
Saat ini Devin sedang menemani Alena untuk cek kandungan, Alena dan Devin sangat senang melihat buah hati mereka berkembang dengan baik, bahkan kandungan Alena juga sangat baik-baik saja. Akan tetapi Alena juga tidak boleh banyak pikiran yang akan membuatnya setres, selain itu juga Alena tidak boleh capek atau pun mengangkat yang berat-berat. Devin yang sedari tadi sangat terlihat bahagia dan berkali-kali mencium Alena. Setelah menebus obat yang di resepkan oleh dokter, Devin mengajak Alena untuk makan siang bersama di restoran yang dekat dengan rumah sakit.
Devin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan tangannya yang satunya memegang tangan Alena dengan erat, bahkan dia juga sesekali mencium punggung tangan Alena. “Honey, aku sangat bahagia,” ucapnya tersenyum.
“Aku juga sayang,” ucap Alena, bahkan kali ini Alena yang mencium pipi Devin.
Devin menoleh dan tersenyum pada Alena, dia juga tidak sabar menunggu kelahiran anak ke dua mereka. Setelah sekian lama Devin menantikan kehamilan Alena untuk yang ke dua kalinya, dia bisa menemani Alena cek ke dokter, dan memberikan makanan apa yang dia sukai dan moment yang paling sangat ingin dia lakukan adalah menemani Alena di sampingnya saat melahirkan nanti.
Siang ini Alena hanya makan siang dengan kimbab sedangkan Devin jjangmyeon, mereka hanya pesan itu saja dengan minuman jus. Alena siang ini juga tidak mau makan banyak, namun jangan salah jika nanti sampai rumah nanti akan meminta makan lagi entah itu apa. Semenjak Alena hamil memang sering makan dan aku sangat suka melihat makan banyak, bahkan kini badan Alena yang semakin berisi dan terlihat mengemaskan.
“Honey, apa ada yang ingin kamu pesan lagi?” tanya Devin, siapa tahu Alena akan membawanya pulang untuk di makan di rumah nanti.
“No, nanti aku akan menyuruh Alice makanan kesukaanku sayang, karena masakan Alice sangat enak,” ucap Alena.
__ADS_1
Devin hanya menganggukan kepalanya dan melanjutkan makannya kembali, dia ingin kembali pulang dan istirahat. Semenjak dia tidak memiliki sekretaris jadi sibuk sendiri mengatur semuanya namun sesekali Evan juga akan membantunya.
“Honey, apa kamu memiliki sahabat atau kamu sudah dapat sekretaris baru?” tanya Devin.
“Why? Sandra kemana?” tanya balik Alena yang saat ini menatap Devin dengan keningnya yang sedikit mengerut.
“Dia aku pecat honey, dia sudah keterlaluan,” ucap Devin.
“Coba nanti aku tanyakan pada Katty, apa dia bisa dan aku harap dia mau,” ucap Alena, sedangkan Devin hanya mengangguk, asal sahabatnya itu nanti bekerja dengan baik dan tidak sampai melampaui batasannya.
Alena ikut merbahkan tubuhnya di samping Devin dan berkata, “Sayang, kamu mau nantinya anak perempuan apa laki-laki.”
“Apa pun yang di berikan oleh tuhan aku akan tetap menerimanya nanti honey, walau sebenarnya aku inginnya wanita, nanti dia akan cantik sepertimu,” ucap Devin.
__ADS_1
Devin menatap Alena dengan penuh cinta, sungguh dia tidak ingin kehilangan wanita yang ada di depannya saat ini, “Honey, kamu tahu? Aku benar-benar bahagia. Akhirnya aku bisa melakukan tugasku sebagai seorang papa.”
Senyum Alena mengembang dan bahkan memeluk Devin dengan sangat erat, “Aku juga sangat bahagia sayang, terima kasih karena selalu menerima kekuranganku,” ucap Alena.
Malam telah tiba, saat ini Alena, Kaendra, dan Devin sedang berada di ruang keluarga. Mereka menemani Kaendra yang sedang melihat acara kartun kesukaannya karena memang terkadang anak laki-lakinya ini akan sibuk dengan buku atau apalah dan herannya lagi saat Devin memberikan soal perusahaan Kaendra bisa menyelesaikannya dengan baik. Alena sendiri sampai kaget, dari mana dia mempelajari itu semua? Memang sesekali Devin dan Kaendra saat bersama terkadang membahas soal perusahaan dan tentang bisnis manajeman. Akan tetapi ini belum waktunya karena Kaendra masih kecil bahkan umurnya saja belum ada tujuh belas tahun.
“Ken, are you ok?” tanya Alena tiba-tiba.
Kaendra pun langsung menoleh ke arah mamanya dan berkata, “Why, mom? Apa ada yang salah?”
Alena hanya menggelengkan kepalanya, dan itu semakin membuat Kaendra mengerutkan dahinya sedangkan Devin hanya geleng-geleng kepala saja tentang pertanyaan konyol istrinya itu pada anak laki-lakinya.
“Why, honey? Bukankah hal biasa,” ucap Devib, dan Alena lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Selanjutnya Alena mengajak Devin untuk pergi ke kamar, bahkan Alena juga memperingati Kaendra jika sudah selesai menonton untuk segera pergi tidur. Namun saat Alena ingat akan masakan Alice yang enak, dia baru sadar jika Alice sedang pergi ke Jepang karena pekerjaan dan akhirnya hanya menunggu sampai Alice nanti datang.