
Alice dan Evan saat ini berada di Tokyo, mereka
berdua sedang berjalan-jalan dan mereka berdua juga akan makanan khas Jepang. Alice
sangat bahagia saat ini, dirinya bisa memiliki Evan untuk selamanya, walau pun
di awal dia harus merasakan sakit hati dan terkadan dia juga harus bertengkar
dengan Evan dan pertengkaran mereka juga tidak jelas karena memang semuanya
diawali oleh Alice yang marah lebih dulu tanpa Evan tahu.
Evan menggandeng tangen Alice dengan erat, dia
tidak ingin terpisah jauh dari Alice, dia ingin selalu berada di samping Alice.
“Sayang masih lamakah?” tanya Alice pada Evan, mereka berjalan sudah jalan
sedikit jauh, Alice merasa sedikit lelah saja karena memang dia sudah lama
tidak berjalan jauh.
“Sedikit lagi baby, kamu sudah sangat lelah?”
tanya Evan.
“Aniyo, hanya saja aku sudah lapar,” ucapnya
dan tentu saja Alice berbohong, sedangkan Evan hanya tersenyum dan mengajak
jalan Alice lebih cepat agar cepat sampai.
Akhirnya mereka sampai di restoran Jepang,
mereka duduk di dekat kaca agar bisa melihat pemandangan luar yang sangat
indah, bahkan saat ini Alice yang sedang menatap menu makanan, dia sangat ingin
memesan semuanya. Alice memesan ramen, onigiri, dan mocha, sedangkan Evan dia
lebih memilih memesan takoyoki dan shabu-shabu. “Apa kamu yakin akan memakan
semuanya baby?” tanya Evan, karena tidak biasanya Alice makan banyak, karena
biasanya Alice sangat menjaga tubuhnya yang katanya takut gemuk.
“Tentu saja, karena lagi ada di sini. Jadi makan
banyak tidak masalah bukan? Lagi pula masih ada kamu yang akan menghabiskan
makanannya,” ucap Alice tersenyum pada suaminya.
“Dasar kamu bisa saja,” ucap Evan.
Di sisi lain Alice belum tahu jika mama dan
adik tirinya tinggal bersama dengan Devin dan Alena karena memang mereka tidak
memberitahu, mereka ingin honeymoon Alice dan Evan tidak ada gangguan sama
sekali. Mereka ingin honeymoon Alice dan Evan terjadi dengan sangat romantis
seperti pasangan lainnya, bahkan Devin dan Alena juga berpesan pada keduanya
untuk tidak memikirkan soal pekerjaan, karena di sini Devin yang akan
menghandle semuanya.
Mereka makan siang dengan sangat tenang, bahkan
mereka juga saling menyuapi satu sama lain. Sampai orang yang ada di sekitarnya
di buat iri oleh mereka berdua, mereka juga ingin seperti Alice dan Evan namun
kenyataan mereka bahkan tidak memiliki kekasih atau kekasihnya tidak rpmantis
seperti Evan.
“Bagaimana makanannya? Apa kamu sangat
menyukainya baby?” tanya Evan.
Alice langsung menganggukan kepalanya, “Ini
sangatlah enak saying, bahkan selera makanku bertambah kali lipat. Bagaimana jika
nanti aku bertambah gemuk apa kamu masih akan tetap menerimaku?” tanya Alice
menatap Evan.
Evan hanya bisa tertawa dengan pertanyaan sang
istri, “Tentu saja aku masih menerima kamu saying, walau pun kamu makan banyak
tapi aku yaki badan kamu juga akan tetap seperti itu baby dan tidak akan
bertambah.”
Memang walau Evan baru tahu Alice makan banyak
kali ini namun Alice sering makan manis dan berlemak akan tetapi badannya tetap
sama dan tidak bertambah. Apa lagi Alice juga terkadang pagi sempat
menyempatkan waktu untuk olahraga walau hanya sebentar saja dan itu tetap akan
membuat badan Alice bagus.
__ADS_1
“Kamu bisa saja pujia aku saying,” ucap Alice
sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Selesai makan siang mereka kembali ke hotel
namun sebelum itu mereka berdua pergi ke supermartket lebih dulu untuk membeli
makanan ringan untuk di kamar nanti, bahkan Alice juga membeli beberapa minuman
yang tentunya rendah kalori begitu juga dengan makanan ringan yang dia pilih
sedangkan Evan hanya mengikuti Alice di belakangnya, tidak lupa juga Alice
membeli buah-buahan yang sangat jarang di jual di Seoul.
Mereka kembali ke hotel untuk istirahat, karena
semalam mereka juga hanya tidur sebentar dan itu semua karena Evan yang terus
meminta jatahnya, rasanya dia tidak akan pernah puas hanya dengan bermain satu
sampai tiga kali saja. “Baby, sini,” ucap Evan.
Evan yang menepuk-nepuk pahanya agar Alice
duduk di pangkuannya, “Kenapa saying, jangan bilang kamu akan meminta jatah
kamu lagi. Aku tidak ingin, aku sangat lelah dan aku ingin istirahat dulu.”
“Aniyo, aku hanya ingin memelukmu saja saying,”
ucap Evan.
Alice pun menuruti apa yang dikatakan oleh
Evan, dirinya sama sekali tidak keberatan jika hanya dipeluk oleh Evan. Mereka duduk
berdua sambil menatap keluar hotel di sini mereka dapat melihat pemandangan
kota Tokyo, bahkan sesekali Evan juga mencium puncak kepala Alice dengan sayang.
Sedang di tempat yang berbeda mama dan adik
tirinya sedang bersenang-senang, mereka menikmati uang yang mereka dapat untuk
berbelanja baju dan yang lainnya, uang itu mereka dapat dari Devin, bahkan
Devin juga memberikan mereka uang yang begitu banyak. Sungguh mereka
benar-benar membuat Alice jelek namanya nantinya, dan nantinya Alice juga akan
di buang oleh mereka.
“Mama sungguh menikmati hari ini dimana kita
“Mama benar juga, apa mereka sangat bodoh? Atau
Alice memang tidak pernah cerita tentang kita sehingga mereka dengan mudahnya
memberikan uang pada kita,” ucap Sania.
“Mama tidak peduli dengan itu yang mama
pedulikan hanya uang dan kamu harus belanja baju yang bagus, nanti malam kamu
juga akan bertemu dengan klien penting dan mama harap kamu akan melayaninya
dengan sangat baik,” ucap Mareta.
“Sampai kappa aku akan seperti ini ma, bahkan
Sania tidak ingin bekerja seperti itu, membuat Sania sangat jijik,” ucap Sania.
Saat itu juga Mareta menghentikan jalannya dan
menatap Sania dengan tatapan tajamnya, “Sampai kamu menjadi anak yang berguna
dan menguntungkan untuk mama atau kamu kalau bisa rebut suami Alice atau suami
Alena yang tajir melintir itu. Kamu memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda
dan mama yakin siapa yang tidak tertarik dengan tubuhmu,” ucap Mareta.
Sungguh kejam bukan? Seorang ibu tega
memperlakukan anaknya seperti itu, sampai menyuruh anaknya bekerja seperti itu.
Dimana pekerjaan itu sangatlah tidak baik, memang di negara mereka itu adalah
hal biasa bahkan mereka mau megakang dimana saja tidak akan ada orang
memprotesnya. Sedangkan Sania hanya bisa mengangguki apa yang dikatakan oleh
mamanya, dia tidak akan pernah bisa melawan atau nantinya hidupnya juga akan
sial menjadi gelandangan jika di usir oleh sang mama.
“Sudah jangan pernah banyak tanya dan teruslah
menurut pada mama, karena mama akan melakukan yang terbaik untuk dirimu Sania
agar kamu terus bisa hidup enak,” ucap Mareta, lalu menarik tangan Sania
memasuki sebuah took baju dengan brand yang terkenal di dunia, karena nanti
malam Sania akan bertemu dengan salah satu bos mafia yang tentu terkemuka dan
__ADS_1
Sania harus berdandan yang cantik, selain itu juga bisa memuaskannya di ranjang
agar mereka mendapatkan uang yang banyak.
Mereka kembali ke rumah Alena dan Devin dengan
kantong belanjaan yang banyak di tangan mereka, bahkan Alena juga dapat
melihatnya namun dia tidak akan menegur mereka. Entah kenapa Alena juga
memiliki perasaan yang tidak enak dan mengira mereka juga orang baik-baik namun
Alena juga tidak bisa mengusir mereka karena mereka berdua adalah keluarga
Alice dimana Alice juga sangat membantu keluarganya dan menggantikan dia
memimpin perusahaan walau hanya sebentar, tidak hanya itu Alice juga dulu
menjaga Kaendra dengan sangat baik, dia juga sudah menjadikan Alice sebagai
saudaranya walau beda orang tua. Alena juga tidak akan tega mengusir mereka
begitu saja, bagaimana nantinya Alice saat tahu orang yang di sayangi di usir
oleh dirinya.
Sania merebahkan badannya di ranjang, dia
tersenyum saat pertama kali bertatapan dengan Evan walau lelaki itu tidak
melihatnya namun Sania jatuh cinta pada pandangan pertama dan dia ingin memilik
Evan untuk selamanya, akan tetapi dia harus menyingkirkan Alice dari hidup
Evan.
Evan dan Alice saat ini berada di taman melihat
bintang-bintang di langit yang bersinar begitu indah, langit mala mini memang
cerah sehingga banyak bintang yang memenuhi langit dengan sinarnya yang
warna-warni. Walau udara malam yang sedikit dingin namun Alice dan Evan ingin
menghabiskan waktu mereka berdua walau hanya berjalan-jalan malam di taman
dekat dengan hotel yang mereka tempati.
“Sayang terima kasih sudah mengajakku kesini
walau ini bukan pertama kalinya bagiku tapi aku sangat suka di sini,” ucap
Alice.
Evan tersenyum lalu mencium bibir Alice
sebentar, “Apa kamu ingin kita pindah ke sini?”
“Tidak, aku ingin tinggal di Seoul saja karena
aku tidak ingin jauh dari keluargaku, bagaimana juga mereka adalah keluargaku
yang sangat baik dan sudah membantuku,” ucap Alice dan Evan hanya
menganggukinya.
Di sisi lain Evan juga bekerja untuk Devin,
bagaimana juga dia tidak bisa jauh dan pindah kerja karena posisinya yang sudah
dipercaya sepenuhnya oleh Devin. Bahkan gajinya juga tidak main-main, dia
bahkan bisa membeli apartemen yang sangat mahal dan beberapa barang yang dia
inginkan, bekerja dengan Devin juga sudah sangat lama bahkan Evan juga sudah
menganggap Devin seperti saudara.
“Kamu benar sayang, karena kita memang dekat
dengan mereka dan kita juga tidak akan mudah meninggalkan mereka begitu saja,”
ucap Evan.
Kehidupan mereka memang terus berputar namun
mereka juga tahu yang namanya berterima kasih, mereka juga tahu diri. Mereka dipertemukan
dengan orang baik dan tidak mungkin mereka akan berbuat jahat dengan Alena dan
Devin yang sudah membantu banyak mereka, karena mencari orang baik itu tidaklah
mudah apa lagi hidup saat ini banyak orang jahat yang menghancurkannya begitu
saja.
“Lebih baik kita kembali ke hotel karena
hawanya yang semakin dingin dan tidak baik untuk kesehatan, atau kamu ingin
membeli sesuatu lebih dulu?” tanya Evan.
“Aku ingin membeli makanan itu,” ucap Alice
sambil menunjukkan salah satu penjual makanan yang jualan tidak jauh dari situ,
Alice segera menarik tangan Evan untuk menuju ke penjual makanan.
__ADS_1