
Kebetulan hari ini hari minggu, Nathan mengajak Alena jalan berdua saja sedangkan Kaendra di ajak oleh Jenny dan Alice bermain di wahana permainan. Nathan mengajak jalan menuju taman yang berada tak jauh dari mall, mereka jalan beriringan sambil mengobrol, jika orang melihatnya pasti megira mereka pasangan suami istri yang serasi.
Mereka duduk si sebuah bangku kosong yang tersedia di taman itu, Nathan duduk di samping Alena.
“Na sebenarnya aku mengajakmu ke sini ada yang mau aku bicarain ke kamu,” ucapnya sambil menoleh ke Alena.
“Apa itu Nat?”
“Tapi aku mohon kamu jangan marah kepadaku.”
“Iya aku nggak akan marah sama kamu Nat.”
“Janji,” ucapnya.
“Iya aku janji, memangnya apa yang kamu akan bicarain,” ucap Alena kembali.
Nathan terdiam sejenak dan menarik nafasnya dalam – dalam lalu menghembuskannya dengan pelan – pelan.
“Sebenarnya … sebenarnya a-aku sangat mencintaimu Alena, apa kamu mau menjadi kekasihku,” ucap Nathan dengan gugup.
Alena yang mendengarkan ucapan Nathan yang baru saja menyatakan perasaannya kepadanymembuatnya terpaku dan diam, Alena bingung harus mengucapkan apa kepada Nathan.
__ADS_1
“Na, kenapa kamu diam saja,” ucap Nathan kembali karena Alena terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Nathan, maaf seharusnya kamu tak jatuh cinta kepadaku,” ucap Alena menoleh ke Nathan dan kini mereka saling bertatapan.
“Kenapa Na,” ucap Nathan sambil meraih kedua tangan Alena.
“Ini tak benar Nathan, kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Nathan.”
“Tapi aku hanya meninginkan kamu Alena, gimana apa kamu mau menjadi kekasihku dan menikah denganku, aku berjanji akan menganggap Kaendra seperti anak kandungku sendiri,” ucapnya menyakinkan Alena.
Alena melepas tangan Nathan dan mengelengkan kepalanya, menatap lurus kedepan.
“Kenapa Na, apa kamu masih memikirkan ayah Kaendra atau kamu belum bisa melupakannya,” ucapnya.
“Maaf sekali lagi Nathan memang benar apa yang kamu bilang, mungkin aku membencinya namun dalam hatiku yang paling dalam ternyata aku sangat mencintainya dan sampai saat ini aku juga belum bisa melupakannya.”
“Na, tolong lupakan saja dia dan buka hatimu untukku.”
Alena hanya mengeleng dan itu membuat Nathan mengerti jika Alena memang tak bisa menerimanya, karena Alena masih belum bisa melupakan ayah kandung dari anaknya.
“Baiklah Na, jika memang itu jawaban dari kamu, aku juga nggak bisa memaksamu untuk ini, tapi kamu jangan pernah menjauhiku, dan kamu masih menganggapku sahabat kamu kan,” ucapnya.
__ADS_1
“Tentu aku tak akan menjauhimu Nathan karena kamu shabat terbaikku selama aku kenal kamu,” ucap Alena dengan senyumnya.
“Terima kasih Alena, tapi aku butuh waktu lama mungkin untuk melupakan perasaan cintaku kepadamu,” ucapnya.
“Aku mengerti Nathan, maaf sekali lagi, aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku,” ucap Alena.
Nathan mengangguk lalu tersenyum kepada Alena,” bolehkan aku memelukmu untuk kali ini saja?”
Alena mengangguk dan merentangkan tangannya, mereka saling berpelukan dan menjadi pusat perhatian banyak orang yang lewat di taman bahkan ada yang memofoto mereka saat mereka berpelukan.
Nathan mengajak kembali Alena untuk menemui yang lainnya, mungkin mereka sedang menunggu Alena dan dirinya, karena kami juga cukup lama berada di taman tadi.
“Mama,” teriak Kaendra dari kejauhan.
Alena hanya tersenyum sambil melambaikan tanganya, Kaendra berlari ke arah mamanya dan Alena berjongkok dan langsung merentangkan tanganya.
Alena mengendong Kaendra sedangkan Nathan yang masih di samping Alena tersenyum melihat kedekatan Alena dengan Kaendra sangat baik padahal selama ini Alena sibuk dengan bekerja dan hanya da waktu sebentar untuk bermain dengan Kaendra.
Nathan mengajak mereka untuk pergi ke restoran karena ini waktu sudah menunjukkan makan siang, Alice, Jenny dan Alena hanya mengikuti Nathan kemana Nathan mengajaknya makan ke restoran yang katanya makanannya sangat enak.
Kaendra yang tadinya di gendong oleh Alena kini berpindah ke Nathan, ya, Nathan mengambil alih Kaendra dari gendiongan Alena.
__ADS_1