
Jenny masih menemani Nathan minum di sofa, entah dari tadi Nathan hanya diam dan terus meminum wiski yang Jenny berikan tadi, Nathan sudah menghabiskan satu botol dan kini botol ke dua tinggal setengahnya, memang Nathan jago minum banyak tapi ini nggak baik buat kesehatan.
Sedari tadi Jenny hanya menatap Nathan sambil meminum wiskinya sedikit demi sedikit, Jenny nggak mau mabuk yang ada nanti bisa berabe.
“Nat, sudah ya minumnya, lebih baik kamu istirahat di kamar yang satunya,” ucap Jenny memperingati.
Nathan hanya menatap sekilas Jenny dan meneruskan minumnya, Nathan masih ingin minum dan belum mau tidur, dirinya hanya ingin bisa melupakan Alena.
“Nat, ayolah jangan kayak gini, besok juga harus kerjakan,” ucap Jenny kembali yang begusaha membujuk Nathan agar tak minum lagi.
“Sebentar lagi Jen, lebih baik kamu kembali tidur lagi dan aku akan menginap di sini sampai besok pagi,” ucap Nathan tanpa menoleh ke Jenny.
“Ya, oke, tapi kamu berhenti minum Nat,” ucapnya dengan keras.
“Cukup Jen, tolong kamu bisa tinggalin aku sendiri di sini,” ucap Nathan dengan dingin.
Jenny ingin marah kepada Nathan tapi apa boleh buat Nathan sedang dalam kondisi di bawah alkohol dan itu hanya percuma saja. Jenny akhirnya meninggalkan Nathan sendirian di sofa dengan minumannya sedangkan Jenny kembali ke kamar untuk tidur.
Walaupun begitu Jenny tetap tak bisa memejamkan matanya takut Nathan kenapa – napa atau bisa jadi menghancurkan apartemennya jadi seperti kapal pecah nanti, Jenny hanya bisa berguling – guling saja di ranjangnya sambil bergumam memaki Nathan.
“Dasar Nathan sialan, brengsek kenapa dia jadi seperti itu, bikin repot orang saja,” dumel Jenny.
__ADS_1
Jenny meraih hpnya dan kembali mengjrimi Alena pesan namun juga tak di balas – balas, Jenny menaruh hpnya di nakas samping tempat tidur. Jenny kembali bangun dan turun dari ranjangnya menuju pintu untuk mengintip Nathan apa yang di lakukannya di luar.
Nathan membaringkan tubuhnya di sofa, Jenny hanya diam dan tak keluar membiarkan Nathan seperti itu. Jenny kembali menutup pintunya dan naik ke atas ranjang untuk kembali tidur, jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
“Nathan kau hanya menganggu tidurku, lihat saja besok kalau aku telat ke kantor,” gumamnya sambil memejamkan matanya.
Jenny pun tertidur kembali, sedangkan Nathan masih belum juga memejamkan matanya, Nathan tak merasa mengantuk.
“Hah! Na, ternyata untuk melupakanmu sangat sulit,” gumamnya sambil satunya di taruh di atas jidat.
“Na, kenapa kamu begitu masih menginginkan laki – laki itu, apa hebatnya laki – laki itu Na sampai kamu masih menginginkannya,” ucapnya kembali.
Nathan bangun untuk mencuci mukanya di kamar mandi kamar yang satunya, Nathan mencuci mukanya dan menatap kaca yang memantulkan dirinya. Lagi – lagi Nathan mengepalkan ke dua tangannya seperti ingin meninju orang.
**
Di kantor Nathan duduk di kursi kebesarannya sambil melamun dan memikirkan tentang Alena. Jenny yang melihat Nathan dari luar pun langsung masuk ke dalam untuk menemui Nathan.
“Nat … Nathan,” ucap Jenny sedikit keras dan itu berhasil membuat Nathan menoleh ke arah Jenny.
“Jenny, kapan kami masuk? Bikin kaget saja,” ucap Nathan sedikit sinis.
__ADS_1
Jenny hanya tertawa saja dan langsung mengeser tempat duduk di depat Nathan yang hanya terhalang oleh meja.
“Lagian pagi – pagi sudah ngelamun saja,” ucap Jenny menatap Nathan.
Nathan hanya melirik sebentar dan mengedarkan pandangannya ke arah lain.
“Nat kamu kenapa sih?” tanya Jenny yang kepo.
Nathan masih diam saja tak menjawab ucapan Jenny, Jenny yang menunggu jawaban dari Nathan menjadi kesal karena tak ada jawaban sama sekali.
Akhirnya Jenny pun pergi meninggalkan Nathan sendiri di ruangannya dengan perasaan kesal karena Nathan tak menjawab pertanyaannya.
“Jen, lo kenapa?” tanya Lionel yang tiba – tiba muncul di sampingnya.
“Tanya saja sama tuan kamu itu,” ucap Jenny lalu meninggalkan Lionel, Lionel hanya garuk – garuk kepala yang tak gatal itu.
Lionel pun masuk ke dalam ruangan Nathan untuk memberikan berkas – berkas penting.
“Li tolong buatkan saya kopi,” ucap Nathan sambil memijat keningnya yang agak sedikit pusing.
“Baik tuan,” ucap Lionel sambil membungkukkan badannya dan segera bergegas keluar ruangan.
__ADS_1
Nathan menatap berkas yang sudah ada di depannya tanpa minat untuk menyentuhnya, Nathan ingin sehari ini tidak bekerja dirinya terlalu lelah dan pikirannya selalu ada Alena.
Nathan berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah sofa dan menidurkan badannya di sofa empuk itu, Nathan memejamkan matanya.