
Malam ini Jenny berada di club malam sendirian, kembalinya pulang dari kantor diri langsung menuju ke club malam bukannya pulang ke apartemen.
“Hah! Sial! Kenapa semuanya harus begini,” ucapnya sedikit keras hingga beberapa orang yang di club itu melihat ke arah Jenny.
Namun Jenny tak menghiraukannya, Jenny meneguk wine yang tadi dirinya pesan. Jenny hanya duduk sendirian di sofa dan tak ada yang duduk di sofa hanya Jenny saja.
“Cantik, seksi, sangat mengoda,” ucap pria yang sedari tadi memperhatikan Jenny.
Pria itu berjalan mendekat ke Jenny, pria itu tersenyum tipis sambil di tangannya membawa satu gelas wine.
“Boleh duduk di sini?” tanya pria itu.
Jenny hanya menoleh ke pria itu lalu mengangguk tanpa menjawabnya. Pria itu duduk tepat duduk di samping Jenny dan meletakkan gelas di meja.
“Arbian,” ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke Jenny.
Jenny menoleh sebentar dan tersenyum kecut, lalu membalas uluran tangan Arbian.
“Jenny,” ucapnya dengan singkat, lalu melepaskan uluran tangannya dan kembali mengambil gelas, meminum kembali winenya.
Arbian hanya memperhatikan Jenny yang terlihag sangat cantik dan menarik baginya. Selama ini setiap Arbian ke club malam tak pernah menemukan wanita seperti Jenny.
“Ternyata kamu kuat minum, aku baru melihat wanita yang kuat minum sepertimu,” ucap Arbian.
Jenny hanya menoleh sekilas dan lebih tertarik dengan winenya dengan kadar alkohol yang sangat tinggi.
Lagi – lagi Arbian hanya tersenyum melihat Jenny yang cuek kepadanya.
__ADS_1
“Apa sedang ada masalah?” tanya Arbian yang mulai kepo dengan urusan orang, biasanya dirinya juga cuek dan bodoamat kepada orang lain.
Jenny masih diam saja dan Jenny mengeluarkan rokok dari dalam tasnya lalu menyulutnya. Jenny mengebulkan asap rokok itu ke atas dan menoleh ke Arbian yang masih memperhatikannya dari tadi.
“Memangnya ada urusan apa kamu tanya – tanya begitu?” tanya Jenny.
Arbian tersenyum kecut melihat Jenny yang terlihat ada masalah berat yang entah dirinya juga tak tahu. Arbian sudah terbiasa melihat wanita yang sedang patah hati atau lain sebagainya.
“Nggak apa – apa kan, sayangnya kamu wanita cantik dan menarik, dan nggak baik di sini sendirian,” ucap Arbian tersenyum ke Jenny.
“Hah! Peduli apa, aku sudah biasa masuk club sendirian, hanya malam ini aku pertama kali masuk club ini,” ucap Jenny.
Arbian hanya mengangguk dan tersenyum kembali ke Jenny.
“Lebih baik segera kembali pulang, jika nanti larut malam sedikit saja di sini akan banyak pria hidung belang yang tak segan cari mangsanya,” ucap Arbian memperigati Jenny.
“Aku sudah biasa menemukannya dan aku bisa mengatasinya, bukankah kamu juga termasuk ke dalamnya?” tanya Jenny sambil memicingkan matanya.
Arbian teraenyum dan mengelwngkan kepalanya, kenapa wanita di sampingnya ini begitu terbuka sekali dan sangat asik di ajak bicara.
“Ya, karena aku juga pria normal, aku akan mencari wanita yang bisa memuaskanku di ranjang akan tetapi bukan wanita sebarangan yang bisa tidur denganku,” ucap Arbian.
Jenny hanya mendengarkan perkataan Arbian lalu mengangguk mengerti.
“Apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Jenny menatap Arbian.
“Pernah sekali, tapi aku di hianati, pacarku selingkuh dengan temanku mereka tidur bersama,” ucap Arbian.
__ADS_1
“Apa kamu juga pernah tidur dengannya?” tanya Jenny yang mulai kepo dengan Arbian.
“Tentu tidak, dulu aku punya prinsip punya kekasih dan menikah baru bisa melakukan itu semua, tapi kenyataan berkata lain dia malah selingkuh dan tidur bersama,” ucap Arbian.
Jenny hanya mengangguk dan diam tak menyahuti perlataan Arbian, Jenny meminum kembali winenya begitu juga dengan Arbian yang masih saja tertarik melihat Jenny.
“Apa kamu sedang patah hati?” tanya Arbian.
Jenny menoleh ke Arbian sebentar lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain sambil menghisap rokoknya.
“Lebih tepatnya cintaku bertepuk sebelah tangan,” ucapnya sambil tersenyum kecut.
“ Alasannya?” tanya Arbian yang ingin tahu tentang Jenny.
“Dia jatuh cinta kepada temanku, tapi cintanya juga bertepuk sebelah tangan karena temanku lebih memilih ayah dari anaknya,” ucap Jenny menoleh ke Arbian.
Arbian memicingkan matanya karena tak mengerti maksud Jenny kenapa pria yang di sukai oleh Jenny bisa jatuh cinta sama istri orang yang jelas – jelas sudah punya suami.
“Hah! Sudahlah, tak ada gunanya aku berbicara seperti ini kepada orang yang baru aku kenal,” ucapnya meminum winenya kembali.
Arbian hanya mengendikkan bahunya tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Sudah larut malam apa sebaiknya kau tak kembali pulang?” tanya Arbian kembali.
“Sebentar lagi aku juga akan akan kembali, aku masih ingin menenangkan hatiku di sini,” ucap Jenny.
Arbian hanya mengangguk dan menuangkan wine kembali kedalam gelasnya.
__ADS_1
“Aku akan menemanimu di sini,” ucap Arbian sambil duduk bersender di sofa. Entah kenapa Arbian sangat ingin dekat dengan Jenny, menurutnya Jenny wanita yang sangat unik baginya.