Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Honeymoon


__ADS_3

Alice dan Evan saat ini berada di Tokyo, mereka


berdua sedang berjalan-jalan dan mereka berdua juga akan makanan khas Jepang. Alice


sangat bahagia saat ini, dirinya bisa memiliki Evan untuk selamanya, walau pun


di awal dia harus merasakan sakit hati dan terkadan dia juga harus bertengkar


dengan Evan dan pertengkaran mereka juga tidak jelas karena memang semuanya


diawali oleh Alice yang marah lebih dulu tanpa Evan tahu.


Evan menggandeng tangen Alice dengan erat, dia


tidak ingin terpisah jauh dari Alice, dia ingin selalu berada di samping Alice.


“Sayang masih lamakah?” tanya Alice pada Evan, mereka berjalan sudah jalan


sedikit jauh, Alice merasa sedikit lelah saja karena memang dia sudah lama


tidak berjalan jauh.


“Sedikit lagi baby, kamu sudah sangat lelah?”


tanya Evan.


“Aniyo, hanya saja aku sudah lapar,” ucapnya


dan tentu saja Alice berbohong, sedangkan Evan hanya tersenyum dan mengajak


jalan Alice lebih cepat agar cepat sampai.


Akhirnya mereka sampai di restoran Jepang,


mereka duduk di dekat kaca agar bisa melihat pemandangan luar yang sangat


indah, bahkan saat ini Alice yang sedang menatap menu makanan, dia sangat ingin


memesan semuanya. Alice memesan ramen, onigiri, dan mocha, sedangkan Evan dia


lebih memilih memesan takoyoki dan shabu-shabu. “Apa kamu yakin akan memakan


semuanya baby?” tanya Evan, karena tidak biasanya Alice makan banyak, karena


biasanya Alice sangat menjaga tubuhnya yang katanya takut gemuk.


“Tentu saja, karena lagi ada di sini. Jadi makan


banyak tidak masalah bukan? Lagi pula masih ada kamu yang akan menghabiskan


makanannya,” ucap Alice tersenyum pada suaminya.


“Dasar kamu bisa saja,” ucap Evan.


Di sisi lain Alice belum tahu jika mama dan


adik tirinya tinggal bersama dengan Devin dan Alena karena memang mereka tidak


memberitahu, mereka ingin honeymoon Alice dan Evan tidak ada gangguan sama


sekali. Mereka ingin honeymoon Alice dan Evan terjadi dengan sangat romantis


seperti pasangan lainnya, bahkan Devin dan Alena juga berpesan pada keduanya


untuk tidak memikirkan soal pekerjaan, karena di sini Devin yang akan


menghandle semuanya.


Mereka makan siang dengan sangat tenang, bahkan


mereka juga saling menyuapi satu sama lain. Sampai orang yang ada di sekitarnya


di buat iri oleh mereka berdua, mereka juga ingin seperti Alice dan Evan namun


kenyataan mereka bahkan tidak memiliki kekasih atau kekasihnya tidak rpmantis


seperti Evan.


“Bagaimana makanannya? Apa kamu sangat


menyukainya baby?” tanya Evan.


Alice langsung menganggukan kepalanya, “Ini


sangatlah enak saying, bahkan selera makanku bertambah kali lipat. Bagaimana jika


nanti aku bertambah gemuk apa kamu masih akan tetap menerimaku?” tanya Alice


menatap Evan.


Evan hanya bisa tertawa dengan pertanyaan sang


istri, “Tentu saja aku masih menerima kamu saying, walau pun kamu makan banyak


tapi aku yaki badan kamu juga akan tetap seperti itu baby dan tidak akan


bertambah.”


Memang walau Evan baru tahu Alice makan banyak


kali ini namun Alice sering makan manis dan berlemak akan tetapi badannya tetap


sama dan tidak bertambah. Apa lagi Alice juga terkadang pagi sempat


menyempatkan waktu untuk olahraga walau hanya sebentar saja dan itu tetap akan


membuat badan Alice bagus.

__ADS_1


“Kamu bisa saja pujia aku saying,” ucap Alice


sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut.


Selesai makan siang mereka kembali ke hotel


namun sebelum itu mereka berdua pergi ke supermartket lebih dulu untuk membeli


makanan ringan untuk di kamar nanti, bahkan Alice juga membeli beberapa minuman


yang tentunya rendah kalori begitu juga dengan makanan ringan yang dia pilih


sedangkan Evan hanya mengikuti Alice di belakangnya, tidak lupa juga Alice


membeli buah-buahan yang sangat jarang di jual di Seoul.


Mereka kembali ke hotel untuk istirahat, karena


semalam mereka juga hanya tidur sebentar dan itu semua karena Evan yang terus


meminta jatahnya, rasanya dia tidak akan pernah puas hanya dengan bermain satu


sampai tiga kali saja. “Baby, sini,” ucap Evan.


Evan yang menepuk-nepuk pahanya agar Alice


duduk di pangkuannya, “Kenapa saying, jangan bilang kamu akan meminta jatah


kamu lagi. Aku tidak ingin, aku sangat lelah dan aku ingin istirahat dulu.”


“Aniyo, aku hanya ingin memelukmu saja saying,”


ucap Evan.


Alice pun menuruti apa yang dikatakan oleh


Evan, dirinya sama sekali tidak keberatan jika hanya dipeluk oleh Evan. Mereka duduk


berdua sambil menatap keluar hotel di sini mereka dapat melihat pemandangan


kota Tokyo, bahkan sesekali Evan juga mencium puncak kepala Alice dengan sayang.


Sedang di tempat yang berbeda mama dan adik


tirinya sedang bersenang-senang, mereka menikmati uang yang mereka dapat untuk


berbelanja baju dan yang lainnya, uang itu mereka dapat dari Devin, bahkan


Devin juga memberikan mereka uang yang begitu banyak. Sungguh mereka


benar-benar membuat Alice jelek namanya nantinya, dan nantinya Alice juga akan


di buang oleh mereka.


“Mama sungguh menikmati hari ini dimana kita


“Mama benar juga, apa mereka sangat bodoh? Atau


Alice memang tidak pernah cerita tentang kita sehingga mereka dengan mudahnya


memberikan uang pada kita,” ucap Sania.


“Mama tidak peduli dengan itu yang mama


pedulikan hanya uang dan kamu harus belanja baju yang bagus, nanti malam kamu


juga akan bertemu dengan klien penting dan mama harap kamu akan melayaninya


dengan sangat baik,” ucap Mareta.


“Sampai kappa aku akan seperti ini ma, bahkan


Sania tidak ingin bekerja seperti itu, membuat Sania sangat jijik,” ucap Sania.


Saat itu juga Mareta menghentikan jalannya dan


menatap Sania dengan tatapan tajamnya, “Sampai kamu menjadi anak yang berguna


dan menguntungkan untuk mama atau kamu kalau bisa rebut suami Alice atau suami


Alena yang tajir melintir itu. Kamu memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda


dan mama yakin siapa yang tidak tertarik dengan tubuhmu,” ucap Mareta.


Sungguh kejam bukan? Seorang ibu tega


memperlakukan anaknya seperti itu, sampai menyuruh anaknya bekerja seperti itu.


Dimana pekerjaan itu sangatlah tidak baik, memang di negara mereka itu adalah


hal biasa bahkan mereka mau megakang dimana saja tidak akan ada orang


memprotesnya. Sedangkan Sania hanya bisa mengangguki apa yang dikatakan oleh


mamanya, dia tidak akan pernah bisa melawan atau nantinya hidupnya juga akan


sial menjadi gelandangan jika di usir oleh sang mama.


“Sudah jangan pernah banyak tanya dan teruslah


menurut pada mama, karena mama akan melakukan yang terbaik untuk dirimu Sania


agar kamu terus bisa hidup enak,” ucap Mareta, lalu menarik tangan Sania


memasuki sebuah took baju dengan brand yang terkenal di dunia, karena nanti


malam Sania akan bertemu dengan salah satu bos mafia yang tentu terkemuka dan

__ADS_1


Sania harus berdandan yang cantik, selain itu juga bisa memuaskannya di ranjang


agar mereka mendapatkan uang yang banyak.


Mereka kembali ke rumah Alena dan Devin dengan


kantong belanjaan yang banyak di tangan mereka, bahkan Alena juga dapat


melihatnya namun dia tidak akan menegur mereka. Entah kenapa Alena juga


memiliki perasaan yang tidak enak dan mengira mereka juga orang baik-baik namun


Alena juga tidak bisa mengusir mereka karena mereka berdua adalah keluarga


Alice dimana Alice juga sangat membantu keluarganya dan menggantikan dia


memimpin perusahaan walau hanya sebentar, tidak hanya itu Alice juga dulu


menjaga Kaendra dengan sangat baik, dia juga sudah menjadikan Alice sebagai


saudaranya walau beda orang tua. Alena juga tidak akan tega mengusir mereka


begitu saja, bagaimana nantinya Alice saat tahu orang yang di sayangi di usir


oleh dirinya.


Sania merebahkan badannya di ranjang, dia


tersenyum saat pertama kali bertatapan dengan Evan walau lelaki itu tidak


melihatnya namun Sania jatuh cinta pada pandangan pertama dan dia ingin memilik


Evan untuk selamanya, akan tetapi dia harus menyingkirkan Alice dari hidup


Evan.


Evan dan Alice saat ini berada di taman melihat


bintang-bintang di langit yang bersinar begitu indah, langit mala mini memang


cerah sehingga banyak bintang yang memenuhi langit dengan sinarnya yang


warna-warni. Walau udara malam yang sedikit dingin namun Alice dan Evan ingin


menghabiskan waktu mereka berdua walau hanya berjalan-jalan malam di taman


dekat dengan hotel yang mereka tempati.


“Sayang terima kasih sudah mengajakku kesini


walau ini bukan pertama kalinya bagiku tapi aku sangat suka di sini,” ucap


Alice.


Evan tersenyum lalu mencium bibir Alice


sebentar, “Apa kamu ingin kita pindah ke sini?”


“Tidak, aku ingin tinggal di Seoul saja karena


aku tidak ingin jauh dari keluargaku, bagaimana juga mereka adalah keluargaku


yang sangat baik dan sudah membantuku,” ucap Alice dan Evan hanya


menganggukinya.


Di sisi lain Evan juga bekerja untuk Devin,


bagaimana juga dia tidak bisa jauh dan pindah kerja karena posisinya yang sudah


dipercaya sepenuhnya oleh Devin. Bahkan gajinya juga tidak main-main, dia


bahkan bisa membeli apartemen yang sangat mahal dan beberapa barang yang dia


inginkan, bekerja dengan Devin juga sudah sangat lama bahkan Evan juga sudah


menganggap Devin seperti saudara.


“Kamu benar sayang, karena kita memang dekat


dengan mereka dan kita juga tidak akan mudah meninggalkan mereka begitu saja,”


ucap Evan.


Kehidupan mereka memang terus berputar namun


mereka juga tahu yang namanya berterima kasih, mereka juga tahu diri. Mereka dipertemukan


dengan orang baik dan tidak mungkin mereka akan berbuat jahat dengan Alena dan


Devin yang sudah membantu banyak mereka, karena mencari orang baik itu tidaklah


mudah apa lagi hidup saat ini banyak orang jahat yang menghancurkannya begitu


saja.


“Lebih baik kita kembali ke hotel karena


hawanya yang semakin dingin dan tidak baik untuk kesehatan, atau kamu ingin


membeli sesuatu lebih dulu?” tanya Evan.


“Aku ingin membeli makanan itu,” ucap Alice


sambil menunjukkan salah satu penjual makanan yang jualan tidak jauh dari situ,


Alice segera menarik tangan Evan untuk menuju ke penjual makanan.

__ADS_1


__ADS_2