
“Pagi ma,” ucap Kaendra yang sudah duduk sambil meminum susunya.
“Pagi juga sayang, nenek sama kakek kemana?” tanya Alena mencium ke dua pipi Kaendra.
“Mereka pergj keluar dari pagi nona, Alice juga nggak tahu mau kemana soalnya juga nggak bilang,” ucap Alice.
Alena hanya mengangguk mengerti, Alena duduk di samping Kaendra sambil mengambil roti dan di olesi dengan selai coklat.
Setelah selesai sarapan Alena mengajak Kaendra untuk bermain di halaman belakang dekat dengan kolam renang, seperti biasa jika hari minggu Alena tak sibuk maka akan menemani anaknya bermain.
“Alice, gimana dengan rencana kamu?” tanya Alena menoleh ke Alice yang berada di samping Kaendra.
“Iya nona, Alice baru mendaftar ke university dan Alice juga di terima mungkin besok sudah mulai masuk,” ucap Alice senang.
“Bagus kalau begitu, biar nanti aku bicara sama eomma gantiin jagain Kaendra,” ucapnya sambil tersenyum kepada Alice.
Mereka bertiga asik bermain di belakang rumah dengan berlari – larian kecil, sudah lama juga Alena tak menghabiskan waktu dengan Kaendra seperti ini.
Alena masuk ke dalam kamarny lalu merebahkan badannya di kasur. Alena mengambil hp nya dari kantong celananya hanya untuk melihat apakah ada pesan atau telepon.
“Apa yang harus aku lakukan selanjutnya,” ucap Alena sambil memijat keningnya yang tiba – tiba terasa pusing.
__ADS_1
Alena menatap langit – langit putih di kamarnya, dirinya merasa sudah tak bisa menutupi semuanya lagi. Alena meyakinkan hatinya berkali – kali namun saja belum siap.
“Alena sampai kapan kamu akan seperti ini terus? Waktu akan tetap berjalan dan hingga akhirnya Kaendra dewasa,” ucap kembali Alena yang semakin hari merasa gelisah.
Lagi dan lagi Alena hanya mementingkan egonya kembali tak memikirkan kejadian kedepannya nanti.
Malam harinya Alena berjalan sendirian di taman belakang, udara malam ini sangat dingin membuat Alena harus mengenakan jaket tebal.
Alena menatap langit yang gelap yang hanya ada beberapa bintang yang bersinar. Alena menghembuskan nafas pelan sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku jaketnya.
“Devin apa kamu tahu jika aku sudah kembali ke Seoul? Hah! Aku tahu Dev jika kamu tahu keberadaanku di sini pasti kamu akan cepat – cepat segera menemuiku. Devin akan kah kamu tahu jika sebenarnya aku belum siap untuk bertemu denganmu kembali,” ucap Alena.
Alena duduk di bangku kosong yang tersedia di taman, Alena menatap kembali ke atas dan menghembuskan nafasnya secara pelan. Andai semuanya terlihat baik dari awal pasti tak akan kejadian seperti ini.
Suana malam di Seoul malam ini memang agak sedikit berbeda dari kemarin malam. Udara yang sangat dingin membuat semua orang harus mengenakan jaket yang tebal.
Begitu juga dengan dua orang laki – laki yang sedang berjalan sambil berbincang dengan santai.
Ya, siapa lagi kalau bukan Devin dan Evan yang baru sampai di Seoul malam ini. Mereka sedang mencari makan di restoran terdekat.
“Tuan, apa tidak apa – apa jika tuan akan menemui nona Alena dengan cepat?” tanya Evan yang terlihat sangat ke dinginan.
__ADS_1
“Nggak Van, aku tak akan menemuinya secepat itu, aku hanya ingin mengawasinya dari jauh,” ucap Devin menyungingkan sudut bibirnya.
Evan tahu bahwa tuannya sedang dalam mood baik jadi dirinya tak akan merusak mood tuannya yang sedang membaik itu, mereka memasuki salah satu restoran yang masih buka hingga malam hari.
Mereka menikmati makan malam di restoran itu dengan sedikit berbincang dan pengunjung restoran juga tak banyak karena hari sudah larut malam.
Ya, setelah Devin mendapatkan kabar bahwa Alena sudah kembali ke Seoul langsung menyuruh Evan untuk membelikan tiket penerbangan ke Korea.
“Van aku sangat berterima kasih kepadamu,” ucap Devin sambil memegang pundak Evan.
“Tuan jangan begitu, bukannya seharusnya itu sudah menjadi pekerjaanku,” ucapnya.
Devin tersenyum lalu mengangguk mengerti, memang Evan sangat bisa di andalkan dalam segala urusan hal apa pun.
“Van, apa kamu tak berniat kembali ke Swiss?” tanya Devin.
Evan mengerutkan dahinya tak mengerti mengapa tuannya berbicara seperti itu. Devin hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.
“Aku tahu kamu ada kekasihkan di sana?” tanya Devin.
Evan sedikit kaget dan gugup mau menyahuti apa, ternyata tuannya sangat gesit mengetahui hal sekecil apa pun.
__ADS_1
“Sudahlah jangan di pikirkan lagi pembicaraan tadi lebih baik kita lanjutkan makan malam kita ini,” ucap Devin lalu melanjutkan makannya.