, kenapa milikmu begitu nikmat baby,” racau Gladwin yang kini semakin mempercepat permainannya.


Sampai akhirnya kami pun keluar bersama, kami berdua langsung istirahat, namun Glad juga memelukku dengan erat. Entah kenapa aku juga sangat menyukainya, dan saat itu juga aku langsung memejamkan mataku.


Pagi harinya aku terbangun lebih dulu, aku harus segera pergi karena aku sudah terlambat untuk bekerja, bisa jadi nanti aku akan kena marah Devin. Tanpa membangunkan Gladwin, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berpakaian, tidak lupa aku juga menuliskan pesan untuk Gladwin di kertas, aku tidak tega membangunkannya karena dia tertidur dengan pulas.


Untuk menuju kantor aku pergi menggunakan taksi karena jujur saja takut telat sampai kantor, bahkan aku juga meminta tolong pada Evan untuk membawakanku baju formal, karena yang aku kenakan saat ini baju santai.

__ADS_1


“Arrhgh! Sial, kenapa aku bisa bangun kesiangan,” ucapku pelan.


Sungguh aku sangat merasa tidak sopan meninggalkan Gladwin di saat dia masih tidur, namun dia juga melakukannya dengan terpaksa, aku memijit keningku yang sedikit pusing, sungguh jika ini hari libur maka aku akan kembali tidur lagi.


“Ini baju yang kamu minta,” ucap Evan, dimana dia sudah datang lebih dulu dan menungguku di lobby.


“Thank you Van, aku enggak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada kamu,” ucapku.


Evan menghela nafas panjangnya dan menatapku sejenak, lalu berkata, “Memangnya kamu semalam tidur dimana? Apa kamu tidur di luar bersama lelaki lagi?”


“Kenapa? Apakah menyenangkan melakukan one night stand bersama dengan lelaki yang berbeda setiap harinya?” tanya Evan.


Akan tetapi aku tidak menjawab sama sekali pertanyaan Evan, aku lebih baik diam. Entah kenapa aku melakukan itu? Karena mungkin hanya untuk menghilangkan perasaanku pada Evan.


“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku Katt? Apa aku salah bertanya, baiklah, kalau begitu aku minta maaf. Namun aku harap ini yang terakhir kalinya dan selanjutnya juga tidak akan terjadi lagi,” ucap Evan, saat itu juga bertepatan denga pintu lift terbuka. Evan keluar lebih dulu, dia jalan lebih dulu tanpa menoleh ke arahku lagi. Aku pun berjalan pelan sambil menatap punggung Evan, aku ini kenapa? Padahal kami berdua berpisah dengan baik-baik dan seharusnya aku sudah bisa melupakannya.

__ADS_1


Aku pun langsung menuju toilet untuk segera menganti bajuku sebelum Devin datang, tidak lupa aku juga menggosok gigi dan bermake up. Aku memasukkan baju yang aku kenakan tadi ke dalam paper bag, ternyata Evan memang selalu pandai memilih baju sedari dulu, sangat elegan dan pas ditubuhku.


“Ok, siap. Saatnya untuk bekerja Katt, semangag,” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Waktu terus berjalan hingga tiba waktunya makan siang, aku masih di meja kerjaku, sedangkan Devin dan Evan sudah lebih dulu pergi untuk makan siang, tadinya aku diajak namun aku menolaknya karena aku ingin makan di kantin kantor saja. Tiba-tiba saja saat aku ingin mengambil hpku dari tas saat itu juga ada yang meneleponku, dan itu Gladwin, aku segera mengangkat telepon darinya.


“Hallo, Gald,” ucapku.


“Kenapa kamu meninggalkan aku Katt, dan kamu tidak membangunkan aku, kenapa kamu menulis pesan bukan bangunkan aku,” ucap Gladwin dari seberang telepon.


“Hm, maafkan akau Glad, tadi aku sangat buru-buru sehingga aku tidak sempat membangunkan kamu karena kamu tidur dengan pulas, jadi aku tidak tega membangunkan kamu,” ucapku menyesal.


Baiklah, lain kali jangan begitu. Nanti pulang kerja aku akan menjemputmu dan nanti kamu kirimkan saja alamat tempat kerja kamu dan satu lagi aku tidak mau di tolak,” ucapnya.


Aku tersenyum kecil, walau Gladwin tidak mengetahuinya. Entah kenapa aku juga sangat bahagia saat Gladwin akan menjemputku. “Baiklah, kalau begitu nanti akan mengirimkannya, aku akhiri ya. Aku akan makan siang lebih dulu dan kamu jangan lupa makan siang,” ucapku, dan saat itu juga aku langsung meatikan teleponnya. Aku juga bergegas untuk turun ke bawah, aku akan menuju kantin untuk segera makan siang. Hari ini aku akan makan salad sayur dan beberapa buah-buahan saja.

__ADS_1


__ADS_2