
Malam ini Devin mengajak Sandra dan Evan untuk lembur, namun sayangnya Evan harus kembali lebih dulu karena ada pekerjaan yang lebih penting dan saat ini Sandra bersama dengannya. Bahkan sesekali Sandra juga berani meliriknya, bahkan Sandra juga sesekali memamerkan miliknya agar aku tergoda. Akan tetapi aku sama sekali tidak tertarik dengan itu, aku bahkan merasa tidak nyaman dan bahkan ingin sekali aku melempar Sandra saat ini juga keluar gedung kalau saja pekerjaanku saat ini banyak. Aku mengmbuskan nafas kasarku dan beranjak dari dudukku dan berjalan ingin keluar ruangan sebentar karena jujur saja aku merasa suntuk.
“Tuan, mau kemana?” tanya Sandra.
“Aku ingin keluar sebentar, dan kamu tolong segera selesaikan pekerjaan kamu. Jika sudah selesai maka kamu boleh segera pulang,” ucapku.
Saat itu juga aku kembali melangkahkan kaki namun lagi-lagi Sandra mencekal tanganku dengan kuat, sehingga aku menoleh ke arahnya dan menatap cekalan tangan Sandra, saat itu juga Sandra langsung melepaskannya. “Ada apa? Dan tolong jangan pernah kurang ajar kamu, seharusnya kamu tahu etika Sandra. Kamu hanya seorang sekretaris dan apa yang kamu inginkan dariku hm?” tanyaku dengan dingin.
“M-maksud tuan apa?” tanya Sandra balik.
Aku pun tersenyum kecil lalu kembali menatapnya lagi. “Aku bukan lelaki bodoh Sandra, kamu pikir saya tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan setiap harinya, jujur saja Sandra aku sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu kalau saya benar-benar tidak membutuhkan seorang sekretaris namun sayangnya saya masih membutuhkan kamu karena saya belum mendapatkan pengganti kamu,” ucapku.
__ADS_1
Sandra tersenyum dan bahkan saat ini dia juga berani berjalan mendekatiku agar lebih dekat lagi dan bahkan saat ini tak ada jarak di antara kami. Tangan Sandra yang semakin kurang ajar, menyentuh wajahku, tangannya bermain-main di wajahku semakin turun ke bawah sehingga kini menggalungkan tangannya di leherku, dia juga mmendekatkan wajahnya dan ingin menciumku. Beruntung saja aku segera melepaskan Sandra, bahkan aku mendorong tubuh Sandra hingga jatuh ke lantai, dia juga mengerang kesakitan.
“Cukup San, lebih baik kamu kembali pulang dan besok tidak usah kembali bekerja dan mulai malam ini kamu saya pecat,” ucap Devin dengan penuh kemarahan, bahkan dia berjalan keluar ruangannya, namun saat dia baru berjalan beberapa langkah teriakan sandra menghentikan langkahnya.
“Tunggu!” teriak Sandra.
“Mungkin kali ini kamu berlaku kasar padaku Devin, namun kita lihat saja sampai mana aku akan melakukannya agar kamu bisa jatuh ke pelukanku,” ucap Sandra.
“Ck! Dasar ******. Apa mau kamu Sandra?’ tanya Devin.
“Devin, bercintalah denganku,” ajak Sandra, saat itu juga Devin langsung melepaskan pelukan Sandra.
__ADS_1
“Apa kamu gila? Sandra jangan pernah bermimpi kamu,” ucap Devin dingin.
Tapi bukan Sandra namanya kalau dirinya tidak memiliki segudang cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, Sandra tidak akan pernah menyerah sebelum apa yang dia inginkan belum tercapai. Sandra kembali meraih tangan Devin dan menuntun tangan itu ke miliknya lalu Sandra menyuruh untuk meremasnya, akan tetapi dengan segera Devin menyentakkan tangan Sandra dengan kasar dan tidak sampai di situ saja Devin bahkan melayangkan tangannya dan menampar Sandra dengan sangat keras hingga sudut bibir Sandra berdarah.
“Arrgh! Apa yang kamu lakukan Devin!” teriak Sandra sambil memegangi pipinya yang panas dan perih.
“Itu hukuman untuk sekretaris kurang ajar seperti kamu Sandra, dan jika kamu berani melakukan hal yang lebih maka kamu juga akan mendapatkan ganjarannya yang lebih Sandra, ingat jangan pernah bermain-main denganku atau kamu yang akan menyesali semua perbuatan kamu yang pernah kamu lakukan padaku,” uacpa Devin.
Devin langsung masuk kembali ke dalam ruangannya dan menggambil semua barang-barang milik Sandra, lalu dia keluar dan melemparkan tas Sandra. Saat itu juga Devin tidak mau melihat wajah Sandra yang sudah membuatnya marah besar, malam ini Devin benar-benar kacau. Dia menghempaskan badannya ke sofa sambil memejamkan matanya. Namun tiba-tiba saja dia merasakan ada yang menaiki tubuhnya, dia segera membuka matanya dan dia melihat Sandra yang sudah berada di atasnya dengan senyuman yang penuh kemenangan.
Sandra berusaha melepaskan ikat pinggang Devin dan saat itu juga Sandra kembali terlempar ke lantai. “Apa kamu belum puas juga Sandra? Apa kamu ingin merasakan akibatnya hm? Baikkalh jika kamu ingin merasakannya maka aku akan mengabulkannya,” ucap Devin yang kali ini senyumannya lebih licik dari Sandra.
__ADS_1
Devin pu mengeluarkan hpnya dari kantong saku celananya dan mendeal nomor seseorang yang jelas Sandra juga tidak tahu siapa, bahkan Devin juga menyuruh orang yang di teleponnya untuk datang ke perusahaan Devin. Saat itu juga Sandra merasa ketakutan yang luar biasa karena tuannya memang tidak bermain-main dengan apa yang dikatakan tadi, dia hanya takut mati, Sandra masih ingin hidup di dunia ini.
“Bagaimana? Harusnya kamu senang Snadra, tunggulah sebentar lagi,” ucap Devin, yang kali ini dia bahkan menyuruh Sandra untuk duduk di sofa.