
Alena mengajak Devin untuk mengecek kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan, dimana perut Alena yang semakin membesar dan terkadang dia sangat kesusahan dengan perutnya yang sudah besar itu. Akan tetapi Devin selalu menjadi suami siap siaga, dia tidak ingin melihat Alena kenapa-napa dan jika terjadi sesuatu yang buruk maka dia yang akan merasa bersalah. Alena yang duduk di ruang keluarga sambil menunggu Devin turun, dia memainkan hpnya, namun tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Alena segera membukakan pintunya, dan saat pintu sudah terbuka dengan lebar, Alena dapat melihat siapa yang datang.
“Selamat pagi,” ucap Sandra dengan senyum lebarnya.
“Ya, pagi juga. Ada apa ya? Kenapa kamu datang kemari?” tanya Alena.
Dengan masih tersenyum manisnya dan tidak sadar diri Sandra langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin dari Alena lebih dulu, dan saat itu juga Sandra menoleh lalu berkata, “Tentu saja aku ingin menemui tuan, aku ingin meminta pertanggung jawaban,” ucapnya.
Alena masih berdiri terdiam di tempat sambil menatap Sandra, dia tidak mengerti maksud Sandra, pertanggung jawaban apa yang akan dia minta pada Devin. Saat itu juga Alena langsung mengejar Sandra, dimana dia sudah duduk manis di ruang tamu, tidak sampai di situ saja Alena juga menyuruh pelayan untuk membuatkan minum untuk Sandra.
“Apa maksud dengan perkataan kamu tadi San?” tanya Alena.
“Apa nona yakin? Jika nona siap mendengarkannya maka aku akan jujur saat ini juga,” ucapnya, bahkan dengan senyum liciknya. Seolah-olah dia bisa merebut Devin dari Alena, bahkan Sandra juga yakin bahwa dirinya akan berhasil dengan cara ini.
__ADS_1
“Sudah cukup tidak usah terlalu panjang lebar San, cepat kamu katakan sejujurnya,” ucap Alena, dimana dia sudah sangat emosi namun dia masih bisa mengontrolnya.
“Aku hamil anak tuan,” ucapnya menatap lekat Alena.
“Apa? Maksud kamu apa Sandra, sejak kapan aku menyentuhmu sehingga kamu beraninya mengaku jika kamu hamil anak aku,” ucap Devin yang saat itu juga mendengar pembicaraan Sandra. Alena yang syok mendengar itu hanya duduk di sofa, dia juga tidak percaya namun dia juga tidak bisa menolak kemungkinan, dimana dulu Devin dan Sandra selalu dekat, bahkan dia juga tidak semuanya tahu apa yang mereka lakukan.
“Kenapa? Apa tuan masih mau mengelaknya, tapi aku harus jujur sama tuan jika saya hamil anak tuan dan tuan harus bertanggung jawab,” ucap Sandra.
Devin mengusap punggung Alena dengan pelan, dia bermaksud akan menenangkan Alena namun Alena dengan cepat menyentakkan tangan Devin. “Kamu keterlaluan Dev,” ucapnya, dan Alena juga segera beranjak dari duduknya untuk meninggalkan mereka berdua.
Devin yang berusaha mencegah Alena gagal, bahkan saat dia mau mengejar Alena tangan Devin di cekal oleh Sandra dengan erat, “Mau kemana kamu Dev? Apa mau aku sebarkan ke semua orang jika aku hamil anak kamu dan kamu tidak ingin bertanggung jawab hm.”
“Silahkan San, lakukan jika kamu bisa. Maka setelahnya aku tidak akan memberi ampun kepadamu, bahkan aku juga tidak akan peduli lagi dengan pesan Austin,” ucap Devin dingin.
__ADS_1
“J-jadi k-kamu tidak takut?” tanya Alena.
Devin tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya, dia juga berkata, “Buat apa takut? Memangnya kamu yakin jika kamu hamil atau mungkin memang kamu hamil tapi itu anak Austin. Baiklah kalau begitu maka aku akan bicara padanya dan kita lihat apa yang akan dilakukan Austin padamu, hm, sepertinya kamu salah orang kali ini San, jadi jangan pernah buat ulah lagi jika nyawa kamu masih ingin selamat,” ucap Devin.
Saat itu juga Devin langsung melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal oleh Sandra dengan kasar. Namun sebelum Devin pergi dia menoleh ke arah Sandra dan berkata, “Jika nanti terjadi apa-apa dengan Alena, maka lihat saja yang aku lakukan padamu, bahkan lebih kejam dari sebelumnya dan aku juga tidak akan segan-segan mengadukanmu pada Austin,” ancam Devin, saat itu juga Devin langsung pergi meninggalkannya untuk menyusul Alena.
“Devin, brengsek!” teriak Sandra.
Sandra menjadi tatapan semua pelayan yang ada di rumah Devin, bahkan mereka juga berbisik-bisik membicarakannya.
“Apa! Kalian ingin mata kalian aku congkel hah!” teriak Sandra, dan saat itu Sandra juga langsung pergi keluar dari rumah Devin, dengan mengepalkan kedua tangannya. Dia kira permainannya saat ini akan berhasil namun sialnya dia sendiri yang masuk dalam permainan yang dia ciptakan sendiri.
“Arrrgggh! Brengsek, andai saja aku tidak hamil namun sayangnya kenapa aku harus mengandung anak Austin,” ucap Sandra, jujur saja dia sangat terpukul setelah mengetahui kehamilannya yang sudah berusia dua minggu, namun dia belum memberi tahu Austin. Dia menginginkan jika anak yang dikandungnya itu adalah anak Devin namun dia tidak semudah itu untuk masuk ke dalam kehidupan Devin.
__ADS_1