
Siang ini Alena sudah berada di ruangan Devin dan mereka baru saja selesai makan siang bersama. Alena juga baru tahu jika Devin memiliki sekretaris baru, dan menurut Alena, sekretaris baru Devin sangatlah menonjol dimana dia memperlihatkan bagian tubuhnya dengan sengaja memakai pakaian ketat hingga saat dia depan lelaki maka lelaki akan memandangnya dan Alena tidak menyukainya, apa lagi ini sekretaris Devin. Saat ini mereka yang sedang duduk berdua dan saling berpelukan tiba-tiba saja suara ketukan pintu menginterupsi mereka, dan saat itu juga Devin menyuruhnya masuk.
Tidak lama kemudian pintu terbuka menampilkan Sandra, dia berjalan masuk dengan di tangannya membawa berkas. Sandra tersenyum, lalu menundukkan kepalanya.
“Maaf, tuan. Saya mengganggu anda, ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani,” ucap Sandra.
“Taruh saja di meja, dan kamu bisa keluar dari ruangan saya sekarang,” ucap Devin dingin, sedangkan Sandra hanya menuruti apa yang dikatakan Devin.
“Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya,” ucap Sandra sopan.
Namun tetap saja Alena tidak menyukainya, dan Alena juga bisa melihat gelagat Sandra yang dimana dia mencoba menggoda Devin dengan memakai pakaian ketat dan mengenakan baju dengan belahan dada rendah, sungguh Alena segera ingin memecatnya agar jauh-jauh dari suaminya.
“Sayang, apa kamu tidak merasa jika sekretaris kamu itu mengenakan baju ketat dan berusaha menggoda kamu,” ucap Alena sebal.
“Stttss.”
Devin mencium pipi Alena dan memeluknya erat. “Aku tahu honey, akan tetapi aku belum menemukan penggantinya karena aku juga merasa tidak nyaman,” ucap Devin.
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan membantumu mencarikan pengganti dia, aku tidak suka dia menjadi sekretarismu,” ucap Alena mendongakkan kepalanya menatap Devin.
Devin tersenyum lalu mengangguk, Devin pun kembali mencium Alena. Saat ini Devin mencium bibir Alena dan ciuman itu di balas oleh Alena sehingga ciuman mereka menjadi ******* panas. Alena menghentikan ciumannya dan menatap Devin.
“Kita tidak akan melakukannya di sini bukan?” tanya Alena tersenyum.
Devin pun langsung mencubit hidung Alena pelan. “Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu, lalu kita jalan,” ucap Devin, bahkan dia juga masih berusaha menggoda sang istri. Devin sebenarnya juga tidak peduli jika mereka harus melakukan di ruang kantornya, lagi pula juga tidak ada yang melarangnya.
Alena masih tersenyum dengan kelakuan suaminya, padahal Devin sudah semakin tua akan tetapi wajahnya masih terlihat muda dan baby face, baik Devin dan Alena juga sudah memiliki Kaendra yang semakin tumbuh besar dan bahkan kini semua sifat Kaendra seperti Devin dan itu terkadang sangat membuatnya sebal. Alena mengambil hp dari tasnya dan mengecek beberapa email masuk dari butik, bahwa ada beberapa bahan yang habis dan harus segera di pesan. Alena pun dengan cepat menelepon seseorang dan segera memesan barang itu dan menyuruh segera mengirimkannya ke butik, bagi Alena pelanggan adalah nomor satu, dan kualitas baju yang dia jual.
Sesekali baik Alena dan Devin saling memandang dan berakhir tertawa bersama, sungguh mereka seperti pasangan muda. Apa mungkin ini puber kedua mereka? Bahkan Alena sampai berpikir seperti itu. Entahlah hubungannya dengan Devin setelah menikah semakin romantis, bahkan Devin yang selalu meminta keinginannya sampai Devin dengan sangat pandai berkata-kata dengan sangat romantis sehingga Alena tidak bisa menolaknya. Ya, Alena selalu jatuh dalam pelukan Devin yang selama ini membuatnya nyaman.
“Hm, ada apa honey?” tanya Devin yang kali ini pandangan mata Devin tertuju pada istrinya.
“Sebelum pulang nanti aku mau belanja,” ucap Alena tersenyum.
“Apa pun yang akan kamu lakukan aku akan menemani kamu honey,” ucap Devin.
__ADS_1
“Thank you my husband,” ucap Alena, dan Devun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu Devin kembali fokus pada berkasnya yang sebentar lagi pekerjaannya akan selesai.
Kini Devin dan Alena sudah berada di pusat perbelanjaan. Alena masuk ke dalam toko baju bayi, dimana toko itu menjual perlengkapan bayi. Alena dan Devin berjalan berdampingan, sesekali juga Alena memilih beberapa baju bayi perempuan.
“Sayang, untuk apa kita ke sini lalu apa kamu akan membeli baju itu?” tanya Devin.
“Ya, aku ingin memiliki anak lagi Dev dan aku mau anak kita perempuan,” ucap Alena.
“Kalau begitu_______,” ucapan Devin terputus lalu memeluk pinggang Alena dengan erat dan posesif.
“Mari kita buat sekarang.”
Alena pun melepaskan pelukan Devin lalu dia mencubit perut Devin pelan. “Jangan mesum di sini Dev, banyak orang,” ucap Alena, dan bahkan Devin bisa melihat perubahan wajah Alena yang memerah seperti tomat.
Devin dengan sangat sabar menemani Alena belanja, dan kali ini Alena benar-benar belanja banyak pakaian baju bayi namun Devin tidak mempermasalahkan itu. Setelah selesai belanja mereka langsung kembali ke rumah, dengan di bantu pelayan Alena meletakkan semua barang itu di lantai kamarnya. Alena merebahkan tubuhnya di ranjang, rasanya begitu nyaman, Devin pun juga ikut tidur di samping Alena.
“Honey,” panggil Devin.
__ADS_1
“Ada apa Dev,” ucap Alena yang kini memejamkan matanya.
“Ayo,” ajak Devin, akan tetapi Alena masih diam dan memejamkan matanya. Karena tidak ada pergerakan dari Alena, Devin pun langsung menyergap tubuh Alena sehingga melakukan penyatuan kembali.