Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Sekretaris baru


__ADS_3

Karena kesibukkan Evan, dimana dia sekretaris dan juga orang kepercayaan Devin. Dimana Devin selalu memberikan Evan kesibukkan setiap harinya dan dia saat ini memerluhkan sekretaris baru. Ya, Devin menyuruh Evan untuk mencari sekretaris penggantinya, karena bagaimana juga Devin sangat membutuhkannya, apa lagi membantu mencatat jadwal setiap harinya dan dia juga ingin sekretaris barunya itu bekerja dengan baik dan teliti, tentu saja juga rajin. Devin yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya, dia memijit keningnya yang sedikit pusing, dimana dia juga kurang tidur dan pekerjaannya yang sangat banyak, bahkan semalam dia juga tidak dapat jatah dari Alena dan itu membuatnya semakin pusing saja.


Tiba-tiba saja pintu ruangannya pun terbuka, memperlihatkan Evan dan seorang wanita cantik dengan menggunakan kacamata, Evan berjalan mendekati Devin. “Tuan, ini sekretaris baru untuk tuan, namanya Sandra, dan aku yakin jika Sandra ini akan bekerja dengan baik, dia lulusan terbaik di luar negeri dan dia juga pernah bekerja di perusahaan asing selama beberapa tahun, menurut tuan bagaimana?” tanya Evan.


Sedangkan Devin melihat penampilan Snadra yang sangat sexy seolah ingin menggodannya, dan Devin pun segera meminta data tentangnya dimana di situ Sandra mendapatkan predikat yang baik, dan benar apa kata Evan barusan. Devin pun melihat kembali Sandra dan menatapnya sebentar, lalu menghembuskan nafas panjangnya. “Baiklah, kamu bisa bekerja saat ini juga, dan satu lagi mulai besok kamu jangan memakai baju seperti saat ini, lebih tertutup itu lebih baik,” ucap Devin.


Sandra hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Devin, namun dia juga sangat malu karena ucapan Dvin barusan. Karena sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan kritikan dari bosnya saat dia memakai baju sexy dan malah bosnya akan terlihat sangat senang, bahkan dengan senang hati Sandra akan memberikan tubuhnya itu dinikmati oleh bosnya, selain mendapatkan gaji yang besar dia juga bisa mendapatkan tambahan dari bosnya karena telah memuaskannya. Setelah itu Devin menyuruh Evan untuk membawa Sandra ke ruangannya, selain itu juga Devin menyuruh Evan untuk mengajarkan Sandra apa yang belum dia ketahui.


Devin kembali meneruskan pekerjaannya, namun dia sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya sehingga dia beranjak dari kursinya dan menuju sofa. Devin membaringkan tubuhnya ke sofa, dengan satu tangannya menutup matanya, Devin mencoba menutup matanya, dia ingin istirahat sebentar lalu baru nanti dia akan melanjutkan pekerjaannya. Mungkin karena beberapa hari ini sibuk dengan proyek barunya juga, jadi waktu untuk istirahat juga berkurang selain mengerjakan tumpukan kertas yang ada di mejanya.

__ADS_1


Tanpa di sadari hari sudah sore dimana waktunya jam pulang kantor sudah tiba, Devin terbangun dan saat itu pula pintu ruangannya menampilkan Sandra sang sekretaris. Devin pun langsung terduduk dan menatap Sandra dengan tidak sukanya dimana baju yang dia kenakan sangat membuatnya risih. “Kenapa kamu tidak mengetuk pintu lebih dulu?” tanya Devin dingin.


“M-maaf t-tuan, karena sedari tadi saya sudah mengetuk pintu ruangan tuan namun tidak ada jawaban dari tuan sama sekali,” ucap Sandra dengan menundukkan kepalanya.


Devin mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap kembali Sandra. “Oh, memangnya ada apa?” tanya Devin kembali.


“Ini s-sudah w-waktunya jam pulang kantor tuan, apa saya boleh kembali pulang saat ini juga,” ucap Sandra.


“Kalau begitu kamu bisa kembali, dan ingat besok jangan sampai telat,” ucap Devin, dan Sandra hanya mengangguk, lalu berpamitan pada Devin untuk keluar dari ruangannya. Sedangkan Devin yang masih berada di ruangannya terdiam sejanak, lalu mencari nomor Alena, Devin berniat menelepon istrinya akan tetapi dia mengurungkan niatnya dan kembali menatap tumpukan berkas yang masih banyak. Devin berniat membawa berkas itu ke rumah saja dan mengerjakan semuanya di rumahnya, dia tidak ingin bermalam di kantor sendirian seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


Devin beranjak dari sofa, dia berjalan ke arah mejanya dan mulai membereskan semua berkas yang akan dia bawa dan memasukkan ke dalam tasnya, lalu setelah itu dia berjalan keluar ruangannya menuju lift untuk turun ke basemant. Sampai di basemant Devin masuk ke dalam mobilnya, dia melepaskan jasnya lebih dulu dan melonggarkan dasinya, tidak lupa dia juga menggulung kemejanya sampai siku, setelah itu Devin menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor.


Seperti biasa sampai di rumah Devin selalu di sambut dengan mesra oleh Alena, tidak lupa juga Devin mencium kening Alena.


“Kamu mau langsung mau makan dulu? Apa mau mandi dulu?” tanya Alena, sambil menatap suaminya yang sangat tampan bagaikan dewa Yunani.


“Hm, boleh. Lagi pula aku juga sudah sangat lapar,” ucap Devin, sambil menggandeng tangan Alena menuju ruang makan. Alena selalu melayani Devin, mulai menggambilkan nasi dan lauk pauk untuknya.


“Sayang, Kaendra sama Alice mana? Kenapa mereka tidak ikut malam bersama?” tanya Devin menatap Alena, sedangkan Alena hanya tersenyum.

__ADS_1


“Kaendra sudah makan lebih dulu tadi karena dia sudah merasa lelah dan mengantuk, sedangkan Alice dia belum kembali dan dia juga bilang jika dia akan kembali telat,” ucap Alena dan Devin hanya mengangguk melanjutkan makannya, dimana masakan istrinya itu sangatlah lezat.


__ADS_2