
Pagi ini Alena keluar rumah untuk jalan-jalan pagi dengan ditemani ART sekalian Alena ingin belanja ke supermarket yang dekat rumah. Alena tak ingin menghabiskan waktunya di rumah saja karena nantinya kalau perutnya sudah membesar dia sudah tidak dibolehkan orang tuanya keluar dan itu pasti sangat membosankan.
Udara pagi ini begitu sangat segar dengan cuaca yang cerah banyak orang yang sedang berlalu lalang hanya untuk sekedar jalan-jalan atau pergi bekerja, Alena sangat senang ia bisa terlahir di Korea karena orang Korea sangat menjaga pola makan dan banyak orang lebih memilih jalan kaki dari pada menggunakan kendaraan.
Alena kini sudah berada di supermarket dan sedang memilih sayur-sayuran segar untuk dimasak siang nanti tak hanya itu Alena juga belanja yang lainnya. Setelah selesai belanja dan dirasa sudah cukup Alena langsung ke kasir dan membayarnya.
Barang belanjaannya banyak, Alena menyuruh ART pulang terlebih dahulu dengan menggunakan taksi agar tak kerepotan membawa barang belanjaannya. Alena masih Ingin jalan sambil melihat-lihat di sekitaran Busan.
Alena berjalan ke arah taman ia ingin duduk di kursi kosobg yang sudah disiapkan di taman untuk para pengunjung. Alena melihat ke atas langit yang biru dan begitu indah di sertai awan putih.
“Hay kita ketemu lagi di sini,” ucap Suho dan duduk di samping Alena, Alena menoleh ke arah laki-laki yang menyapanya itu.
“Kok loe bisa ada di mana-mana sih?” tanya Alena sambil tangannya di taruh di depan dada.
__ADS_1
Suho menoleh ke arah Alena dan tersenyum simpul,”mungkin jodoh,” ucap Suho yang masih tetap menatap wajah Alena yang begitu cantik dan itu membuat Suho tertarik pada Alena tak hanya di situ saja Alena juga wanita yang sangat misterius.
“Ngomong-ngomong gue belum tahu nama loe, nama loe siapa?” tanya Suho kembali mengingat pertemuan mereka pada waktu itu Alena hanya diam saja dan tak menjawabnya.
“Alena,”ucap Alena menoleh kembali kepada Suho,”oh, ya! Ngapain loe ada di sini?” tanya Alena
“Hanya mencari udara segar saja, habis penat kalau kerja terus,” ucap Suho sambil menyerigai ke arah Alena.
“Kenapa?” tanya Alena kembali dengan ekspresi Suho yang seperti itu.
“Tadinya hanya jalan-jalan sambil belanja keperluan dapur, gue tinggal nggak jauh dari sini di perumahan,” ucap Alena
“Mana belanjaan kamu kok nggak ada, perumahan elit di dekat sini maksud kamu yang sebelah sana,” ucap Suho sambil menunjukkan di mana letak perumahan itu.
__ADS_1
“Belanjaannya sudah di bawa sama ART gue, iya,” ucap Alena
“Wah berarti kita memang jodoh aku juga tinggal di situ nomor rumah aku no.31 kalau kamu berapa?” tanya Suho yang begitu terlihat sangat senang.
“Nomor 42,” ucap Alena
“Nggak aku sangka kita tetanggaan tapi kapan-kapan aku boleh main ke rumah kamu?” tanya Suho kembali
“Iya boleh saja, kalau gitu gue cabut duluan ya masih banyak yang harus gue urus,” ucap Alena lalu langsung berdiri, saat akan melangkahkan kakinya Suho memanggilnya dan memegang tangan Alena.
“Gue anterin ya dari pada kamu jalan kaki,” ucap Suho
“Nggak usah gue lebih suka jalan kaki lagian Cuma deket,” ucap Alena dan langsung melepaskan tangannya dari pegangan tangan Suho.
__ADS_1
“Hati-hati ya,” teriak Suho kepada Alena yang semakin jauh dan hanya di balas oleh lambaian tangan Alena saja. Suho tersenyum simpul akhirnya ia bisa tahu namanya dan bisa bicara lama dengan wanita yang sudah menarik hatinya.
Suho memang terkenal dingin pada setiap wanita makanya sampai sekarang ia belum punya pacar dan baru sekarang ia dekat dengan wanita. Waktu itu pernah Suho mau di jodohkan dengan anak teman mamanya namun Suho menolaknya dan itu membuat mamanya sangat pusing karena selama ini anaknya tak pernah dekat dengan satu wanitapun sampai-sampai teman arisan mamanya mengira Suho gay.