Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Sania dan Mareta


__ADS_3

Pagi ini Sania dan Mareta datang ke rumah Alena


dan Devin, mereka berencana untuk berpura-pura mencari keberadaan Alice yang


ternyata tinggal di rumah mereka, mereka juga akan mengaku sebagai keluarga


Alice yang selama ini Alice menghilang dan hanya mengirimkan uang saja ke


mereka. Mereka berencana ingin tinggal bersama Alice nantinya dan itu memang


sudah rencana Mareta dari awal, dia bahkan juga menyuruh Sania nantinya untuk


mendekati Evan agar rumah tangganya mengalami sedikit perpecahan.


Mereka sudah berada di depan pintu rumah Alena


dan Devin, bahkan mereka juga memencet bel pintu rumah Alena dan Devin. Sampai akhirnya


pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pelayan.


“Maaf mencari siapa ya?” tanya seorang pelayan


wanita.


“Saya mau mencari Alice, apa benar dia tinggal


di sini? Saya mama dan ini adik Alice,” ucapnya.


“Oh, nona Alice. kalau begitu silahkan masuk


lebih dulu,” ucap pelayan wanita, bahkan pelayan itu juga menyuruh Mareta dan


Sania untuk duduk lebih dulu, pelayan itu memanggil nyonya dan tuannya jika


keluarga nona Alice mencarinya.


Tidak berapa lama kemudia Devin dan Alena


datang, mereka menyambut keluarga Alice dengan sopan. Alena dan Devin duduk di


sofa depan Mareta dan Sania, “Jadi kalia berdua keluarganya? Apa Alice tidak


pernah mengabari kalian jika alice kemarin menikah?”


Namun Mareta menggelengkan kepalanya, “T-tidak,


dan kedatangan kami ke sini ingin bertemu dengannya, karena kami datang ke sini


ingin tinggal bersama dengan Alice, kami sudah tidak memiliki tempat tinggal

__ADS_1


lagi,” ucap Mareta.


“Tapi sayangnya Alice sedang berada di bandara


dan mereka akan pergi ke Jepang untuk bulan madu, bagaimana kalau kalian lebih


dulu tinggal di sini sampai Alice kembali ke sini, kalian tidak keberatan  bukan?” tanya Devin.


Mareta hanya tersenyum dan menoleh kea rah Sania,


“Apa tidak merepotkan kalian? Mungkin lebih baik kami mencari tempat lain untuk


tinggal,” ucap Mareta, di dalam hatinya dia tersenyum licik padahal dirinya


sudah di belikan apartemen oleh Alice bahkan mereka juga diberikan uang oleh


Alice agar kehidupan mereka, bahkan Alice juga menyuruh mereka untuk tidak


menganggu dirinya namun perkataan Alice tidak akan pernah di dengar oleh


keduanya karena mereka akan terus memperalat Alice agar mereka hidup dengan


enak.


“Jangan, kami sudah menganggap Alice sebagai


keluarga sediri dan kami ingin ibu dan anak ibu tinggal di sini saja menunggu


akan di siapkan oleh pelayan,” ucap Alena tersenyum dengan tulus.


“Apakah nantinya kami tidak merepotkan kalian,”


ucap Sania dengan lirih.


“Tentu saja tidak, dan anggap saja kami seperti


keluarga sendiri,” ucap Devin.


Mereka diantarkan oleh pelayan menuju ke kamar


mereka, dimana kamar mereka yang berada di lantai satu, saat pelayan sudah keluar


dari kamar mereka, Mareta tersenyum puas karena dirinya dan Sania tidaklah


sulit untuk masuk ke dalam rumah ini, bahkan mereka juga akan makan enak dan


hidup dengan nyaman. Setalah itu akan melakukan rencana yang akan membuat Alice


menderita atau bahkan tidak dipercaya lagi.

__ADS_1


“Ternyata kit tidak sia-sia ma, masuk ke dalam


rumah ini sangatlah mudah,” ucap Sania yang saat ini duduk di tepi ranjang.


“Kamu benar dan kita di sini tidak akan pernah


kekurangan makanan atau yang lainnya dan mari kita rencanakan hal selanjutnya,”


ucap Mareta dan hanya diangguki oleh Sania.


Sungguh mereka sangat jahat, mereka sudah


menghancurkan keluarga Alice dan sekarang mereka juga akan menghancurkan rumah


tangganya, memang mereka tidak memiliki perasaan sama sekali, bahkan mereka


malah menikmati hidup diatas penderitaan orang lain. Memang Mareta bukan hanya


menikah satu atau dua kali saja, bahkan dia sudah menikah berkali-kali dan


entah Sania anak satu-satunya dari suami keberapa, memang Mareta menikmati


kehidupannya dan yang paling terpenting bisa memuaskan hasratnya. Hah, rasanya


dia sudah lama tidak merasaka sentuhan di badannya, rasanya dia ingin pergi ke


club malam dan mencari pria yang bisa memuaskan dirinya.


“Ma, mama sedang memikirkan apa?” tanya Sania


penasara karena selama ini Sania tidak pernah diajak ke kehidupan gelap Mareta,


namun mungkin saat ini dia akan mengajak Sania ke club malam dan menjualnya ke


pria hidung belang yang akan membayar anaknya dengan mahal. Sungguh Mareta


adalah seorang ibu yang benar-benar jahat memiliki pemikiran seperti itu namun


dia tidak peduli karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah uang karena


dengan banyak uang dia bisa membeli ini itu.


“Bagaimana kalau nanti malam kamu ikut dengan


mama dan kita akan bersenang-senag,” ucap Mareta dan lagi-lagi Sania hanya


mengangguk, selama ini memang dia selalu menurut dengan apa yang dikatakan


mamanya. Sebenarnya Sania juga lebih kasihan karena dia hanya dijadikan budak

__ADS_1


oleh mamanya sendiri yang dipikirannya hanya uang.


__ADS_2