
Hari ini Devin mengajak keluarga berlibur ke Busan, mereka ingin menghabiskan waktu selama seminggu di Busan. Ini memang sudah di rencanakan Devin beberapa hari yang lalu, bahkan keluarganya pun juga setuju, termasuk Alice dan Evan juga ikut. Bahkan Devin juga sudah memesan kamar hotel di Busan untuk satu minggu, dimana Devin memesan hotel yang terbaik di Busan. Mereka memilih naik pesawat untuk sampai di Busan karena lebih cepat, tentu saja Devin juga sudah menyiapkan mobil untuk nantinya menuju hotel, karena dirinya tidak ingin terjadi apa-apa pada Alena.
Sampai di bandara Busan, Devin langsung mengajak mereka semua menuju parkiran dimana sudah ada sang sopir yang menunggu. Mereka sangat bahagia karena bisa berlibur bersama, karena pada dasarnya mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Devin yang saat ini masih menggandeng erat tangan Alena, padahal sedari tadi Alena selalu di sampingnya dan tidak pernah jauh dari Devin.
“Sayang,” ucap Alena.
“Hmm,” hanya deheman yang keluar dari mulut Devin, karena saat ini Devin sedang memejamkan matanya. Wajar saja akhir-akhir ini dirinya kurang tidur.
“Pasti kamu sangat lelah dan mengantuk, seharusnya kita di rumah saja biar kamu bisa istirahat,” ucap Alena.
__ADS_1
Saat itu juga Devin langsung membuka matanya dan tersenyum, satu tangan Devin terulur untuk merapikan rambut Alena yang menutupi wajahnya. “Honey, aku melakukan ini semua karena aku ingin. Aku juga ingin menghabiskan waktu berdua bersama denganmu,” ucapnya.
Alena hanya bisa tersenyum, Devin benar-benar suami idaman. Dimana dia bisa mengerti akan dirinya, bahkan dia juga sangat romantis. Di usia kandunganku yang memasuki 5 bulan, Devin semakin bertambah posesif saja padaku, aku juga di larang Devin untuk melakukan segala sesuatu apa pun yang berat-berat, bahkan untuk pergi ke dapur saja tidak boleh.
Sampai di hotel, Devin langsung membagikan kartu akses pada kamar mereka masing-masing, bahkan Kaendra pun kamar sendiri, tentu saja aku tidak khawatir karena Devin membooking satu lantai yang ada di hotel itu. Setelah itu kami memasuki lift untuk menuju lantai paling atas, sampai di lantai atas Devin langsung mengajakku masuk ke dalam kamar, dan tiba-tiba saja Devin langsung memelukku dari belakang dan berbisik padaku, “Bolehkah aku memintanya?”
Ya, aku tahu maksud Devin. Karena semenjak kehamilanku kami memang membatasi hubungan intim kami agar janin yang ada di kandunganku tidak terjadi apa-apa. Aku menganggukkan kepalaku, lalu merubah posisiku menjadi menghadap Devin, aku mengalungkan kedua tanganku ke leher Devin. Saat itu juga Devin langsung menciumku dengan penuh nafsu, begitu juga dengan diriku, dimana saat masa kehamilanku, aku semakin ingin melakukannya tetapi aku juga harus ingat dengan janinku karena tidak boleh sering melakukan hubungan intim.
“Arrgghh, kenapa milikmu semakin sempit saja honey,” racau Devin.
__ADS_1
Aku mendesah menikmati setiap inci sentuhan Devin, bahkan aku juga sudah beberapa kali keluar akan tetapi Devin belum keluar sama sekali. Kami merubah posisi dimana aku duduk di pangkuan Devin, dengan perlahan aku mengerakkan tubuhku dengan di bantu oleh Devin. Beberapa saat kemudian kami pun keluar bersama, bahkan tubuhku ambruk memeluk Devin, sesekali Devin juga mencium punggungku dan mengucapkan terima kasih.
Lalu kami pun beristirahat dengan tubuh polos kami hanya tertutupi oleh selimut tebal, Devin memelukku dari belakang, dia juga mengusap-usap perutku yang sudah membuncit. Kami pun tertidur dan baru bangun sekitar pukul 07.00kst, aku membangunkan Devin karena sudah malam dan waktunya untuk makan malam. Aku menyuruh Devin untuk membersihkan badannya lebih dulu, akan tetapi dia tidak mau dan dia juga menggendongku masuk ke dalam kamar mandi dan akhirnya kami berendam dan melakukannya kembali.
Mungkin ada satu jam kami berada di kamar mandi, dan kami pun keluar dengan menggunakan bathrobe. Tiba-tiba saja pintu kamar kami pun di ketuk oleh Kaendra, dengan cepat Devin membukakannya.
“Mama dan papa kenapa lama sekali bukain pintunya? Kenapa kalian juga tidak ikut bergabung makan malam bersama,” ucap Kaendra yang langsung to the point.
“Hm, maaf tadi mama dan papa ketiduran. Kalau begitu nanti biar mama dan papa makan malam berdua saja,” ucap Devin.
__ADS_1
Saat itu juga Kaendra menatap Devin dengan tatapan tidak biasanya, “Bilang saja jika mamadan papa mau berduaan, ingat ada adik Ken di perut mama dan setelah kelahiran adik nanti kalian tidak berniat untuk menambah lagi bukan? Kaendra tidak mau, cukup adik yang di dalam perut mama saat ini saja,” ucap Kaendra.
Tentu saja itu sontak membuat tertawa Devin dan Alena, lalu Devin mendekati anak laki-lakinya itu dan berkata, “Baiklah, mama dan papa mengerti,” ucap Devin, dan saat itu juga Kaendra langsung keluar dari kamar kami, baik aku dan Devin masih menatap ke arah Kaendra yang kini sudah tidak terlihat lagi.