
Devin mengajak mereka untuk pergi jalan – jalan di sekitar villa sambil mengendong Kaendra, sambil berjalan pelan Devin selalu mengajak anaknya berbicara banyak hal, sedangkan Alena hanya diam saja semenjak tadi, begitu dengan Alice yang canggung dengan suasana saat ini.
“Ayah, nanti kita bakal tinggal bersama kan?” tanya Kaendra menatap Devin.
“Tentu sayang, ayah akan tinggal denganmu dan mama,” ucap Devin tersenyum.
Kaendra tersenyum dan memeluk ayahnya kembali, dan Devin menoleh ke belakang untuk melihat Alena yang dari tadi tak berbicara.
“Sayang, kamu kenapa hanya diam?” tanya Devin sambil menghentikan jalannya.
“Nggak, aku nggak apa – apa,” ucap Alena dingin.
Devin hanya menyungingkan senyumnya lalu menurunkan Kaendra dari gendongannya.
“Alice, tolong kamu bawa Kaendra kembali ke villa, nanti akan di antar sama sekretaris saya Evan,” ucap Devin tenang.
“Ayah sama mama mau kemana kok Kaendra suruh balik duluan sama Alice?” Kaendra dengan polos.
Devin berjongkok untuk mensejajarkan dengan tubuh anaknya,” sayang ayah ada urusan yang perluh ayah selesaikan dengan mama, Kaendra nggak apa – apa kan kembali ke villa dengan Alice dan Evan?” tanya Devin menatap anaknya.
__ADS_1
“Oke, tapi ayah sama mama cepat kembali,” ucapnya tersenyum.
Devin hanya mengangguk dan berjanji kepada Kaendra akan kembali secepatnya ke villa.
Setelah itu Devin dan Alena melanjutkan jalannya untuk menuju ke villa Devin, perjalanan mereka tak jauh hanya sebentar lagi sampai villa dimana Devin menginap. Devin meraih tangan Alena untuk mengandengnya dan jalan bersampingan.
“Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu kembali bersama dengan anak kita yang sangat tampan dan pintar,” ucapnya lalu mencium punggung tangan Alena dengan sayang.
Alena masih dengan diamnya tak menyahuti perkataan Devin, bagi Alena ini terlalu cepat untuk bertemu dengan Devin dengan situasi yang tak tepat.
“Alena, kenapa kamu diam hemm? Apa kamu tak kangen denganku?” tanya Devin menghentikan jalannya dan menatap Alena.
“Kenapa kamu bisa ada di sini Dev?” tanya Alena dengan madih nada dingin.
“Tentu saja menemui calon istriku dan anakku,” ucapnya berjalan mendekati Alena dan memegang kedua pundak Alena dengan pelan.
“Dari mana kalau aku ada di sini dengan Kaendra?” tanya Alena kembali yang masih penasaran kenapa bisa Devin tahu keberadaannya di Korea.
“Tentu saja itu sangatlah mudah sayang, dan ingat kita juga telah menjalin kerjasama dalam bisnis dan kamu tahu yang mengajak kamu untuk bertemu dengan di sini siapa?” tanya Devin membisikan tepat di telinga Alena.
__ADS_1
Alena membalikkan badannya menatap Devin dengan tajam,” jadi itu kamu Dev?” tanya Alena masih dengan tatapannya yang tajam.
Devin hanya mengangguk dan tersenyum melihat reaksi kaget dari Alena,” kenapa sayang? Apa kamu tak suka dengan menjalin kerjasama dengan calon suamimu?” tanya balik Devin yang kin semakin mendekatkan wajahnya.
Alena lalu mendorong Devin agar menjauh darinya,” lebih baik kamu pergi Dev,” ucap Alena.
Devin tersenyum kecut dan mendekati Alena kembali,” aku tak akan pergi dari kamu Alena, aku pastikan jika kamu pergi dariku Kaendra akan kurebut dari kamu,” ucap Devin sedikit dingin.
“A-apa m-mamsud kamu Dev?” tanya Alena dengan berbalik badan dan menatap tajam Devin.
“Itu hanya sedikit ancaman sayang, tapi aku tak akan pernah main – main dengan ancaman tadi, jadi kamu ingat sayang sebentar lagi kamu harus menikah denganku dan menjalani keluarga kecil dengan bahagia,” ucap Devin sambul memegang kedua pundak Alena dengan pelan.
“Dengar sayang, untuk kali ini aku tak akan kupastikan tak akan kehilangan kamu kembali,” ucap Devin.
Devin langsung membawa Alena kedalam pelukkannya, Alena merasakan pelukkan hangat dari Devin yang selama ini ia rindukan, bohong, ya, selama ini Alena hanya membohongi hatinya jika tak mencintai Devin yang juga ayah kandung anaknya.
Alena merasa nyaman dan damai di pelukkan seorang Devin, Alena mengeratkan pelukkannya, mungkin kali ini Alena akan membuang gengsinya jauh – jauh dan memang untuk kali ini Alena merindukan seorang Devin.
“Dengar sayang aku akan membuatmu bahagia,” ucap Devin kembali.
__ADS_1
Alena hanya diam dan hanya mengeratkan pelukkannya kepada Devin, begitu juga dengan Devin sambil sesekali mencium lembut puncak kepala Alena.