
Hari ini Alena di bawa ke rumah sakit karena mau melahirkan, Jenny dengan di bantu Nathan dan Lionel membawa Alena ke rumah sakit salah satu milik keluarga Nathan, saat sebelum memasuki ruang dokter meminta salah satu orang untuk menemani Alena dan Nathan lah yang menemani Alena di dalam ruangan berjuang melahirkan anaknya.
Dengan penuh perjuangan Alena merasakan rasa sakit melahirkan anak, Nathan yang menemani Alena memberinya semangat dan mengelap keringat yang ada di dahi Alena yang sedari tadi terus mengucur.
“Oekkk, oekk, oekk.”
Tangisan bayi laki terdengar sangat keras dan Alena berhasil melahirkan bayi laki – laki yang tampan dan juga sehat, Alena tersenyum melihat anaknya sehat, lalu bayi Alena di bawa oleh suster untuk di bersihkan dan Alena masih menjalani perawatan lainnya.
Setelah selesai semua Alena di bawa ke ruang rawat dan di sana Alena tertidur dan bayi kecil yang tampan berada di sampingnya ditaruh di box. Jenny dan yan lainnya menunggu Alena terbangun, Jenny terus menatap bayi Alena yang terlihat sangat mengemaskan dan lucu.
“Makanya Jen cepet nikah terus punya anak kaya Alena.” Lionel menyindir Jenny yang sedari tadi terus memperlihatkan interaksi antara Jenny dan bayi Alena walaupun bayi itu tertidur tetap saja Jenny menoel – noel pipi bayi itu.
“Kamu tahu sendiri kalau aku ini jomblo akut Lionel.” Jenny menatap Lionel dengan tatapan sebalnya, karena sedari tadi Lionel mengoceh sepanjang waktu.
Nathan hanya menjadi penonton saja sambil memainkan hpnya menunggu Alena terbangun, rasanya hati Nathan senang karena bisa menemani Alena melahirkan walaupun bukan anak kandung Nathan.
Nathan sendiri juga tidak tahu kenapa menaru Alena yang jelas – jelas sudah punya anak, yang Nathan mau hanya satu bagaimana caranya mengambil hati Alena agar membuka kesempatan untuknya masuk kedalam hati Alena, Nathan sendiri juga belum tahu pasti apa penyebab Alena kabur dari sini.
“Nathan kamu beli makan dong, perut aku laper,” Jenny menyuruh Nathan.
“Kenapa bukan kamu sendiri aja Jen atau kamu bisa menyuruh Lionel.” Nathan masih cuek dengan Jenny yang menyuruhnya membeli makan.
__ADS_1
“Selera Lionel jelek dia nggak tahu makanan enak.” tuduh Jenny sedangkan Lionel hanya mendengus kesal karena Jenny selalu menghinanya.
“Baiklah, gimana kalau kita delivery di tempat restoran kesukaan kamu,” ucap Nathan.
“Itu jauh lebih baik.” Jenny merasa senang jika menyuruh Nathan pasti selalu di turutinya dari dulu.
Alena terbangun menatap langit – langit ruangan di mana dirinya sedang di rawat, Alena menoleh ke kiri di mana ada bayinya yang masih tertidur dengan tenang. Alena tersenyum dirinya bisa melewati ini semua, Alena mencoba bangun dengan pelan – pelan dan bersandar di ranjang.
Jenny, Nathan dan Lionel yang menyadari jika Alena sudah bangun langsung mendekati Alena.
“Gimana Alena keadaan kamu baik kan?” Nathan bertanya kepada Alena karena khawatir dengan keadaannya.
“Aku nggak apa – apa Nathan dan makasih banget tadi kamu sudah temani aku,” ucapnya dengan senyumannya yang masih mengebang.
“Selamat ya Alena, anak kamu tampan,” Lionel memberikan selamat kepada Alena sambil menjulurkan tangannya.
“Makasih juga Lionel kamu juga sudah membantuku membawa ke rumah sakit,” ucap Alena sambil menjulurkan tangannya.
Lionel hanya mengangguk sambil tersenyum, Jenny kembali ke ruangan Alena dengan dokter cantik yang tadi membantu persalinan Alena. Dokter itu memeriksa kondisi Alena sebentar.
“Nona Alena baik – baik saja dan besok juga bisa kembali ke rumah,” ucap dokter cantik itu.
__ADS_1
“Benarkah dok?” Alena bertanya kembali, dan dokter itu mengangguk.
“Iya, bayinya juga terlihat sangat sehat,” ucapnya kembali, Alena menoleh ke bayinya yang masih tidur.
Kalau begitu saya permisi dahulu ya, masih banyak pasien yang harus saya tangani, Alena dan yang lain mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Jenny duduk di bangku samping Alena, dan Nathan membantu Alena untuk mengendong bayinya yang tiba – tiba terbangun dan menangis. Alena mulai menyusui bayinya itu sambil menoel – noel pipinya yang sangat mengemaskan itu.
“Mau kamu beri nama siapa Na?” Jenny menatap Alena dan kini mereka saling menatap sambil Alena memikirkan nama yang bagus untuk anaknya.
“emm, Kaendra Lee Abraham,” ucap Alena memberitahu Jenny.
“Nama yang sangat bagus.” Nathan memuji nama pemberian Alena kepada anaknya.
“Makasih Nathan,” ucapnya kembali.
Sehabis memberikan asi kepada Kaendra, Alena dengan di bantu oleh Jenny menaruh Kaendra ke box bayi kembali, dan kebetulan hari juga sudah larut malam, Lionel berpamitan untuk kembali ke rumah lebih dahulu.
Sedangkan Nathan dan Jenny masih di menemani Alena di ruangan, mereka bertiga masih asik dengan mengobrol.
“Alena sebaiknya kamu istirahat,” ucap Nathan dan Jenny mengangguk apa yang di ucapkan Nathan benar, seharusnya Alena cepat istirahat.
__ADS_1
Jenny dan Nathan mereka masih duduk di sofa dan mereka juga sudah mulai lelah dan Jenny sudah memejamkan matanya terlebih dahulu, sedangkan Nathan juga ikut tertidur dengan posisi duduk.