
Kini aku, Kaendra, dan Alice benar-benar kembali ke Seoul dengan mobilku sendiri namun aku menggunakan sopir. Aku sebenarnya masih ingin di sana menikmati liburanku bersama dengan Kaendra akan tetapi Devin memaksaku untuk ikut kembali ke Seoul dan kami juga akan menyiapkan pesta pernikahan kami. Hah! Ini benar-benar membuatku muak karena Devin tak sedikitpun membuatku merasa tenang.
“Nona Alena kenapa?” tanya Alice.
Aku menoleh ke Alice dan tersenyum padanya. “Aku enggak apa-apa Alice,” ucapku, kami masih dalam perjalanan dan waktu tempuh masih lama, aku juga menyuruh Kaendra untuk tidur saja dari pada dia bosan memainkan game di ipadnya. Sampai akhirnya aku juga memutuskan untuk tidur saja dari pada aku memikirkan Devin yang ada nanti jika dia tahu akan besar kepalanya. Memang aku dan Devin tak satu mobil memang karena keinginanku, aku mau Devin menggunakan mobilnya sendiri begitu juga denganku.
Kami berangkat dari villa sekitar pukul 08.00kst dan ini juga yang memutuskan Devin setelahnya aku enggak banyak complain karena hanya akan memperpanjang masalah, tentunya aku pulang ke rumah orang tuaku dan bukan kerumah yang Devin sudah siapkan untuk kami tinggali, aku enggak mau karena kami juga belum menikah dan aku mau meninggali rumah itu saat nanti aku dan Devin sudah menikah.
Aku sampai di rumah sudah menjelang sore, aku keluar dengan mengendong Kaendra. Aku langsung masuk ke dalam rumah yang tampaknya sepi, mungkin eomma dan appa pergi. Alice di belakangku dengan di bantu pak sopir membawa barang-barangku sampai kamar Kaendra, aku menidurkan Kaendra di ranjangnya. Setelah itu aku juga menyuruh Alice istirahat di samping Kaendra, aku tahu Alice juga sangag lelah sedangkan aku langsung keluar kamar Kaendra dan masuk ke kamarku.
“Rasanya sangat nyaman,” ucapku pelan, aku merebahkan tubuhku di ranjangku yang sangat empuk. Rasanya aku ingin kembali tidur lagi saja, entah kenapa hari ini aku tak mau menyentuh pekerjaan sama sekali hingga akhirnya aku memejamkan mataku kembali.
Di tempat yang berbeda Devin langsung pergi ke kantor dan meeting bersama dengan klien, beruntung saja dia datang tepat waktu. Waktu terus berjalan hingga dua jam setengah Devin dan kliennya baru saja menyelesaikan tanda tangan jika mereka akan menjalin kerjasama. Devin juga mengantar kliennya sampai di depan lobby dan mereka tak lupa berjabat tangan untuk perpisahan.
“Evan, setelah ini kamu yang menyelesaikannya ya, aku ingin segera pulang untuk menemui Alena dan Kaendra,” ucapku.
Sedangkan Evan hanya mengangguk, dan aku langsung masuk ke dalam mobil. Namun sebelum itu aku akan membelikan Kaendra hadiah dan makanan untuk Kaendra dan Alena, sungguh aku sudah enggak sabar untuk segera bertemu mereka kembali. Aku juga berharap pernikahanku bersama dengan Alena akan berjalan lancar dan pernikahn kita akan bahagia selamanya. Dari kantor menuju rumah Alena membutuhkan waktu satu jam perjalanan dan itu tak membuat masalah bagiku.
__ADS_1
Mungkin jika nanti Alena tak mau kembali ke Hamburg maka aku akan memindahkan kantor pusat yang ada di Hamburg pindah ke Seoul dan itu bukan masalah bagiku karena yang terpenting bagiku adalah Alena dan Kaendra karena merekalah pemyemangat hidupku, karena itulah aku mendapatkan Alena penuh dengan pengorbanan dan aku tak pernah menyesali semua apa yang pernah aku lakukan untuk Alena.
“Pak, sebelum itu kita berhenti di restoran depan ya,” ucapku pada sopir dan dia hanya mengangguk.
Saat mobilku sudah berhenti aku segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran. Aku memesan makanan di restoran ini makanan yang menjadi favorite di sini, setelah itu aku menunggu beberapa menit dan makanan pun jadi aku segera membayarnya dan segera keluar dari restoran. Karena di dekat restoran ada toko mainan maka aku langsung masuk ke dalamnya dan memilih beberapa mainan untuk anakku.
Saat tiba di rumah Alena aku langsung memencet bel dan yang membukakan pelayan wanita. “Apa ada Alenanya?” tanyaku.
“Ada tuan, nona Alena sedang berada di dalam kamarnya,” ucap pelayan itu dengan sopan.
“Baiklah, kalau begitu ajumma tolong ini di siapkan di meja makan ya,” ucapku sambil memeberikan beberapa paper bag ke ajumma.
Aku mengangguk dan segera masuk ke dalam dengan membawa paper bag berisi mainan untuk Kaendra. Aku menaiki tangga dengan senyumku yang tak pernah luntur dari bibirku, jujur saja aku juga tak sabar melakukan ini setiap hari nanti saat aku sudah menjadi suami dan ayah untuk Kaendra.
Tokk tokk tokk
Aku mengetuk pintu kamar Alena namun enggak ada jawaban sama sekali dari Alena dan aku pun mencoba membukanya dan ternyata pintu kamar Alena enggak di kunci sama sekali. Aku pun langsung masuk ke dalam dan mendapati Alena masih tertidur dengan baju yang sama dia kenakan pagi tadi, aku menghela nafas sambil menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
“Sayang, kenapa kamu enggak ganti baju dulu sih,” ucapku pelan dengan satu tanganku membelai wajahnya dan merapikan rambutnya yang mengenai wajah Alena.
Mau bagaimana Alena tetaplah menjadi wanita canti bagi Devin, dan wanita yang sangat seksi. Devin tak akan pernah meninggalkan Alena bagaimana pun keadaannya karena semuanya hanya untuk Alena. “Kamu tahu sayang, aku sangat beruntung memilikimu. Karena bagaimana juga kamu adalah ibu dari anak-anakku nanti dan aku enggak akan pernah bisa berpaling darimu sayang. Kamu telah menempati di hatiku,” ucapku.
Sesekali aku mencium wajah Alena dengan lembut, aku masih belum berani membangunkan Alena karena aku tahu pasti dia merasa lelah setelah perjalanan jauh. Aku sempat menawarinya untuk naik pesawat namun dia menolaknya jadi aku juga enggak akan memaksa Alena.
“Sayang,” panggilku namun pelan, sambil mengusap hidungnya.
Namun sama sekali Alena juga tak terusik sama sekali dia masih pulas saja, hingga membuatku tersenyum kecil. “Kamu memang sangat susah untuk di bagunin,” ucapku kembali.
Hingga aku beranjak dari dudukku dan melepaskan jas dan juga dasiku, tak lupa juga aku melepaskan sepatu yang aku kenakan. Aku naik ke atas ranjang lalu ikut merebahkan tubuhku di samping Alena dan memeluknya dari belakang. Namun itu tak berlangsung lama hingga aku merasakan pergerakan dari Alena dan Alena juga menoleh ke belakang dan menatapku.
Alena masih dia dan menatapku karena memang dia belum benar-benar sadar hingga membuatku gemas dan mencubit hidungnya pelan hingga Alena baru sadar.
“Akh! Devin, kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya dengan suara keras namun aku segera menempelkan jariku ke bibir Alena hingga Alena langsung diam.
“Ssstt, sayang bisa enggak kamu enggak pakai teriak,” ucapku tersenyum.
__ADS_1
Hingga Alena menyingkirkan jari tanganku dan menatap tajam padaku. “Devin, aku tanya kenapa kamu bisa di kamar aku dan itu sangat enggak sopan tahu masuk ke dalam kamar wanita seenaknya saja,” ucap Alena.
“Kenapa enggak boleh sayang? Lagi pula bukannya sebentar lagi kita juga akan menikah bahkan kamu juga sudah tahu milikku begitu juga sebaliknya sayang bahkan kamu juga sudah melahirkan anakku,” ucapku, lalu setelah itu aku membawa tubuh Alena ke dalam pelukanku.