
Pagi ini Sania dan Mareta datang ke rumah Alena
dan Devin, mereka berencana untuk berpura-pura mencari keberadaan Alice yang
ternyata tinggal di rumah mereka, mereka juga akan mengaku sebagai keluarga
Alice yang selama ini Alice menghilang dan hanya mengirimkan uang saja ke
mereka. Mereka berencana ingin tinggal bersama Alice nantinya dan itu memang
sudah rencana Mareta dari awal, dia bahkan juga menyuruh Sania nantinya untuk
mendekati Evan agar rumah tangganya mengalami sedikit perpecahan.
Mereka sudah berada di depan pintu rumah Alena
dan Devin, bahkan mereka juga memencet bel pintu rumah Alena dan Devin. Sampai akhirnya
pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pelayan.
“Maaf mencari siapa ya?” tanya seorang pelayan
wanita.
“Saya mau mencari Alice, apa benar dia tinggal
di sini? Saya mama dan ini adik Alice,” ucapnya.
“Oh, nona Alice. kalau begitu silahkan masuk
lebih dulu,” ucap pelayan wanita, bahkan pelayan itu juga menyuruh Mareta dan
Sania untuk duduk lebih dulu, pelayan itu memanggil nyonya dan tuannya jika
keluarga nona Alice mencarinya.
Tidak berapa lama kemudia Devin dan Alena
datang, mereka menyambut keluarga Alice dengan sopan. Alena dan Devin duduk di
sofa depan Mareta dan Sania, “Jadi kalia berdua keluarganya? Apa Alice tidak
pernah mengabari kalian jika alice kemarin menikah?”
Namun Mareta menggelengkan kepalanya, “T-tidak,
dan kedatangan kami ke sini ingin bertemu dengannya, karena kami datang ke sini
ingin tinggal bersama dengan Alice, kami sudah tidak memiliki tempat tinggal
__ADS_1
lagi,” ucap Mareta.
“Tapi sayangnya Alice sedang berada di bandara
dan mereka akan pergi ke Jepang untuk bulan madu, bagaimana kalau kalian lebih
dulu tinggal di sini sampai Alice kembali ke sini, kalian tidak keberatan bukan?” tanya Devin.
Mareta hanya tersenyum dan menoleh kea rah Sania,
“Apa tidak merepotkan kalian? Mungkin lebih baik kami mencari tempat lain untuk
tinggal,” ucap Mareta, di dalam hatinya dia tersenyum licik padahal dirinya
sudah di belikan apartemen oleh Alice bahkan mereka juga diberikan uang oleh
Alice agar kehidupan mereka, bahkan Alice juga menyuruh mereka untuk tidak
menganggu dirinya namun perkataan Alice tidak akan pernah di dengar oleh
keduanya karena mereka akan terus memperalat Alice agar mereka hidup dengan
enak.
“Jangan, kami sudah menganggap Alice sebagai
keluarga sediri dan kami ingin ibu dan anak ibu tinggal di sini saja menunggu
akan di siapkan oleh pelayan,” ucap Alena tersenyum dengan tulus.
“Apakah nantinya kami tidak merepotkan kalian,”
ucap Sania dengan lirih.
“Tentu saja tidak, dan anggap saja kami seperti
keluarga sendiri,” ucap Devin.
Mereka diantarkan oleh pelayan menuju ke kamar
mereka, dimana kamar mereka yang berada di lantai satu, saat pelayan sudah keluar
dari kamar mereka, Mareta tersenyum puas karena dirinya dan Sania tidaklah
sulit untuk masuk ke dalam rumah ini, bahkan mereka juga akan makan enak dan
hidup dengan nyaman. Setalah itu akan melakukan rencana yang akan membuat Alice
menderita atau bahkan tidak dipercaya lagi.
__ADS_1
“Ternyata kit tidak sia-sia ma, masuk ke dalam
rumah ini sangatlah mudah,” ucap Sania yang saat ini duduk di tepi ranjang.
“Kamu benar dan kita di sini tidak akan pernah
kekurangan makanan atau yang lainnya dan mari kita rencanakan hal selanjutnya,”
ucap Mareta dan hanya diangguki oleh Sania.
Sungguh mereka sangat jahat, mereka sudah
menghancurkan keluarga Alice dan sekarang mereka juga akan menghancurkan rumah
tangganya, memang mereka tidak memiliki perasaan sama sekali, bahkan mereka
malah menikmati hidup diatas penderitaan orang lain. Memang Mareta bukan hanya
menikah satu atau dua kali saja, bahkan dia sudah menikah berkali-kali dan
entah Sania anak satu-satunya dari suami keberapa, memang Mareta menikmati
kehidupannya dan yang paling terpenting bisa memuaskan hasratnya. Hah, rasanya
dia sudah lama tidak merasaka sentuhan di badannya, rasanya dia ingin pergi ke
club malam dan mencari pria yang bisa memuaskan dirinya.
“Ma, mama sedang memikirkan apa?” tanya Sania
penasara karena selama ini Sania tidak pernah diajak ke kehidupan gelap Mareta,
namun mungkin saat ini dia akan mengajak Sania ke club malam dan menjualnya ke
pria hidung belang yang akan membayar anaknya dengan mahal. Sungguh Mareta
adalah seorang ibu yang benar-benar jahat memiliki pemikiran seperti itu namun
dia tidak peduli karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah uang karena
dengan banyak uang dia bisa membeli ini itu.
“Bagaimana kalau nanti malam kamu ikut dengan
mama dan kita akan bersenang-senag,” ucap Mareta dan lagi-lagi Sania hanya
mengangguk, selama ini memang dia selalu menurut dengan apa yang dikatakan
mamanya. Sebenarnya Sania juga lebih kasihan karena dia hanya dijadikan budak
__ADS_1
oleh mamanya sendiri yang dipikirannya hanya uang.