Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Alena dan Devin


__ADS_3

Mereka akhirnya makan malam bersama, dan hanya berdua saja. Devin memang sudah merencanakan ini sejak awal agar bisa berduaan dengan Alena, walau Alena sangat keras kepala namun Devin enggak akan menyerah sedikit pun. Makan malam dengan suasa hening dan hanya bunyi piring dan sendok saja dan sesekali Devin menatap Alena, entah kenapa malam ini Alena sangag terlihat cantik.


“Sayang, terima kasih untuk malam ini,” ucapku sambil tersenyum pada Alena.


“Ini kamu yang memaksa Devin, hingga aku harus meninggalkan Kaendra bersama dengan Alice,” ucap Alena kesal dan aku hanya bisa tersenyum. Aku meraih ke dua tangan Alena dan menciumnya dengan lembut.


“Ya, aku tahu. Tapi kamu tenang saja, Kaendra tak akan kenapa-kenapa dan dia pasti juga tahu jika kedua orang tuanya ingin berduan,” ucapku.


Alena menghela nafas panjang dan menatapku sebentar. “Sebenarnya apa yang kamu inginkan Dev?” tanya Alena.


Devin menatapku sejenak, “Ayo kita menikah Alena, ayo kita besarkan anak kita secara bersama,” ucapku, karena bagaimana juga aku tak ingin kehilangan mereka lagi. Aku ingin hidup bahagia bersama dengan Alena dan Kaendra, hidup bahagia selamanya. Selama ini aku selalu memperjuangkan cintaku pada Alena aku juga enggak akan peduli jika kali ini Alena akan menolaknya kembali namun aku akan tetap memaksanya.


“Dev, bisa enggak kita enggak membahas soal ini,” ucap Alena, namun aku menggelengkan kepalaku. Aku ingin egois untuk kali ini, egois untuk kebaikan Alena dan Kaendra karena bagaimana juga Kaendra adalah darah dagingku.


“Dengar Alena, kali ini aku akan egois karena bagaimana juga aku enggak mau kehilangan kamu dan juga Kaendra,” ucapku.


Mungkin dulu adalah kesalahanku namun aku ingin memperbaikinya, aku ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak dan wanita yang aku cintai. Selama ini aku sudah lelah dengan Alena yang selalu mengalihkan pembicaraan bahkan juga Alena selalu menhindariku dengan pergi jauh dan dia juga pandai menyamarkan namanya. Mungkin setelah ini semuanya akan berubah tapi aku yakin untuk kali ini Alena juga menyerah dan dia juga akan kembali padaku. Aku berjanji dan membuktikan semuanya jika aku tak akan menyakitinya atau yang lainnya.

__ADS_1


Aku melihat Alena menghela nafas panjangnya dan menatapku sedikit diam bahkan hanya diam tanpa ada satu kata yang keluat dari mulutnya. “Alena, apa yang sedang kamu pikirkan selain Kaendra dan hubungan kita yang tiada kejelasan,” ucapku kembali.


“Baiklah, mari kita menikah. Mari kita besarkan anak kita,” ucap Alena, dan saat mendengarkan itu aku benar-benar kaget dan sedikit tak percaya namun aku sangat bahagia karena aku sudah menunggunya terlalu lama. Aku segera beranjak dari dudukku dan langsung memeluknya dengan erat karena aku benar-benar bahagia.


Setelah itu kita melanjutkan makan malam kami yang sempat tertunda, aku mengakui jika malam ini Devin sangat romantis dalam menyiapkan semua ini. Mungkin malam ini tak akan pernah aku lupakan dimana di malam ini di tempat ini Devin kembali mengajakku menikah dan aku pun menerimanya. Aku merasa lega dengan semua yang telah aku lalui, mau bagaimana aku pergi jauh dari Devin makan Devin juga akan menemukan aku, hingga aku memutuskan untuk menerimanya dan menjadi ayah bagi anak-anakku kelak.


Selesai makan malam Devin juga mengajakku untuk berjalan-jalan sebentar di dekat villa. Sangat sepi? Iya, karena villa ini agak sedikit jauh dari villa lain, sebenarnya aku ingin kembali namun Devin melarang dan lebih baik kembali besok dimana Kaendra dan Alice berada.


“Kenapa kamu bisa tahu villa di sini Dev?” tanyaku penasaran namun Devin hanya tersenyum lalu dia menjawab jika rahasia dan bagiku itu sangat menyebalkan hingga aku memcubit lengannya.


“Akh! Sakit sayang, kenapa kamu cubit aku,” ucapnya sambil mengelus lengannya dan aku tersenyum lalu melanjutkan jalan di depan Devin.


“Hati-hati sayang, beruntung aku sigap menolong kamu,” ucap Devin.


Aku menatap Devin sebentar lalu menghela nafas. “Bagaimana aku tahu jika ada batu Devin,” ucapku kesal dan ya, Devin hanya tersenyum lalu meraih tanganku dan kami pun jalan bersama.


“Sayang, bagaimana kalau malam ini kita habiskan waktu bersama,” ucap Devin.

__ADS_1


“Ini juga sudah Dev, kamu mau yang bagaimana?” tanyaku pada Devin.


Devin pun menghentikan jalannya lalu berbisik ke telingaku. “Bagaimana kalau menghabiskan malam panas seperti tadi,” bisiknya.


Aku hanya melototkan mataku pada Devin namun dia hanya tersenyum lalu mencubit hidungku dengan pelan hingga membuatku reflek dan memukul lengannya namun Devin segera menagkap dan ya, Devin mencium bibirku dengan lembut. Sedangkan aku masih terpaku karena Devin melakukannya dengan tiba-tiba. Ciuman Devin tak berlangsung lama dia cepat menyudahinya hingga kembali mengajakku jalan dengan cepat.


“Devin bisa enggak kita jalannya pelan-pelan saja,” ucapku.


Devin pun menoleh padaku, “Sebaiknya lebih cepat sayang atau kita akan melakukannya di sini kamu mau?” tanya Devin.


“Iiih Devin, kenapa kamu mesum banget,” ucapku.


“Karena kamu begitu sangat mengoda sayang jadi tiap detik, menit, dan jam aku selalu menginginkan kamu,” ucapnya lalu dia kembali menyerang bibirku kali ini Devin melakukannya dengan sangat rakut dan terburu-buru.


Devin juga mengajakku duduk di kursi yang ada tak jauh dari mana kami berdiri. Kini aku berada di pangkuan Devin, sedangkan kini kami berdua berciuman. Ya, aku membalas ciumana Devin yang begitu memabukkan sedangkan tangan Devin yang awalnya di pinggang kini sudah menyusup masuk kedalam bajuku dan bermain-main di dalam sana..


“Ahhh, sttt, Dev. H-hentikan bagaimana jika nanti ada orang yang lewat,” ucapku melepaskan ciuman kami, akan tetapi Devin menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Enggak akan sayang, di sini hanya ada kita berdua mari kita lanjutkan. Aku sudah tak bisa menahannya lagi sayang,” ucap Devin dengan suara beratnya bahkan kini tangan Devin juga sudah menarik bajuku sampai atas. Setelah itu Devin langsung melakukannya, dia selalu tidak bisa menahan dirinya.


Setelah lama bermain dengan puas kini tangan Devin berusaha melepaskan kain yang masih tersisa di tubuhku, b\Devin pun juga seperti itu hingga dia menyuruku duduk di atasnya dan ya, kini kami berdua memulai pertempuran antara dua orang yang saling mencintai dan saling meinginkan satu sama lainnya, bahkan setelah sekian lama mereka tidak bertemu dan melakukannya kini mereka kembali menjadi satu.


__ADS_2