
Hari ini Alena dan Jenny sedang memasak di dapur mereka sedang memasak buat makan siang nanti, kebetulan hari ini Jenny sedang libur dan ini kesempatan mereka berdua menghabiskan waktu. Alena memasak sup daging dan dari aromanya sangat mengungah selera makan, dan kebetulan juga di luar cuacanya sedang dingin.
“Alena gimana kalau nanti sore kita ke dokter untuk periksa kandungan kamu,” ajak Jenny sambil menata makanan di meja makan.
“Boleh juga Jen, selama di sini beberapa hari ini aku belum pernah periksa kandungan aku,” ucap Alena yang masih sibuk mengaduk supnya dan sesekali merasakan apa yang kurang dari supnya itu.
Setelah beres dan selesai dengan rutinitas masaknya mereka makan bersama, mereka sambil sesekali mebahas hal – hal lucu dan soal pekerjaan, Alena masih bersihkeras untuk memita tolong kepada Jenny agar mencarikan kerjaannya dan memperbolehkan kerja.
Jenny lagi – lagi menolak akan keinginan Alena, Jenny tak akan membiarkan Alena bekerja karena untuk saat ini kandungannya yang sudah mulai membesar semakin hari membuatnya khawatir jika nanti terjadi apa – apa.
“Sudahlah Alena jang membahas itu lagi dan aku tak akan pernah membiarkan kamu kerja, dengar ya Alena kamu cukup aja di apartemen karena aku nggak mau nanti calon ponakan aku kenapa – napa.” Jenny langsung membawa piring bekas makannya ke tempat cucian piring.
Alena hanya diam tanpa menjawab, dirinya hanya menatap punggung Jenny dengan tatapan Alena yang sulit diartikan.
__ADS_1
**
Setelah selesai makan siang Jenny dan Alena duduk di sofa sambil melihat acara televisi yang di tampilkan. Mereka berdua masih saling berdiaman saja tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka.
Alena sesekali menoleh ke Jenny yang serius melihat acara televisi sambil memakan snack kentang yang selalu jadi makan wajib bagi Jenny.
“Jen, kamu marah sama akau?” Alena bertanya dengan yang sangat pelan, dan Jenny pun menoleh ke Alena dan menatapnya lalu tersenyum.
“Aku nggak marah sama kamu Alena, aku hanya takut jika kamu dan anak yang ada di kandunganmu nanti terjadi apa – apa,” ucap Jenny lalu memeluk Alena dengan erat dan mereka berdua saling berpelukan.
“Lalu? Aku harus gimana Jen?” Alena bertanya sekali lagi kepada Jennya temannya itu.
“Alena kamu tenang saja uang aku banyak jadi kamu nggak perlu takut sampai segitunya jika kamu nngak kerja kita masih bisa makan kok,” ucap Jenny, dirinya sangat menyanyangi Alena lebih dari sahabat dan sudah menganggapnya sebagai saudara.
__ADS_1
Alena sangat terhalu dengan kebaikan Jenny, padahal selama di sini Alena mungkin banyak menyusahkan Jenny.
“Makasih sekali lagi Jen, aku banyak nyusahin kamu,” ucap sambil memegang tangan Jenny.
**
Sore harinya mereka pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan Alena, mereka sedang duduk di ruang tunggu menunggu giliran Alena di panggil.
Jenny dan Alena jadi pusat perhatian ibu – ibu dimana mereka dengan sang suami dan sedangkan mereka berdua tak ada laki – laki yang mengantarkannya, mereka mulai berbisik – bisik tak enak tentang keduanya yang masih didengar Jenny dan Alena.
Untung saja Alena segera di panggil oleh dokter untuk segera masuk dan begitu juga denga Jenny yang ikut masuk kedalam ruangan, Alena di periksa oleh dokter wanita yang sudah terlihat berumur setengah tua itu dengan teliti dokter itu menceritakan semuanya bahwa anak yang di kandung Alena bertumbuh dengan baik.
Dokter juga menyarankan agar Alena tak banyak pikiran karena itu nantinya juga menyebabkan kandungannya beresiko lahir sebelum waktunya atau hal lain, tak lupa juga dokter selalu meresepkan vitamin agar Alena selalu minum.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua langsung kembali ke apartemen, namun sebelum naik ke lantai atas Jenny mengajak Alena untuk pergi ke supermarket yang ada di lantai basement untuk membeli keperluan memenuhi kulkas.
Mereka berdua asik memilih berbagai sayuran, daging, buah dan yang lainnya, tak lupa juga mereka membeli roti dan susu. Alena sedang memilih susu ibu hamil, kini dirinya terpisah dari Jenny yang sedang memilih snack untuk camilan mereka, tanpa sadar dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang melihat Alena yang sedang sendirian