
Sebagai seorang sekretaris Sandra memang harus rajin, dia harus datang lebih dulu dan membersihkan ruangan tuannya, bahkan dia juga menyiapkan air minum untuk Devin dan yang lainnya. Sandra juga harus membuat jadwal setiap harinya yang di tulis di ipad yang dia bawa kemana saja, dan nantinya akan di sampaikan kepada Devin. Beberapa bulan bekerja di perusahaan milik tuannya, Sandra masih melangkah belum jauh, karena untuk menaklukkan tuannya sungguh tidak mudah. Apa lagi sang istri yang datang hampir tiap hari, bahkan Sandra juga sudah mendengar jika istri tuannya sedang hamil, seharusnya ini memang kesempatan Sandra bukan? Sandra bisa mencelakai istri tuannya agar mengalami keguguran dan bisa jadi tuanya nanti akan membenci Alena dan menceraikannya.
“Pagi San,” sapa Evan yang baru saja datang.
Sandra pun menundukkan kepalanya dan dia juga tersenyum pada Evan. “Pagi juga tuan Evan, ada apa tuan ke sini pagi-pagi?” tanya Sandra.
“Aa, itu tadi tuan Devin menyuruhku untuk mengambil beberapa berkas penting di mejanya,” ucap Evan, lalu Evan berjalan masuk ke dalam ruangan Devin.
Sandra kembali duduk dan menatap laptopnya yang ada di hadapannya, dia kembali mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai sembari menunggu tuannya. Sesekali Sandra menatap ke arah pintu lift namun tidak ada tanda-tanda pintu lift terbuka dan memunculkan Devin. Sandra menghembuskan nafas panjang, dia juga menyandarkan tubuhnya, dia masih memikirkan untuk mendapatkan Devin.
“Apa ini saatnya aku bergerak lebih cepat lagi?” tanya Sandra dalam hati.
Entah kenapa dia tidak sabar menghancurkan pernikahan tuannya, dia akan membuat Alena kehilangan anaknya dan setelahnya dia juga akan membuat Alena seperti orang gila. Mangkinkah? Kenapa dia tidak merasa percaya diri kali ini jika dirinya mampu melakukan itu semua.
“Sandra,” panggil Evan.
__ADS_1
“Ya, tuan,” ucap Sandra yang sadar dari lamunannya.
Evan tersenyum, menatap Sandra sebentar. “Kamj kenapa San? Apa kamu sedang sakit?” tanya Evan.
Dengan segera Sandra menggelengkan kepalanya. “Tidak tuan,” ucapnya.
“Hmm, kalau begitu nanti kamu ikut saya bertemu dengan klien ya, karena hari ini tuan Devin tidak masuk kantor dan saya yang akan menghandel semuanya hari ini,” ucap Evan.
“Baik tuan,” ucap Sandra.
“Ok, saat ini saya akan pergi sebentar nanti jam 09.00kst, saya akan kembali untuk menjemputmu,” ucap Evan.
“Ok, saatnya kita akan memulainya, pertama kita pergi ke rumah tuan Devin,” ucapnya pelan.
Ya, nanti malam dia akan bergegas mengunjungi tuanya dan mungkin hanya untuk basa-basi dan dia juga akan membawa beberapa makanan kesukaan Devin, bahkan hari ini dia juga akan mengenakan baju terbaiknya dan tentunya yang akan memperlihatkan lekuk tubuhnya agar Devin dapat melihat jika dirinya yang pantas berada di sampingnya bukan Alena.
__ADS_1
Waktu berjalan dengan cepat, kali ini Sandra menaiki taksi untuk menuju apartemennya, dia sudah tidak sabar untuk sampai di apartemen dan membersihkan diri lalu pergi ke rumah pujaan hatinya yang tentunya untuk mendapatkannya penuh pengorbanan. Sampai di apartemennya dia langsung keluar dari dalam taksi, dan dia melangkahkan kaki masuk ke dalam lobby apartemen.
“Sandra!” teriak seseorang dari kejauhan.
Sandra pun dengan cepat menoleh ke belakang, dia sangat tahu itu suara siapa. Ya, benar itu suara Austin, dimana saat ini Austin sudah berada di depannya.
“Austin,” ucap Sandra pelan.
Austin adalah mantan bosnya, mereka juga sempat menjalani hubungan sangat dekat bahkan bukan hanya sekedar bos dan sekretaris, bahkan mereka juga sangat sering melakukan hubungan intim dimana ada kesempatan. Austin juga pernah menyatakan perasaannya namun Sandra menolaknya karena memang dia tidak memiliki perasaan pada Austin.
“Hai, apa kabar Sandra. Sudah lama tidak bertemu, aku sangat merindukan kamu baby,” ucap Austin tersenyum.
“K-kenapa t-tuan bisa tahu apartemen saya,” ucap Sandra dengan terbata-bata.
Austin menghendikan kedua bahunya. “Apa kamu lupa baby? Aku ini siapa,” ucap Austin sambil menunjukkan dirinya.
__ADS_1
Ya, Sandra baru sadar jika Austin juga memiliki kekuasaan. Jadi, dia bisa mengetahui dimana aku berada tanpa harus bersusah-susah, bahkan dengan hitungan menit. “Lebih baik tuan segera pergi dari sini karena saya tidak mau berurusan dengan tuan,” ucap Sandra.
Sandra pun lalu meninggalkan Austin, dia buru-buru berjalan masuk ke dalam lift agar Austin tidak mengikutinya, namun semuanya yang dia lakukan hanya sia-sia saja. Austin bahkan ikut masuk ke dalam lift bahkan kini dia berada di samping Sandra.