
Pagi ini Katty sudah sampai di kantor, dia juga sudah membersihkan ruangan Devin, bahkan dia juga sudah menyiapkan kopi, dan camilan untuk Devin. Katty duduk di kursinya sambil menunggu ke datangan Devin, mungkin sebentar lagi, Katty pun bergegas mengambil hpnya untuk mengirimkan pesan pada Alena, jika nanti sepulang kantor dia akan langsung ke rumahnya, akan tetapi dia harus bilang lebih dulu pada Alena.
“Hai, bumil yang cantik dan baik hati. Hari ini aku main ke rumah kamu ya? Jika di bolehkan nanti sepulang dari kantor aku akan langsung ke rumah kamu saja, sekalian ikut makan malam bersama, hahahah, bolehkan ya?”
Katty senyum-senyum sendiri saat dia membaca isi pesannya sendiri pada sahabatnya, bagaimana tidak? Dirinya seperti memaksa Alena, namun bukan Katty kalau tidak begitu. Tidak berapa lama pun hp Katty berbunyi dan itu memang balasan dari Alena, dia segera membacanya.
“Hah! Pasti ada maunya, iya, boleh. Aku tunggu di rumah, bahkan aku juga akan masak makanan kesukaan kamu.”
Senyum Katty pun mengembang, dirinya sangat bahagia memiliki sahabat seperti Alena. Bahkan mereka berdua sudah seperti kakak beradik, dan mereka juga membantu satu sama lain. Mungkin saat ini Katty sedang jauh dari Jenny yang biasanya membantunya namun saat ini ada Alena yang selalu ada.
“Pagi Katt, apa hari ini kamu baik-baik saja? Aku lihat dari kejauhan kamu senyum-senyum sendiri,” ucap Devin yang sudah berada di depan.
“Hah! Apa, a-aku m-maksudnya gila?” tanya balik pada Devin, karena saat itu juga Katty reflek dan kaget.
Devin hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Haduh Katt, sepertinya kamu perlu ke dokter hari ini.”
“Tuan Devin yang terhormat, akan tetapi saya tidak gila dan saya masih waras,” ucap Katty.
“Ah, baiklah. Oh, iya Katt. Hari ini jadwal saya apa?” tanya Devin.
Katty pun langsung membuka ipadnya dan melihat jadwal Devin, “Hari ini tuan ada meeting dengan karyawan bagian pemasaran, selanjutnya bertemu dengan klien dari Jepang, mungkin sekalian makan siang bersama dengan Bu Nara.”
__ADS_1
“Ok, kalau begitu kamu nanti ikut dengan saya,” ucap Devin, lalu dia berjalan menuju ruangannya.
Katty menghela nafasnya lega, entah bagaimana juga dia masih takut jika melakukan kesalahan atau akan membuat Devin marah. Dia di sini sangat membutuhkan pekerjaan, dan tidak mungkin dia menjadi gelandangan bukan?
Siangnya Katty ikut bersama dengan Devin untuk bertemu dengan Nara klien Devin dari Jepang, sebenarnya Nara dan Devin sudah lama berteman bahkan dulu sebelum menikah dengan Alena. Tidak hanya itu saja, Devin selalu menceritakan keluh kesahnya pada Nara. Setelah mereka membicarakan priyek yang akan mereka garap, mereka langsung makan siang bersama. Bahkan sesekali mereka membicarakan banyak hal, sampai Nara juga menyuruh Devin dengan Alena untuk pergi ke Jepang, namun sayangnya untuk saat ini Devin dan Alena tidak bisa ke sana karena sebentar lagi Alena juga akan melahirkan anak ke dua mereka.
Pertemua hari ini bersama dengan Nara berjalan lancar, bahkan Devin dan Katty kembali ke kantor. Sesekali Katty juga mengirimkan pesan pada Alena, mereka saling bercanda dan bahkan Alena juga menyuruh Katty untuk membelikan makanan yang pedas dan gurih, entah kenapa Alena ingin memakan itu padahal dia sedang hamil besar dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan, Katty hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Benar saja malamnya mereka makan malam bersama, bahkan tanpa sadar ada seseorang yang bertamu ke rumah Devin dan Alena.
“Eonie, oppa, aku datang!” teriaknya.
Saat itu juga membuat orang rumah menoleh ke sumber suara itu, dan Devin langsung tersenyum karena ke datangan Gladwin. “Glad, bisa tidak kamu enggak teriak-teriak begitu,” ucap Devin.
“Hai, baby. Kita bertemu lagi, aku sudah ingin bertemu denganmu tapi sayangnya aku baru ada waktu sengang hari ini,” ucapnya.
“Apa kalian sudah saling mengenal? Apa yang kamu sering ceritakan padaku adalah Gladwin di sampingmu?” tanya Alena.
Sedangkan Katty hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya, dan Gladwin hanya mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kalian kenal dimana?” tanya Devin.
__ADS_1
“Aplikasi dating oppa,” ucap Gladwin dengan senyumannya.
“What? Kenapa bisa kebetulan begitu,” ucap Devin.
Glad menggelengkan kepalanya, bahkan dia juga ikut makan makan malam, dia mengisi piringnya dengan berbagai makan. Bahkan sesekali dia juga menyuapi Katty, hubungan mereka memang dekat namun belum isa dikatakan sebagai sepesang kekasih karena mereka belum menjalin hubungan.
Selesai makan malam, Katty dan Alena sedang berbincang di dalam kamar, entah apa yang di bicarakan oleh dua wanita itu, terkadang mereka tertawa dan sangat terlihat asik dengan apa yang mereka obrolkan. Sedangkan Devin dan Gladwin di halaman belakang sedang meminum wine, “Bagaimana hubunganmu dengan Katty? Apa kalian hanya sebatas mengenal atau lebih?”
“Why? Apa ada yang salah oppa? Aku dan Katty awal bertemu memang hanya memuaskan satu sama lain karena memang aplikasi dating itu khusus dewasa,” ucap Gladwin.
“Ya, apa kamu tidak bosan atau takut terus berganti-ganti wanita?” tanya Devin.
Akan tetapi Glad hanya menggelwngkan kepalanya dan tersenyum, entah kenapa memang ditemani wanita setiap malamnya dengan berbeda orang menyenangkan namun itu dulu sebelum dirinya bertemu dengan Katty, kini dirinya hanya bermain dengan Katty dan bahkan dia juga belum pernah memesan wanita lain dari orang kepercayaannya.
Di kamar Katty dan Alena masih tertawa, bahkan mereka juga sesekali membicarakan Glad, bagaimana permanan Glad di atas ranjang. Bahkan Katty yang bercerita tentang Glad sampai merasa di bawah sana sudah basah dan Alena yang menjadi pendengar hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak menyangkan jika Glad adalah saudara Devin,” ucap Katty.
“Kenapa? Jika kamu menjadi kekasih Glad, aku yakin kamu akan di ratukan olehnya bahkan Glad juga akan mengabulkan semuanya apa yang kamu inginkan Katt,” ucap Alena.
Katty hanya tersenyum dan berkata, “Aku tidak akan membayangkan hubunganku dengan Gladwin sampai jauh Alena karena aku tahu, aku hanya orang biasa bukan seperti kalian.”
__ADS_1
“Kamu jangan bicara seperti itu Katt, kami juga manusia biasa dan kami juga tidak memandang orang dari derajatnya karena pada dasarnya kita adalah sama,” ucap Alena, sedang Katty menganggukan kepalanya, dia masih tidak yakin dan dia juga tidak ingin berjalan sampai jauh hingga dia lupa akan jalan pulang ke rumah.