
Alena menjalani harinya dengan di sibukkan oleh pekerjaan di perusahaan, terkadang untuk bermain dengan Kaendra saja tak bisa karena dirinya selalu pulang larut malam dan Kaendra sudah tertidur.
Seperti malam ini Alena harus pulang larut malam lagj karena harus lembur.
“Nona apa tak sebaiknya nona pulang dan di lanjutkan besok pagi saja,” ucap Kalista sekretaris baru Alena.
“Tidak Ta, aku harus selesaikan malam ini juga, biar besok ganti dengan yang lainnya,” ucap Alena yang sibuk dengan berkas – berkasnya.
“Baik nona, kalau begitu biar saya buatkan kopi untuk nona,” ucap Kalista sambil membungkukkan badannya, lalu keluar ruangan meninggakan Alena sendiri.
Alena memang ingin membuat perusahaan appanya lebih terkenal ke luar negera lain sehingga banyak menjalin kerjasama.
Kalista kembali masuk ke dalam ruangan Alena dengan membawakan secangkir kopi lengkap dengan camilan ringan.
“Terima kasih Ta, kamu boleh pulang duluan,” ucap Alena sambil tersenyum.
“Apa tak sebaiknya aku menemani nona,” ucap Kalista yang masih berdiri di depan Alena.
“Tak usah, lebih baik kamu kembali pulang lebih dulu, besok kamu juga harus masuk pagikan,” ucapnya.
“Iya nona, kalau begitu aku kembali pulang, nona tak apa – apa?” tanya Kalista.
“Nggak apa – apa Ta,” ucap Alena yang masih mengukir senyumnya di bibir.
Kalista pun bergegas keluar ruangan Alena untuk ke ruangannya dan bersiap untuk pulang. Sedangkan Alena kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk.
__ADS_1
**
Di tempat lain Devin sedang bersantai di ruangannya sambil memperhatikan foto Alena yang terpajang di meja kerja Devin.
“Na bagaimana dengan kabar kamu sekarang, sampai sekarang aku juga belum bisa melihatmu,” ucapnya.
Mungkin kali ini Devin akan berusaha keras untuk tahu keberadaan Alena, sudah sekian lama Devin sangat merindukannya dan ingin sekali bertemu.
“Tunggu aku sayang, aku pasti akan mendapatkan hatimu,” ucap kembali Devin sambil menatap keluar menatap pemandangan siang di Hamburg.
Tokk tokk tokk
“Masuk,” ucap Devin teriak dari dalam ruangannya.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Evan yang sedang berjalan mendekat ke Devin.
“Baik, Evan apa saya masih punya jadwal hari ini?” tanya Devin menatap Evan.
“Tidak tuan,” ucapnya sambil melihat notebook yang biasa Evan bawa untuk mencatat jadwal tuannya.
Daren hanya mengangguk mengerti sambil membuka berkas satu per satu untuk melihatnya.
“Evan tolong mulai saat ini jangan ada yang boleh masuk ke ruangan saya, saya tidak ingin di ganggu dan kamu juga bisa keluar sekarang, jikq nanti saya butuh kamu makan akan aku hubungi kamu,” ucap Devin.
Evan pun mengangguk dan segera keluar ruangan Devin, Evan tak lupa menutup pintunya kembali dan segera bergegas ke ruangannya.
__ADS_1
Devin kembali melemparkan berkas itu ke mejanya karena muak melihat berkas setiap hari hanya untuk bisa melupakan pikirannya sejenak namun tetap saja Alena selalu memenuhi pikirannya.
“Hah! Sial! Bagaiman bisa aku memeriksa berkas ini jika aku tak bisa berkonsentrasi,” ucap Devin secara keras.
“Alena sebenarnya kamu itu tinggal di negara bagian mana hah! Sampai saat ini aku seperti orang bodoh,” ucapnya kembali.
Devin berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada ruang kantornya. Devin merebahkan badannya untuk istirahat sejenak.
Drzztt drrzztttt
Bunyi hp Devin mengagetkannya dan mau tidak mau Devin harus melihat siapa yang menelponnya.
“Hallo,” ucap Devin sambil menempel hpnya di telinganya.
“Tuan ini saya, saya hanya mau kasih info ke tuan bahwa nona Alena sudah kembali ke Seoul dan sekarang nona Alena menggantikan appanya di perusahaan milik appanya,” ucap anak buah Devin dari sebrang telepon.
“Apa aku tak salah dengar dengan apa yang kamu bicarakan tadi?” tanya Devin kembali memastikan.
“Tidak tuan, saya sudah mengawasinya beberapa hari ini dan itu benar nona Alena,” ucapnya kembali.
“Baiklah, tetap awasi saja dari kejauhan,” ucap Devin lalu mematikan panggilan teleponnya sepihak.
Devin meletakkan hpnnya di ranjang dan bibir mengukir senyum betapa senangnya apa yang di nanti selama ini akhirnya kini memuahkan hasil.
Akan tetapi Devin tak ingin buru – buru menemui Alena, Devin harus menyusun rencana agar dirinya bisa bertemu langsung dengan pujaan hatinya itu.
__ADS_1
“Akan aku pastikan kita akan segera bertemu sayang,” ucap Devin lalu mengambil hpnya dan menaruhnya di kantong saku celana.
Devin berjalan keluar dan duduk di kursi kebesarannya untuk kembali mengecek berkas kerjasama dengan klien – kliennya. Devin juga tak lupa untuk mengabari Evan agar membuat berkas kerjasama dengan perusahaan yang Alena pimpin.