
Setelah hampr mau tiga tahun Alena meninggalkan Devin, hidup Devin terasa tak ada guna dan semangatnya hanya sikap dingin dan terkadang suka marah – marah. Devin juga sering berkunjung ke Seoul ke rumah orang tua Alena yang kini pindah kemabali ke rumah lamanya.
Devin selalu bertanya Alena kepada ke dua orang tuanya namun hasilnya sama karena mereka juga tak menemukan Alena bahkan Alena juga tak pernah kasih kabar kepada mereka, Devin sering kali menghabiskan waktunya sendirian di taman atau entah di mana yang membuatnya nyaman.
“Alena di mana kamu sayang, gimana dengan anak kita apa sekarang tumbuh dengan baik,” batin Devin yang kini sedang duduk di bangku dekat kolam renang rumahnya, kini Devin sedang melamun.
Stevani sang mama hanya mengelengkan kepalanya melihat anaknya yang sekarang banyak melamun tak jelas dan terkadang marah karena hal sepele.
“Dev, kamu kenapa sih?” Stevani menepuk pundak Devin dengan pelan, dan itu membuat lamunan Devin buyar, Devin menoleh ke mamanya dan tersenyum tipis.
“Mama bikin kaget saja, Devin lagi duduk saja ma, cari udara segar,” ucapnya sambil matanya menatap air yang ada di kolam renang.
“Mama tahu perasaan kami saat ini Dev, tapi kamu jangan melamun dan kaya begini terus, jika memang Alena bukan jodoh kamu maka kamu harus meluppakannya dan berdoa yang terbaik, jika Alena jodoh kamu makan suatu saat nanti dia akan datang dengan sendirinya.”
“Ma, tapi Alena itu melahirkan keturunan aku, dan sekaran Devin nggak tahu gimana kabar Alena dan anak aku ma.”
“Mama tahu Dev, bahkan mama juga ingin tahu cucu mama, tapi apa kita nggak bisa lakuin apa – apa karena kita nggak tahu sekarang Alena berada di mana.”
__ADS_1
Devin hanya mengangguk mengerti, memang benar apa yang di katakan sang mama.
“Lalu Devin harus bagaimana ma, apa yang harus Devin lakukan,” ucapnya menoleh ke mamanya.
“Kamu nggak boleh menyerah Dev, kamu harus semangat menjalani ini semua, mama yakin kamu bisa melewati ini semua, kamu harus kuat Dev jangan lemah, mana perjuangan kamu yang kaya sebelumnya.”
Devin lalu mengangguk mengerti, ya, dirinya harus kuat dan tak boleh lemah, Devin akan kembali mencari keberada di mana Alena berada dan dirinya harus menemukannya.
**
Kini Devin sudah berada di ruangannya, seperti biasa Devin akan bekerja dan terlihat kurang semangat, Devin juga memasang wajah dinginnya, Devin juga masih menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Alena di mana.
“Evan.” Devin menatap Evan dengan serius dan itu membuat Evan bingung.
“Ada apa tuan, apa tuan butuh sesuatu?”
“Ya, dan kamu besok tolong kembali ke Swiss lagi untuk bertemu dengan klien, dan bilang permintaan maafku kalau saya sedang tak bisa datang,” ucapnya.
__ADS_1
“Baik tuan.”
Tentu saja Evan sangat senang karena dirinya bisa bertemu dengan kekasihnya kembali padahal baru kemarin dirinya kembali dan kini Evan di suruh kembali ke Swiss.
Seperti biasa setelah jam kantor selesai Devin akan pergi ke suatu tempat yang menurutnya sangat nyaman dan tenan, sudah selama satu tahun ini Devin berkunjung ke sebuah danau yang terlihat sangat cantik dan indah, di sinilah Devin menenangkan pikirannya sejenak.
Devin duduk di bangku kosong menatap jauh air danau yang tenang, di danau tak ada orang sama sekali, mungkin hanya beberapa orang lewat melewati jalan setapak, karena tak jauh dari danau ini ada perumahan warga yang tinggal tak jauh dari danau ini.
“Alena, semoga kamu baik – baik bersama dengan anak kita,” ucapnya lirih.
Devin tersenyum tipis meratapi nasibnya yang seperti ini, dirinya harus berbuat apa lagi agar bisa menemukan Alena pujaan hatinya.
“Sayang, tolong kembali padaku, dan aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta,” batinnya.
Devin metogoh kantong celananya untuk mengambil hpnya, Devin membuka galeri foto yang berisi foto Alena, wajah cantik dan senyumnya yang menawan dan manis.
“Aku berjanji akan menemukanmu sayang, dan aku pastikan kamu nggak akan bisa kabur dariku.”
__ADS_1
Devin beranjak dari duduknya dan berjalan dimana mobilnya terparkir yang tak jauh dari danau, hari sudah semakin gelap, Devin tak mau jika membuat orang rumah khawatir, tahu sendiri sang mama mulai cerewet jika Devin belum pulang.