
Alena terbangun dari tidurnya karena mendengar suara kicauan burung di luar, wajar saja ada burung karena villa milik Devin ini dekat dengan hutan dan pemndangannya juga sangat indah.
Alena menoleh ke samping yang ternyata ada Devin yang juga ikut tidur satu ranjang dengannya. Semalam Alena memang meninggalkan Devin sendirian di sofa ruang tamu dan Alena juga langsung tertidur setelah selesai dengan runtinitas malamnya.
“Hah! Dasar Devin, kenapa harus tidur di sini,” ucapnya dalam hati.
Alena turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, Alena melepas semua pakaian dan menyalakan shower dengan air dingin.
Guyuran air yang membasahi tubuh Alena membuatnya jadi lebih segar dan menenangkan pikirannya.
Tak butuh lama Alena keluar kamar mandi menggunakan bathrobe dan satu handuk yang mengulung di kepalanya. Alena mencari bajunya di dalam koper yang ia bawa, Alena juga mengeluarkan semua alat make up dan skincare runtinnya.
Devin yang mendengarkan suara agak berisik terbangun dengan masih posisi tidur Devin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah dan benar saja Devin melihat Alena yang sedang mengeluarkan barang – barangnya.
“Kenapa kamu sangat terlihat cantik dan seksi baby,” ucapnya dalam hati dan sudut bibir Devin melengkung ke atas.
Devin duduk dengan masih ada di atas ranjang melihat Alena yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
“Sayang,” ucap Devin dengan suara khas bangun tidurnya.
Alena yang mendengar Devin memanggilnya menoleh ke arahnya sambil memicingkan matanya.
“Why? Apa ada yang salah?” tanya Devin saat di tatap Alena dengan tajam.
“Tidak, aku hanya tidak suka saja kamu memanggilku sayang atau apalah itu,” ucap Alena sambil berjalan ke meja rias dengan membawa skincare dan alat makeupnya.
Devin hanya tersenyum,” kenapa tak membangunkan aku, kita kan jadi bisa mandi berdua,” ucap Devin santai.
Alena berbalik melototin Devin yang cengar – cengir tanpa ada dosa dengan apa yang tadi ia ucapkan.
__ADS_1
“Devin kamu ya, benar – benar mesum,” ucap Alena sambil mendengus kesal.
Devin hanya terkekeh melihat Alena marah itu sangat terlihat lucu dan mengemaskan baginya.
Devin berdiri turun dari ranjang lalu mendekati Alena yang,” sayang, apa kau tak mengingankan aku? Aku sangat menginginkanmu,” ucap Devin berbisik tepat di telinga Alena.
Alena merasakan sesuatu yang aneh dan membuat matanya meremang saat Devin membisikkan kata – kata yang menurutnya sangat keramat.
Devin menaik turunkan alisnya saat Alena menoleh menatapnya dengan tajam.
“Awas saja nanti jika kamu macam – macam Dev,” ucap Alena dengan satu jarinya menuunjuk tepat di depan wajah Devin.
Devin hanya mengendikkan bahunya lalu melengang pergi ke kamar mandi dan Alena masih melototin Devin yang sudah tak terlihat lagi.
Devin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, dan Alena juga sudah rapi dengan atasan sabrina di padukan dengan celana jeans.
“Jalan – jalan yuk,” ajak Devin yang sudah duduk di samping Alena.
Alena menoleh ke Devin,” kemana? Ajak Kaendra sama Alice kan?” tanya Alena.
“Tentu, aku juga akan mengajak Evan, kita jalan – jalan ke dalam hutan sana, di sana sudah ada rutenya dan tempat istirahat, pasti sekarang sudah banyak pengunjung yang masuk ke dalam sana hanya untuk berfoto dan yang lainnya. Tenang saja di dalam hutan aman kok, nggak ada binatang buas,” ucap Devin.
“Ya, aku tahu, binatang buasnya itu kamu dan membuatku takut serta merinding jika di dekatmu,” ucap Alena lalu berdiri dan melengang pergi keluar kamar.
Devin hanya terkekeh mendengar Alena yang berbicara seperti itu,” sayang tunggu, sebelum jalan kita sarapan dulu,” teriak Devin.
**
Mereka jalan berlima secara bersama, Devin, Alena dan Kaendra di depan. Devin mengendong Kaendra sambil sesekali putranya di ajak bercanda.
__ADS_1
Sedangkan Alice dan Evan mereka berdua di belakang, baik Alice dan Evan hanya diam saja pasalnya mereka berdua terlihat cangung.
“Ayah, nanti kita akan pulang ke rumah nenek kan dan ayah juga ikut?” tanya Kaendra menatap ayahnya.
“Tentu anaknya ayah yang paling tampan,” ucap Devin sambil mencubit hidung mungil anaknya itu.
Alena hanya terus berjalan saja menikmati udara segar dan pemandangan yang sangat indah, rasanya Alena terbebas dari beban pikirannya yang selama ini menumpuk di kepalanya.
“Ken, ayah boleh minta tolong nggak sama Ken?” tanya Devin dengan pelan agar Alena tak mendengarnya.
“Apa itu ayah?” tanya kembali Kaendra.
“Begini, ayah lagi kena marah sama mama, dan ayah ingin minta maaf sama ayah tapi Ken mau kan sama tante Alice dan om Evan dulu,” ucap Devin sambil tersenyum.
Kaendra hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya,” iya yah, biar aku sama Alice dan om Evan,” ucapnya.
Lalu Devin menurunkan Kaendra dari gendongannya dan menyuruh Alice dan Evan melanjutkan jalannya lebih dulu. Sedangkan Devin mendekati Alena dan memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
“Devinnn … apa – apaan sih kamu, nanti kalau di lihat anak kita sama Alice dan Evan gimana?” tanya Alena.
“Di sini sepi sayang, mereka sudah jalan duluan,” ucap Devin santai.
“Loh, kemana mereka?” tanya Alena sambil mencari keberadaan Kaendra, Alice dan Evan.
Devin melepaskan pelukkannya lalu memutar tubuh Alena agar menghadap ke arahnya,” mereka sudah aku suruh duluan, dan kini tinggal kita berdua,” ucap Devin.
Alena mendengus pelan,” kamu apa – apaan sih memyuruh mereka duluan,” ucap Alena sambil berjalan pelan.
“Karena aku ingin berduan denganmu sayang, aku sangat merindukanmu,” ucapnya lalu menyeret tangan Alena untuk menuju ke suatu tempat yang pasti hanya Devin dan orang kepercayaannya yang tahu tempat itu.
__ADS_1