Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Alice dan Evan


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit Evan mengajak Alice untuk kembali ke apartemennya lebih dulu, akan tetapi Evan di apartemennya tidak akan lama, dia akan kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya. Sedangkan Alice memang akan ke apartemen Evan dan menunggu Evan sampai sore nanti, lalu malamnya mereka akan makan malam bersama. Walau mereka sering di sibukkan dengan pekerjaan akan tetapi mereka akan tetap meluangkan waktu untuk bersama, “Aku sempat merasa cemburu saat kamu tadi bertemu denganmu.”


“Kenapa? Bukankah aku sudah menjadi milikmu dan selamanya juga akan menjadi milikmu baby,” ucap Evan, dengan satu tanganya mengusap punggung tangan Alena lalu menciumnya.


“Entahlah, hanya saja aku merasa takut,” ucapnya kembali, Alice hanya takut, bagaimana nantinya jika Evan akan kembali pada mantanya, padahal mereka sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.


“Sudahlah, janagan memikirkan hal yang tidak-tidak karena selamanya aku akan menjadi milikmu selamanya,” ucap Evan, karena dia tidak ingin Alice berpikir yang tidak-tidak dan nantinya hanya akan membuatnya sakit, Evan tidak mau jika Alice sampai sakit.


“Oh, iya. Nanti aku langsung ke supermarket bawah saja untuk belanja bulanan dan kamu bisa langsung berangkat ke kantor.“Hm, jangan lupa beli makana kesukaanku baby,” ucap Evan, dan Alice mengangguk, dia juga tersenyum pada Evan.Mungkin hubungan mereka terbilang sangat singkat namun Alice sangatlah tulus mencintai Evan dan dia tidak ingin kehilangan. Mungkin jika banyak orang melihat siapa dirinya, mungkin dia tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengan Evan, jika saja Alice tidak dianggap keluarga oleh Alena dan Devin sampai saat ini dia akan tetap menjadi baby sister dan tidak akan pernah bersanding dengan Evan seperti sekarang ini.

__ADS_1


“Baby, kamu kenapa?” tanya Evan.“Ah, aku baik-baik saja sayang,” ucapnya.Alice memasuki supermarket, bahkan dia juga sudah mendorong troly untuk di isi sayuran, daging, buah-buahan dan yang lainnya, dia ingin memenuhi isi kulkas yang ada di apartemen Evan, karena kebiasaan Evan yang suka makan malam namun dia sangatlah malas untuk belanja, memang dasar Evan.Saat Alice asik memilih sayuran ada seseorang yang menyapanya, saat melihat orang yang menyapanya dia begitu kaget. Ya, orang itu adalah mama dan adik tiri Alice, dimana dulu suka menyiksa Alice saat kepergian sang mama menghadap sang pencipta dan papanya menikah kembali. Namun papanya tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya, papanya hanya sibuk bekerja dan pulangnya dia akan mabuk-mabukan dan kehidupan rumah tangga yang hancur.


“Tidak menyangka jika kita akan kembali bertemu, bagaimana kabar kamu? Bahagia? Dasar anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu caranya membalas budi,” ucap Mareta, bahkan dia juga menatap Alice dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


“Mama, Sania, kenapa kalian berada di sini?” tanya Alice dengan perasaan yang sudah bercampur aduk, sungguh dia tidak ingin bertemu dengan mereka berdua, karena mereka akan kembali menyiksanya dan bahkan mereka bisa saja berkata pada orang yang dia kenal dengan kata-kata menjelekkanku.


“Ya, siapa dia? Dia sangat terlihat tampan, apa kamu bisa mengenakannya pada Sania, dan siapa tahu dia akan tertarik pada Sania, dan tentunya hidup kami juga akan berubah,” ucap Mareta.


“M-maksud mama?” tanya Alice tidak mengerti.“Sudahlah tiodak usah pura-pura bodoh, dan kami juga sudah tahu semuanya, kami juga ingin hidup enak seperti dirimu karena kami sudah sangat menderita hidup miskin, itu sangat membuat kami tersiksa. Kamu punya uang banyak bukan? Kamu juga bisakan membelikan kami rumah mewah dan mobil,” ucap Sania.Sungguh mereka tidak tahu malu sama sekali, mereka meminta pada diriku. Tapi aku juga tidak bisa menolaknya karena bagaiaman juga mereka adalah keluargaku, walau aku hanya anak tiri.

__ADS_1


“Apa papa baik-baik saja?” tanyaku.Sania dan mamanya tertawa dan menatap Alice sebentar dan berkata, “Kamu mencari papa kamu yang tua Bangka itu, bahkan kami tidak tahu pergi kemana papa kamu itu dia meninggalkan kami dengan hutangnya yang banyak sehingga kami harus menjual rumah untuk melunasinya. Kenapa kamu akan marah? Silahkan saja kamu marah pada papamu mengapa dia bermain judi dan memiliki hutang banyak,” ucap Mareta dengan nada kesalnya.


“Aniyo, kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membayar semua belanjaanku,” ucap Alice, dia mendorong trolinya kea rah kasir untuk segera membayarnya, hari ini acaranya sungguh kacau dengan kedatangan mereka berdua.Setelah membayar semuanya Alice segera keluar dari supermarket dan berjalan menuju apartemen Evan, dia ingin meletakan semua belanjaannya lebih dulu, namun mama dan adik tirinya itu mengikutinya sampai masuk ke dalam apartemen Evan.


“Ini apartemen milikmu?” tanya Sania.


“Bukan, ini aparetemen milik calon suamiku,” ucap Alice sambil menata belanjaannya tadi ke dalam kulkas.


“What? Apa aku tidak salah mendengar? Kamu sudah memiliki calon, sungguh hebat kamu Alice,” ucap Sania.Sungguh Sania memang tidak tahu sopan santun padahal Alice lebih tua darinya namun dia seenaknya saja memangil dirinya tanpa embel-embel, namun aku juga tidak akan mempersalahkan itu semua karena itu hanya akan memperkeruh saja.

__ADS_1


__ADS_2