
Waktu terus berjalan dan kini Alena sudah tiga bulan berada di Swiss, kandungannya juga sudah menginjak sembilan bulan dan beberapa hari lagi Alena juga akan melahirkan anak tanpa sang suami, Jenny juga mengambil cuti selama seminggu takut jika nanti Alena melahirkan dan dirinya tak ada di apartemen.
Selama cuti Jenny menemani Alena di apartemen entah itu pergi keluar atau pun kemana, Nathan juga selama dua bulan ini sangat dekat dengan Alena dan juga sering keluar bersama baik ngajak jalan atau hanya sekedar makan saja.
“Alena kamu lagi apa?” Jenny yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Alena yang sedang duduk di sofa.
“Lagi main game,” ucapnya tanpa menoleh ke Jenny yang sekarang duduk di sampingnya.
“Na, kamu nggak kabarin orang tua kamu?” Jenny memberi saran agar Alena menghubungi appa dan eommanya.
“Nanti saja Jen, jika aku sudah siap, aku nggak nutup kemungkinan jika nanti aku lari ke sini hanya akan menjadi sia – sia,” ucap Alena berhenti memainnkan hpnya.
Jenny hanya mengangguk – angguk saja dan mengambil cemilan yang ada di meja.
**
Di tempat yang berbeda devin sedang sibuk meeting dengan kliennya yang datang dari Singapura dengan di dampingi oleh Evan. Meeting berjalan selama dua jam, setelah selesai meeting Devin mengajak kliennya untuk makan siang di restoran dekat dengan kantor.
“Pak Devin, ngomong – ngomong pak Devin ini sudah pintar, mapan, tampan dan juga tajir kapan ini mau menikah?” Daren menatap Devin menungu pertanyaan di jawab oleh Devin, karena selama menjalin hubungan kerja dengan Devin, Daren tak pernah melihat Devin dengan wanita.
“Sudah ada, tapi sedang menunggu wisudanya selesai,” bohong Devin.
__ADS_1
“Wah, tapi kok saya nggak pernah lihat pak Devin jalan dengannya atau saat pesta perusahaan atau yang lainnya pak Devin mengajaknya?” Daren masih kepo dengan pacar Devin.
“Kebetulan kekasih sedang meneruskan kuliahnya di Korea Selatan dan kami juga jarang bertemu,” ucap Devin kembali berbohong.
Daren hanya mengangguk saja, makanan sudah tersaji di meja, Devin langsung mengajak makan karena sudah tak enak dengan suasana yang di timbulkan Daren karena bertanya tentang kekasih Devin dan itu mengingatkannya pada Alena yang sampai saat ini dirinya beliu menemukannya.
Selesai makan siang Devin kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya dirinya bersandar sambil memikirkan Alena.
“Sayang kamu dimana, dan kenapa kamu pergi tanpa sepengetahuanku, kenapa? Apa gara – gara waktu itu aku menemukan persembunyianmu,” ucapnya sambil mengusap wajahnya.
Devin menatap foto Alena yang terlihat cantik setiap harinya di mata Devin, Devin menyungingkan senyumnya, lalu mencium foto Alena.
Tokk! Tokk! Tokk!
“Masuk,” teriak Devin.
Evan masuk ke dalam ruangan Devin dengan membawa beberapa berkas, kini Evan duduk di depan Devin.
“Ada apa Van?” Devin menatap Evan.
“Ini tuan berkas yang harus anda tanda tangani,” sambil menyodorkan berkas yang di bawanya tadi.
__ADS_1
Devin mengambilnya dan membukanya membaca satu persatu dengan teliti.
“Evan gimana dengan pencarian Alena?” Devin mempertanyakan soal dirinya menyuruh anak buah Evan untuk melacak keberadaan Alena.
“Maaf tuan sampai saat ini juga kami belum bisa menemukannya,” Evan hanya menundukkan kepalanya karena takut Devin marah.
Lagi – lagi Devin hanya mengeluarkan nafas beratnya, kenapa Alena sangat sulit sekali di temukan, apa sebenarnya dirinya menganti namanya atau pergi ke negara mana yang Devin belum selidiki.
“Ya sudahlah, aku akan membayar beberapa detektif saja untuk mencari Alena,” ucapnya dengan wajah sendu.
Evan hanya mengangguk mengerti keadaan Devin untuk beberapa bulan ini, Devin terlalu memaksakan agar bisa bersama dengan Alena, dan selama beberapa bulan ini juga Devin menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja.
Evan juga selalu melihat Devin bekerja lembur walaupun Devin selalu menyuruh Evan untuk pulanh duluan namun Evan lebih memilih menemani tuannya itu untuk lembur, Evan hanya takut jika nanti terjadi apa – apa dengan tuannya.
Devin memberikan berkan yang tadi kepada Evan kembali, lalu Evan menerimannya dan langsung pergi keluar ruangan Devin meninggalkan Devin sendirian. Kini Devin melamun memikir Alena yang dulu selalu ada di dekatnya dan kini pergi entah kemana.
“Andai waktu bisa aku putar pasti kejadiannya nggak akan begini,” ucapnya kembali.
Devin membereskan meja kerja dan mengambil jasnya lalu pergi keluar ruangan, mungkin dengan mencari udara segar jauh lebih baik bisa menghilangkan kegelisahannya dan pikirannya sejenak.
Devin melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor, Devin menjalankan mobilnya entah kemana yang terpenting dirinya bisa menemukan tempat untuk menyendiri, Devin terus membelah jalanan dengan mobilnya yang kebetulan jalan tak terlalu ramai.
__ADS_1