
Tujuanku ke sini adalah untuk bertemu dengan klien dan liburan namun klien yang aku temui adalah Devin, dimana dia yang sudah merencanakan ini semuanya dan aku memang tak tahu akan hal ini. Ya, sudahlah di sinilah hubunganku dengan Devin kembali lagi dan bahkan kita juga sudah merencanakan pernikahankita berdua, dan di sinilah aku sudah memikirkan semuanya jika ini sudah menjadi pilihanku. Saat tadi pagi aku dan Devin kembali ke villa dimana Kaendra dan Alice di sini, saat ini aku sedang berduduk santai sambil menikmati acara tv sedangkan yang lainnya pergi entah kemana bersama dengan Evan, namun yang aku benci di sini Devin tak ikut bersama dengan mereka bahkan dia malah dekat-dekat denganku.
“Hah! Devin bisa enggak kamu enggak terlalu dekat seperti ini, di samping kamu masih luas,” ucapku.
Namun sepertinya Devin tak mendengarkannya dan asik dengan ipad dan pekerjaannya, aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menatap Devin ingin sekali aku menjedotkan kepalanya ke tembok tapi bagaimana jika Devin mati atau hilang ingatan yang ada pernikahan mereka bisa gagal. Aku kembali fokus dengan melihat acara tv namun sesekali tangan Devin juga sangat usil hingga akhirnya aku menjewer kupingnya tanpa ampun bahkan Devin sampai mengadu kesakitan.
Akh! Sayang sakit tahu kenapa kamu jewer kuping aku?” tanyanya sambil menatapku sedangkan aku hanya tersenyum lalu menatapnya dengan tajam.
“Ini karena salah kamu Devin, lagi pula suruh siapa yang mesum. Kamu enggak bisa apa sehari saja enggak berpikiran mesum,” ucapku.
Namun lagi-lagi Devin hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada ipadnya kembali, mungkin aku harus banyak bersabar jika dekat dengan Devin. Setelah itu aku mematikan tv dan beranjak dari dudukku, aku berniat untuk membuat makan siang karena aku sangat lapar sedangkan tadi Evan memberi kabar jika mereka akan makan siang di luar, dan di villa ini hanya aku dan Devin mau tidak mau aku harus memasak.
“Mau kemana kamu sayang?” tanya Devin, sedangkan aku menghentikan jalanku dan menoleh ke belakang.
“Kedapur mau masak buat makan siang,” ucapku. Lalu setelah itu aku benar-benar meninggalkan Devin sendirian. Biarlah dia sibuk dengan ipadnya dari pada menganggukku ingin rasanya aku kunci Devin di kamar saja biar enggak kemana-mana.
Namun baru aku mau mengeluarkan bahan-bahan masakannya kali ini Devin sudah memelukku dari belakang, dan ini yang sangat aku tidak suka Devin selalu saja dengan sikap sesuka hatinya bagaimana jika nanti ada yang tahu, bagaimana jika nanti Kaendra datang tiba-tiba walau aku tahu itu tak akan terjadi karena memang Kaendra di ajak pergi Evan dan aku juga enggak tahu akan datang kapan.
__ADS_1
“Devin bisa enggak sih kurangi mode mesum kamu. Aku sudah sangat lapar dan aku ingin memasak,” ucapku, dan saat itu juga Devin melepaskan pelukannya.
“Biar aku bantu saja bagaimana?” tanyanya.
Aku menatap Devin sejenak dan sedikit berpikir lalu aku mengangguk, dan Devin memang benar-benar membantuku namun dia juga sangat usil dan masih dengan mode mesumnya sesekali dia memelukku bahkan dia juga meremas bukit kembar milikku, rasanya aku ingin memukul Devin dengan wajan yang sedang aku gunakan untuk memasak ini.
Tak butuh waktu lama masakan yang aku buat sudah jadi dan ya, kami berdua makan siang bersama dan Devin juga terlihat sangat lahap sekali makannya. “Bagaimana tuan makannya? Apa sudah kenyang atau mau nambah lagi?” tanyaku namun Devin menggelengkan kepalanya jika dia juga sudah sangat kenyang sedangkan aku hanya tersenyum tipis, lalu aku beranjak dari dudukku dan membereskan semuanya. Sedangkan Devin masih duduk sambil menatapku.
“Apa kamu mau aku buatkan kopi kesukaan kamu Dev?” tanyaku akan tetap Devin menggelengkan kepalanya.
“Baiklah kalau kamu enggak mau,” ucapku, setelah membereskan semuanya aku mengambil buah-buahan yang ada di kulkas lalu mencucinya dan memotongnya. Aku menaruhnya di mangki tidak banyak hanya sedikit saja aku membawanya dan duduk di samping Devin sambil memakan buah-buahan segar yang aku bersihkan tadi.
“Sayang, besok kembali ke Seoul ya,” ucapnya tiba-tiba.
“Kenapa? Padahal aku masih ingin di sini,” ucapku sambil memasukkan buah kedalam mulutku.
“Aku enggak mau kamu dan Kaendra ada di sini sendirian. Aku akan tetap mengajakmu kembali ke Seoul, aku ada pekerjaan penting yang enggak bisa aku tinggalkan jadi harus kembali,” ucapnya.
__ADS_1
Aku menghela nafas dan menatap Devin sejenak, “Tapi kita datangnya ke sini sendiri-sendiri Dev,” ucapku.
“Ya, aku tahu dan aku juga enggak mau kamu membantah perkataanku dan kamu harus nurut sama suami kamu,” ucapnya dengan bangga.
“Tapi kita belum menikah,” celetukku namun dengan tiba-tiba Devin membawa tubuhku ke pangkuannya dan menciumku dengan sangat rakus, setelah itu dia juga mengusap bibirku dengan menggunakan jempol tangannya.
“Kenapa selalu melakukannyua tiba-tiba hm,” ucapku.
Devin tersenyum miring, “Karena kamu maunya begitu sayang dan kamu juga sangat jual mahal jadi lebih baik aku melakukannya dengan tiba-tiba dan nantinya kamu juga akan menikmati permainanku bukan? Oh, iya. Jika nanti kita sudah menikah kamu mau kita honeymoon kemana aku ingin memiliki anak lagi dari kamu biar Kaendra ada temannya,” ucapnya.
“Kenapa kamu sudah berpikir sampai honeymoon Devin, kita saja baru mau merencanakan pernikahan kita tapi kamu sudah memikirkan mau honeymoon kemana,” ucapku.
“Enggak apa-apa karena setelah kita kembali dari sini, mungking selang dau atau tiga hari kita akan menikah dan semuanya sudah aku serahkan pada orang tua,” ucap Devin tersenyum padaku.
“Apa aku enggak salah mendengarnya Devin? Kamu sudah memberi tahu ke mereka?” tanyaku dan Devin hanya mengangguk dan kembali mencium bibirku dengan lembut sedangkan aku hanya diam, lalu setelah itu aku melepaskan ciumannya. Aku ingin beranjak dari pangkuan Devin tapi dia menahaku, bahkan Devin memeluk pinggangku dengan sangat erat agar aku tak bisa memberontak.
“Bagaimana kalau kita melakukannya kembali di sini sayang sepertinya cuacanya juga sangat mendukung dan aku rasa mereka juga akan lama kembalinya,” ucap Devin yang masih berusaha membujukku untuk melakukan hubungan intim.
__ADS_1
Aku benar-benar enggak habis pikir saja sepertinya Devin sangatlah kurang puas dengan setiap hubungan intim yang kita lakukan, aku hanya takut saja bagaimana jika nanti aku enggak bisa jalan yang ada bisa di tertawakan oleh Alice dan Evan jika mengetahui dan aku yakin mereka juga sering lihat dengan apa yang kita lakukan karena Devin selalu memaksaku melakukannya dimana saja dan itu menurutnya sangat menantang.