Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Pernikahan Alice dan Evan


__ADS_3

Hari ini adalah hari bahagia dimana Alice akan


menikah bersama dengan Evan, pernikahan mereka memang dipercepat lebih awal. Mereka


sudah sepakat dengan keputusan mereka jika mereka sudah siap, bahkan mama dan


adik tiri Alice pun juga menghadiri pernikahan ini, sebenarnya dipernikahan ini


mereka adalah orang yang tidak terlalu menyukainya. Bahkan mereka juga berpikir


akan merencanakan suatu hal yang nantinya rumah tangga akan penuh dengan


huru-hara dan mereka berdua sudah menantikannya.


“Alice, aku bahkan tidak akan pernah menyangka


jika kamu akan menikah secepat ini, dan nanti siapa uang akan mengurus


perusahaan?” tanya Alena, dirinya baru saja masuk ke kamar Alice yang sedang di


make up, Alena membawa anaknya yang masih bayi itu dalam gendongannya.


Alice hanya bisa tersenyum melihat eonienya


yang sedang merajuk, “Eonie enggak perlu khawatir, bukankah masih ada oppa dan


nantinya aku juga hanya akan sebentar saja bulan madunya dan kembali bekerja.”


Alena segera menggelengkan kepalanya, “Tidak,


lebih baik yang lama juga tidak apa, lagi pula nantinya kamu juga tidak akan


pernah di perbolehkan Evan untuk bekerja dan mungkin nanti Devin memiliki


rencana lainnya, eonie bahagia kamu akhirnya menikah bersama dengan lelaki yang


mencintaimu. Jadi eonie tidak perlu khawatir lagi terhadapmu namun nanti jika


Evan berbuat kasar denganmu jangan pernah segan untuk cerita ke eonie dan oppa,”


ucap Alena.


Alice menganggukan kepalanya dan tersenyum


kembali, dia sangat bahagia memiliki keluarga yang hangat namun dia juga merasa


gelisah akan kedatangan mama dan adik tirinya, entah apa yang nantinya akan

__ADS_1


terjadi bahkan Aalice tidak bisa membayangkan jika mereka nantinya akan


menganggu rumah tangganya. Alice menghela nafas panjangnya dan menatap pada


dirinya sendiri, dia baru kali ini dandan secantik ini karena biasanya dia


hanya memakai bedak tipis dan lipstik saja.


Alice berjalan di atas altar bersama dengan


appa Alena, memang ini kemauan appa Alena. Walau pun dia bukan appa kandungnya


namun dia juga akan melakukannya untuk putrinya yang tersayang yang selama ini


juga telah membantu keluarganya. Tangan Alice di berikan pada Evan yang sudah


menunggu sedari tadi, bahkan saat ini Alice merasa sangat gelisah dan tangannya


sangat dingin namun Evan meyakinkannya dengan pegangan tangannya yang erat dan


mereka pun mengucapkan janji suci pernikahan dengan khidmat, dan diakhiri


dengan ciuman.


Undangan yang datang pun sangat bahagia melihat


sangatlah benci, bahkan kalau bisa mereka akan mengacau pernikahan Alice tapi


apa day ajika dirinya tidak bisa melakukan itu karena ternyata Alice diangkat


anak oleh orang berada dan itu semakin membuat Sania membenci Alice dan ingin


menyingkirkannya kalau perlu sampai ke neraka.


“Ma, bahkan aku sangat muak di sini lama-lama


karena melihat dia yang terus tersenyum sedari tadi,” ucap lirik Sania pada


ibunya.


Mareta hanya tersenyum sinis menatap ke arah


Alice, sungguh kenapa dulu dia membiarkan Alice hidup dan tak membuatnya mati


saja bersama dengan ibunya. Namun apa yang dia lihat dia melihat Alice bersama


dengan orang-orang yang sangat menyanyanginya dan Mareta benci itu semua. “Kamu

__ADS_1


sabar sayang, karena selanjutnya kita akan membuat dia menderita, kalau perlu


kamu datang ke kehidupan mereka dan kamu goda suaminya,” ucap Mareta.


“Bagaimana caranya ma?” tanya Sania yang masih


belum tahu dengan rencana yang akan mamanya buat.


“Nanti kamu juga akan mengetahunya sendiri


sayang, jadi kamu tidak perlu sedih,” ucap Mareta. Mereka tertawa bahagia


dengan sejuta ide yang akan mereka lakukan pada Alice, karena mereka akan


melakukan hal yang keji pada Alice seperti mereka melakukan pada ibu Alice


hingga akhirnya jatuh sakit dan meninggal, bahkan Mareta juga sampai menikahi


papa Alice namun sayangnya kehidupan enak mereka hanya berjalan sebentar karena


sang suami yang setiap harinya melakukan judi dan minum, sampai memiliki hutang


yang banyak sana- sini membuat Mareta harus menjual rumahnya demi melunasi


hutang suaminya.


Mungkin hidup di dunia ini sungguh kejam, namun


perjalanan hidup setiap orang juga berbeda-beda bahkan terus bergulir, namun


tidak dengan Mareta dan Sania, mereka selalu mendapatkannya dengan instan


dengan menyakiti orang lain akan tetapi keduanya juga tidak peduli dengan semua


itu yang terpenting mereka hidup bahagia dan enak.


“Ayo sayang kita pergi dari sini dan kita


pikirkan rencana kita selanjutnya,” ajak Mareta.


Sania hanya


mengangguk dan mengikuti mamanya keluar dari pesta pernikahan Evan dan Alice,


mereka bahkan sama sekali tidak mengucapkan selamat. Mareta juga tidak peduli


lagi pula Alice bukan anak kandungnya akan tetapi dia akan terus menganggu

__ADS_1


kehidupan Alice.


__ADS_2