
Hari ini adalah hari bahagia dimana Alice akan
menikah bersama dengan Evan, pernikahan mereka memang dipercepat lebih awal. Mereka
sudah sepakat dengan keputusan mereka jika mereka sudah siap, bahkan mama dan
adik tiri Alice pun juga menghadiri pernikahan ini, sebenarnya dipernikahan ini
mereka adalah orang yang tidak terlalu menyukainya. Bahkan mereka juga berpikir
akan merencanakan suatu hal yang nantinya rumah tangga akan penuh dengan
huru-hara dan mereka berdua sudah menantikannya.
“Alice, aku bahkan tidak akan pernah menyangka
jika kamu akan menikah secepat ini, dan nanti siapa uang akan mengurus
perusahaan?” tanya Alena, dirinya baru saja masuk ke kamar Alice yang sedang di
make up, Alena membawa anaknya yang masih bayi itu dalam gendongannya.
Alice hanya bisa tersenyum melihat eonienya
yang sedang merajuk, “Eonie enggak perlu khawatir, bukankah masih ada oppa dan
nantinya aku juga hanya akan sebentar saja bulan madunya dan kembali bekerja.”
Alena segera menggelengkan kepalanya, “Tidak,
lebih baik yang lama juga tidak apa, lagi pula nantinya kamu juga tidak akan
pernah di perbolehkan Evan untuk bekerja dan mungkin nanti Devin memiliki
rencana lainnya, eonie bahagia kamu akhirnya menikah bersama dengan lelaki yang
mencintaimu. Jadi eonie tidak perlu khawatir lagi terhadapmu namun nanti jika
Evan berbuat kasar denganmu jangan pernah segan untuk cerita ke eonie dan oppa,”
ucap Alena.
Alice menganggukan kepalanya dan tersenyum
kembali, dia sangat bahagia memiliki keluarga yang hangat namun dia juga merasa
gelisah akan kedatangan mama dan adik tirinya, entah apa yang nantinya akan
__ADS_1
terjadi bahkan Aalice tidak bisa membayangkan jika mereka nantinya akan
menganggu rumah tangganya. Alice menghela nafas panjangnya dan menatap pada
dirinya sendiri, dia baru kali ini dandan secantik ini karena biasanya dia
hanya memakai bedak tipis dan lipstik saja.
Alice berjalan di atas altar bersama dengan
appa Alena, memang ini kemauan appa Alena. Walau pun dia bukan appa kandungnya
namun dia juga akan melakukannya untuk putrinya yang tersayang yang selama ini
juga telah membantu keluarganya. Tangan Alice di berikan pada Evan yang sudah
menunggu sedari tadi, bahkan saat ini Alice merasa sangat gelisah dan tangannya
sangat dingin namun Evan meyakinkannya dengan pegangan tangannya yang erat dan
mereka pun mengucapkan janji suci pernikahan dengan khidmat, dan diakhiri
dengan ciuman.
Undangan yang datang pun sangat bahagia melihat
sangatlah benci, bahkan kalau bisa mereka akan mengacau pernikahan Alice tapi
apa day ajika dirinya tidak bisa melakukan itu karena ternyata Alice diangkat
anak oleh orang berada dan itu semakin membuat Sania membenci Alice dan ingin
menyingkirkannya kalau perlu sampai ke neraka.
“Ma, bahkan aku sangat muak di sini lama-lama
karena melihat dia yang terus tersenyum sedari tadi,” ucap lirik Sania pada
ibunya.
Mareta hanya tersenyum sinis menatap ke arah
Alice, sungguh kenapa dulu dia membiarkan Alice hidup dan tak membuatnya mati
saja bersama dengan ibunya. Namun apa yang dia lihat dia melihat Alice bersama
dengan orang-orang yang sangat menyanyanginya dan Mareta benci itu semua. “Kamu
__ADS_1
sabar sayang, karena selanjutnya kita akan membuat dia menderita, kalau perlu
kamu datang ke kehidupan mereka dan kamu goda suaminya,” ucap Mareta.
“Bagaimana caranya ma?” tanya Sania yang masih
belum tahu dengan rencana yang akan mamanya buat.
“Nanti kamu juga akan mengetahunya sendiri
sayang, jadi kamu tidak perlu sedih,” ucap Mareta. Mereka tertawa bahagia
dengan sejuta ide yang akan mereka lakukan pada Alice, karena mereka akan
melakukan hal yang keji pada Alice seperti mereka melakukan pada ibu Alice
hingga akhirnya jatuh sakit dan meninggal, bahkan Mareta juga sampai menikahi
papa Alice namun sayangnya kehidupan enak mereka hanya berjalan sebentar karena
sang suami yang setiap harinya melakukan judi dan minum, sampai memiliki hutang
yang banyak sana- sini membuat Mareta harus menjual rumahnya demi melunasi
hutang suaminya.
Mungkin hidup di dunia ini sungguh kejam, namun
perjalanan hidup setiap orang juga berbeda-beda bahkan terus bergulir, namun
tidak dengan Mareta dan Sania, mereka selalu mendapatkannya dengan instan
dengan menyakiti orang lain akan tetapi keduanya juga tidak peduli dengan semua
itu yang terpenting mereka hidup bahagia dan enak.
“Ayo sayang kita pergi dari sini dan kita
pikirkan rencana kita selanjutnya,” ajak Mareta.
Sania hanya
mengangguk dan mengikuti mamanya keluar dari pesta pernikahan Evan dan Alice,
mereka bahkan sama sekali tidak mengucapkan selamat. Mareta juga tidak peduli
lagi pula Alice bukan anak kandungnya akan tetapi dia akan terus menganggu
__ADS_1
kehidupan Alice.