
Malam ini mereka berdua sedang menikmati makan malam di restoran mewah yang sudah ditentukan oleh Evan. Malam ini Alice juga mengenakan gaun yang dibelikan oleh Evan, bahkan Evan juga menjemput dan menunggunya lama di rumah saat Alice sedang bersiap untuk pergi bersama dengan Evan.
“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Alice, menatap Evan.
“Kamu tidak perlu berterima kasih Alice, aku sengaja melakukannya. Aku mau malam ini menjadi malam yang spesial untuk kita berdua,” ucap Evan tersenyum, bahkan dia juga meraih tangan Alice lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.
Alice terpaku dengan apa yang dilakukan malam ini oleh Evan, entah apa yang terjadi pada Evan malam ini sungguh membuat Alice begitu senang diperlakukannya manis seperti ini.
“Alice,” panggil Evan.
“Ya, kenapa?” tanya Alice yang tersadar dari lamunannya.
“Aku ingin malam ini kamu menjadi kekasihku, jika bisa menjadi teman hidupku sampai maut memisahkannya,” ucap Evan.
“A-apa? Apa a-aku tidak salah mendengarkannya,” ucap Alice dengan ragu-ragu.
Evan tersenyum manis, dia juga mengusap punggung tangan Alice. “Tentu saja tidak baby, bagaimana? Apa aku diterima?” tanya Evan.
“K-kamu serius Evan?” tanya Alice kembali untuk memastikannya.
__ADS_1
“Aku sangat serius baby, kamu mau jadi kekasiku’kan?” tanya Evan.
Saat itu juga Alice langsung menganggukkan kepalanya, sungguh dia sangat bahagia dan malam ini Evan menyatakan perasaannya kepadanya. “Tentu saja aku mau,” ucap Alice.
Evan pun langsung beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Alice. Evan memeluk tubuh Alice dengan sangat erat, bahkan sesekali Evan juga mencium puncak kepala Alice.
“Thank you baby, kamu sudah menerimaku dan aku berjanji akan menjadi lelaki yang baik untukmu,” ucap Evan kembali.
Lagi-lagi Alice hanya menganggukkan kepalanya, dia bahagia. Entah semalam dia mimpi apa sehingga apa yang dia mau menjadi kenyataan malam ini, setalah beberapa lama dia juga sering bertengkar dengan Evan, karena sikapnya yang waktu itu lebih dari sekedar patner. Setelah itu mereka melanjutkan makan malam romantis mereka, bahkan sesekali mereka juga saling melirik satu sama lain.
Selesai makan malam, Evan mengajak Alice ke sebuah pantai dan di dekat pantai ada sebuah hotel yang langsung menghadap ke pantai. Evan mengajak malam ini untuk bermalam di hotel ini, dia ingin menghabiskan waktunya dengan Alice lebih lama lagi, bahkan Evan juga sudah membuat cuti untuk dirinya dan Alice tanpa sepengetahuan Alice, sungguh licik bukan? Bahkan mereka bafu saja menjadi sepasang kekasih beberapa jam yang lalu namun Evan sudah jauh memikirkannya.
“Evan, kenapa kita ke sini?” tanya Alice menoleh ke arah Evan yang sedang duduk di sofa.
Alice hanya tersenyum dan dia juga langsung memeluk Evan dengan erat. “Aku bahagia malam ini,” ucap Alice pelan.
“Aku juga bahagia malam ini baby,” bisik Evan, bahkan Evan juga menggigit telinga Alice sehingga membuat tubuh Alice menegang.
Evan melepaskan pelukannya, dia menatap wajah kekasihnya itu. Evan lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alice dengan lembut, bahkan Alice juga hanya diam dan tidak merespon ciuman Evan, dan saat itu juga Evan menggigitnya agar Alice membalas ciumannya. Setelah beberapa menit kemudian Alice menyudahi ciuman mereka, baik Alice dan Evan menghirup udara banyak-banyak dan mereka saling menatap.
__ADS_1
“Aku menginginkan kamu malam ini baby,” ucap Evan.
Mereka kembali berpelukan, dan bahkan mereka melakukan hal yang lebih intim. Dimana Alice melakukannya untuk pertama kali dan itu membuat Evan harus berhati-hati agar membuat Alice nyaman. Dimana di sebuah kamar hotel yang di penuhi ******* mereka berdua, Evan yang tidak bisa mengontrolnya terus melakukannya lagi dan lagi.
Evan dan Alice baru berhenti saat jam sudah menunjukkan pukul 02.30kst dini hari. Evan mencium kening Alice dan setelah itu menyuruh Alice untuk istirahat lebih dulu karena Evan tahu pasti Alice kelelahan. Entahlah apa yang ada di pikirannya, dia menodai wanita dimana mereka masih dengan kehormatannya yang utuh tapi dia yang merusaknya, tapi bukankan itu hal wajar di negara mereka?
“Arrgggh! Sial,” umpatnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Beruntung saja Alice sudah tertidur lebih dulu, Evan beranjak dari ranjang sambil mengenakan bathrobe, dia membuka pintu balkon lalu dia juga menyulutkan rokok dan Evan menghisapnya dan mengepulkan asapnya ke udara. “Sungguh malam yang indah dan nikmat,” ucapnya.
Evan tersenyum kecut, mungkin saat ini dia sudah menjadi pria brengsek? Tapi dia juga berjanji ini terakhir kalinya dimana dia dan Alice nantinya akan menikah dan memiliki anak dari darah dagingnya sendiri, Evan tidak mau berlama-lama. Dia akan menjalani hubungannya sebagai pasangan kekasih sekitar dua atau tiga bulan dan saat itu juga Evan akan melamarnya.
Pagi harinya Alice terbangun lebih dulu karena dia merasakan ingin buang air kecil. Dia membuka matanya dan mendapatkan Evan di sampingnya, bahkan Alice juga menutup wajahnya karena malu ingat dengan percintaan semalamnya, dimana dia sangat liar bahkan dengan mulut kurang ajarnya meminta Evan untuk melakukannya lagi dan lagi. Karena sudah terlalu kebelet Alice pun beranjak dari ranjang namun saat akan melangkah dia merasakan perih di bagian miliknya.
“Arrggh!” teriak Alice.
Saat itu juga Evan langsung terbangun. “Baby, apa yang terjadi?” tanya Evan.
“Sakit, padahal aku ingin ke kamar mandi,” ucap Alice, dia merintih kesakitan.
__ADS_1
Evan yang saat itu mengerti dia langsung beranjak dari ranjang dan menggendong Alice bagaikan bridel syle menuju toilet. Evan mendudukkan Alice di wastafel, bahkan dia juga menunggu Alice di kamar mandi.
“Bagaimana kalau kita berendam air hangat dan itu juga akan meredakan rasa sakit baby,” ucap Evan, dimana dia juga sedang menyiapkan air hangat untuk mereka berdua, dan sebenarnya ini hanya trik saja yang dilakukan Evan. Karena sesungguhnya Evan sungguh tidak bisa menahannya lagi lebih lama dan ini akan membuatnya semakin gila. Bahkan Evan dengan segera mengajak Alice untuk berendam bersama, Alice yang duduk di pangkuan Evan merasakan sesuatu yang mungkin itu benda semalam yang memasuki dirinya dan bahkan dia mendesah dengan sangat keras.