Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Sandra


__ADS_3

Selama dua minggu sudah Sandra terkurung di kamar ini, kamar yang begitu luas dan banyak barang-barang mewah dan dirinya juga tidak bisa membayangkan harganya. Sandra hanya memikirkan bagaimana dia bisa kabur di sini dan terbebas dari Austin, dia sangat membenci Austin, dia ingin sekali membunuh Austin namun dia tidak sanggup, akan tetapi dengan tenaganya yang saat ini, Sandra sangat tidak mampu. Usia kandungannya yang terbilang masih dini membuatnya sering mengalami mual dan terkadang rasa pusing yang menghampirinya, bahkan makanan yang dia makan saja selalu dia buang, di sini juga yang merawatnya adalah Austin namun dia sangat benci dengan kedatangan Austin, namun sialnya dia juga tidak ingin di tinggal pergi jauh oleh Austin pikirannya dan tubuhnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Seperti pagi ini Sandra hanya bisa berbaring di ranjang setelah tadi bangun dia memuntahkan isi perutnya, beruntung saja pagi tadi Austin masih di rumah jadi tahu kondisi Sandra. Austin membantu Sandra ke kamar mandi bahkan Austin juga memijat tengkuk Sandra, dan saat itu juga Sandra dapat melihat betapa khawatirnya Austin. Selain itu Austin juga menggendongnya dan menidurkannya di ranjang, bahkan Austin dengan rela membuatkan sarapan pagi dan dengan sabar Austin juga menyuapi Sandra.


“Arrghh! Sial!” teriak Sandra, bahkan dia juga menjambak rambutnya dengan sangat kencang dan beruntung saja Austin tiba dan segera berlari mendekati Sandra.


“Are you oke, baby?” tanya Austin, bahkan Austin juga memeluk Sandra dengan sangat kuat, jujur saja Austin sangat takut dengan kondisi Sandra saat ini, selain itu Austin juga sampai rela menyewa perawat dan bersedia memanggil dokter kapan saja dan itu dokter khusus keluarga Austin.


“Cukup! Aku muak Austin, aku ingin pergi dari sini, aku tidak ingin tinggal bersamamu,” ucap Sandra dengan suara kerasnya, bahkan Sandra melepaskan pelukan Austin dengan kasar.


“Apa? Kamu tidak akan pernah pergi dari sini, apa kamu tidak lihat kondisi kamu saat ini, apa kamu tidak ingat jika kamu sedang mengandung anak aku Sandra, tolong kamu jangan keras kepala dan selalu memikirkan diri kamu sendiri tapi tolong juga mengerti perasaanku San,” ucap Austin, yang dimana tatapan Austin sangat tajam dan itu sedikit membuat takut Snadra namun Sandra mencoba untuk kuat dan melawan semuanya.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Bukankah ini hidupku Austin dan kamu bukan siapa-siapa untukku,” ucap Sandra dingin.


Austin beranjak dari duduknya, dia bahkan menjambak rambutnya dengan prustasi, dia menatap ke arah Sandra sebentar dan tersenyum kecut, “Apa mau kamu San? Namun aku tidak akan pernah mengabulkannya dan mungkin lusa kita akan menikah karena aku tidak akan pernah melepaskan kamu dan anakku,” ucap Austin.


“Kamu gila Austin!” teriak Sandra.


Lagi-lagi Austin hanya tersenyum dan langsung pergi dari kamar meninggalkan Sandra sendirian, dia sudah lelah selalu bertengkar dengan Sandra, karena bagaimana juga dia tidak akan melepaskan Sandra begitu saja atau pun menyakitinya, baginya Sandra adalah segalanya.


Tiga jam sudah Sandra terbaring di ranjang dengan infus di tangannya, dia tadi mengalami pendaran namun itu tidak mengakibatkan keguguran, bahkan Austin juga sempat membawa Sandra ke rumah sakit namu itu hanya satu jam di rumah sakit dan Austin membawa Sandra pulang bersama dengan dokter dan perawat karena dia takut terjadi kenapa-napa pada Sandra.


“Kenapa kamu sangat egois sekali baby, padahal aku melakukan ini demi kebaikan kamu baby, dan aku juga tidak ingin kamu terjadi apa-apa,” ucap Austi pelan, bahkan Austin juga mengecup punggung tangan Sandra dengan sayang.

__ADS_1


Sandra bisa mendengarkan semua apa yang Austin biacarakan barusan, dia sudah sadar akan tetapi dia tidak ingin membuka matanya. Sandra sangat malas melihat wajah Austin untuk saat ini, dia sudah merasa lelah, bahkan dia juga masih meraskan sedikit rasa sakit.


“Sampai kapan kamu akan bangun baby? Aku minta maaf atas perlakuanku yang tadi,” ucap Austin kembali. Setelah itu Austin mencium kening Sandra, lalu dia beranjak pergi, Austin kelua dari kamar karena dia akan pergi sebentar, dia harus pergi karena urusan pekerjaan yang sangat mendadak.


Malam harinya Austin kembali dan masuk ke dalam kamar, dia dapat melihat Sandra yang dimana dia sedang berada di balkon, padahal udara malam ini sangat dingin. “Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini di luar baby, aku tidak menginginkan kamu sakit nantinya dan sudah cukup hari ini kamu sudah membuatku sangat takut,” ucap Austin, bahkan Austin yang memeluk Sandra dari belakang, bahkan Austin yang sesekali mencium tengkuk Sandra.


“Buat apa kamu mempertahankan aku? Bahkan aku sudah menolakmu yang entah sudah berapa kali, apa kamu masih menginginkan aku wanita kotor sepertiku?” tanya Sandra dimana tatapannya yang kosong.


“Kamu segalanya untukku baby, dan tidak ada wanita lain selain dirimu. Kamu adalah wanitaku selamanya, tidak akan pernah bisa ada wanita lain yang menggantikan kamu. Satu yang harus kamu tahu baby, kamu tidak akan pernah bisa pergi jauh dariku,” ucap Austin dengan penuh percaya.


Sandar tersenyum kecut akan tetapi Austin tidak tahu, “Percaya diri sekali anda, mungkin untuk saat ini kamu bisa bicara seperti itu namun kita bisa lihat ke depannya dan apa yang akan terjadi, aku harap kamu juga tidak akan pernah menyesali perkataanmu tadi,” ucap Sandra, sedangkan Austin hanya mengangguk dan semakin memeluk tubuh Sandra dengan erat.

__ADS_1


Sandra dan Austin masuk ke dalam, Sandra membaringkan tubuhnya dengan hati-hati karena dirinya masih menggunakan infus di tanganya, dia menatap ke arah Austin yang masuk ke dalam kamar mandi. Sandra menghela nafas panjangnya dan berkata, “Kenapa aku bisa bertemu dengannya? Apakah ini kesialan untukku atau mungkin ini adalah keberuntunganku, entah apa yang aku rasakan saat ini, bahkan aku sendiri juga bingung. Aku menolak Austin dimana dia juag memiliki segalanya namun aku ingin memiliki Devin, perasaan macam apa ini? Sedangkan aku saat ini juga terjebak di sini,” ucapnya pelan, lagi dan lagi Sandra hanya tersenyum kecut, entah dia harus menyesal atau senang, yang pasti dia masih mencari kesempatan untuk bisa kabur dari sini.


__ADS_2