
Penerbangan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan Alena pun memejamkan matanya untuk tidur. Alena kembali menghembuskan nafasnya beratnya kembali, sambil memejamkan matanya Alena juga memikirkan nasibnya ke depan untuk menghidupi anak dan juga dirinya, memang saat ini tabungannya sangat banyak tapi nanti jika dirinya gunakan juga akan habis, maka Alena juga harus memikirkan pekerjaan setelah sampai di Swiss nanti, mungkin akan minta bantuan Jenny agar nanti mencarikan pekerjaan.
Di tempat yang berbeda Devin sedang menemui kliennya yang berada di Seoul yang kebetulan juga Devin sedang berada di Korea Selatan. Devin begitu terlihat sangat semangat begitu semalam bisa menghabiskan waktu dengan Alena.
Devin berniat membeli hadiahg untuk Alena saat nanti pulang setelah selesai bertemu dengan kliennya. Setelah usai pertemuan Devin pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Seoul, Devin berencana membelikan cincin dan kalung untuk sang kekasih.
Setelah beberapa waktu memilih dan Devin segera membayarnya dan meminta pelayan untuk membungkusnya dengan cepat. Devin segera keluar dari pusat perbelanjaan itu dan masuk ke dalam mobilnya, dirinya begitu sangat bahagia dan Devin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan menuju Busan, Devin tak henti – hentinya tersenyum dan sebentar lagi dirinya akan kembali menemui Alena dengan membawakan hadiah.
“Sayang, tunggu aku, aku segera datang ke rumah,” ucap Devin dengan lirih.
**
Sampai di pelataran rumah Alena, Devin menghentikan mobilnya dan langsung keluar mobilnya dirinya berlari kecil ke depan pintu dan memencet bel yang berada di smping pintu, pintupun tak berapa lama terbuka dan yang membukanya seorang art.
“Apa Alena berada di ruamah?” tanya Devin.
__ADS_1
“Ada tuan, tadi nona Alena berada di dalam kamarnya, silahkan tuan masuk,” ucap art itu, Alena pergi dari rumah tanpa sepengetahuan siapa pun, Alena menyelinap agar tak ada orang mengetahui jika dirinya pergi meninggalkan rumah.
Devin berlari dengan menaiki anak tangga ruamah Alena, Devin sudah tak sabar ingin bertemu dengan Alena.
“Sayang,” ucap Devin sambil tangannya mengetuk pintu kamar Alena.
Tak ada jawaban dari kamar Alena, Devin pun membuka pintu kamar Alena yang ternyata tak di kunci oleh Alena. Devin mencari Alena ke segala ruangan namun tak menemukan Alena dimana pun.
Devin duduk di tepi ranjang mencoba menghubungi nomor hp Alena namun nihil hpnya tak bisa di hubungi sama sekali. Devin menoleh ke samping di atas bantal ada sepucuk surat dan Devin pun langsung membuka surat itu.
“Untuk Devin, aku benar – benar minta maaf kepadamu, terima kasih selama ini kamu selalu baik, perhatian kepadaku, aku benar – benar mengucapkan terima kasih, Devin aku salut sama kamu karena kamu laki – laki yang bertanggung jawab tapi maaf Devin aku masih bingung dan bimbang akan hatiku Dev. Devin aku minta maaf sekali lagi, kamu tidak usah khawatirkan aku, dan satu lagi aku juga akan membesar anak ini dengan baik jadi kamu tenang saja. Devin kamu bisa melanjutkan hidup kamu dengan wanita lain yang jauh lebih baik menyanyangimu dan cinta kepadamu. Maaf Devin aku harus pergi jauh.”
Alena sayang kalian
Devin membaca surat itu sampai selesai, Devin meneteskan air matanya kenapa Alena harus meninggalkannya sendirian, padahal semalam kita berdua baik – baik saja dan tak ada masalah.
Devin segera menghubungi Lee agar segera kembali ke Busan karena Alena pergi jauh entah kemana yang pasti Alena tak memberi tahu.
__ADS_1
**
Alena sampai di bandara Zurich/Kloten Swiss, Alena menunggu Jenny di area tunggu karena saat tadi Alena turun dari pesawat dirinya segera menghubungi Jenny bahwa dirinya telah sampai di Swiss, akan tetapi Jenny mengatakan bahwa dirinya agak telat.
Alena mengatikan nomor hpnya dengan nomor Swiss dan dirinya tak menggunakan lagi nomor Korea. Alena melakukan ini agar siapapun tak bisa menghubunginya baik Devin maupun kedua orang tuanya.
“Alena,” teriak Jenny dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.
Alena pun segera berdiri dan menyapa temannya yang semakin tambah cantik saja.
“Hai, Jenny,” ucap Alena sambil merentangkan kedua tangannya agar Jenny memluknya.
“Welcome Swiss Alena, aku sangat merindukanmu sudah lama kita nggak bertemu,” ucap Jenny lalu melepaskan pelukkannya.
“Gimana anak yang berada di kandunganmu, apa baik – baik saja?” tanya Jenny.
“Sangat baik Jen, ayo kita langsung balik ke rumah kamu,” ajak Alena dan Jenny pun mengangguk dan segera mengajak Alena ke parkiran dimana Jenny memarkirkan mobilnya.
__ADS_1