
Hari ini Alena terakhir kali bekerja di supermarket bersama dengan Katty dan yang lainnya, karena besok Alena sudah berhenti bekerja dari sini, ya, Alena sudah memutuskan untuk kembali ke Seoul Korea pada hari sabtu bersama dengan Kaendra yang sudah berusia lima tahun.
“Na, pasti aku akan merindukanmu,” ucap Katty sambil membersihkan meja kerjanya.
“Pasti aku juga Kat, tapi kamu masih bisa menghubungiku kan,” ucap Alena menoleh kepada Katty dan tersenyum.
Katty mengangguk,”semoga selamat sampai tujuan ya Na nanti, maaf aku nggak bisa ikut anterin kamu ke bandara.”
“Nggak apa – apa Kat, lagian kamu juga harus kerjakan,” ucap Alena sambil menepuk pundak Katty dengan pelan.
Katty hanya tersenyum lalu mereka melanjutkan pekerjaanya masing – masing, sedangkan Alena sedang menscan barang belanjaan customer.
Tak jauh dari supermarket tampak dari luar berdiri seorang laki – laki yang bersandar pada mobilnya sambil melihat Alena yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, ya, siapa lagi kalau bukan Nathan yang masih belum bisa membuang perasaannya kepada Alena.
Nathan tersenyum kecut mengingat dirinya di tolak oleh Alena, padahal di sini Nathan tak ada kekurangannya sama sekali, namun hanya satu yaitu Alena belum bisa melupakan laki – laki yang sudah memasuki dalam hatinya.
__ADS_1
“Na, jujur aku nggak tahu kapan bisa melupakan perasaanku padamu,” ucapnya dengan lirih.
Nathan melepaskan kacamata hitamnya, menatap langit pagi ini yang agak sedikit mendung, Nathan kembali memakai kacamatanya kembali lalu masuk kedalam mobilnya, Nathan melajukan mobilnya ke kantor karena akan ada meeting setengah jam lagi.
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan pagi ini agak sepi jadi Nathan bisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nathan masih memikirkan Alena dan hanya Alena untuk saat ini dalam pikirannya.
**
Di tempat yang berbeda Devin sedang bersama dengan Evan di kediaman Lee, ya, Devin berkunjung ke rumah Alena berharap Alena sudah kembali ke rumah orang tuanya, namun kenyataannya belum.
“Maaf Dev, sampai saat ini Alena juga tak memberi kabar kepada kita, bahkan Alena juga menganti nomor hpny,” ucap Lee.
“Baiklah, nanti akan kami kabari kamu Dev,” ucap Sahira.
“Tapi kamu jangan gegabah menemuinya nanti, om sama tante cuma takut jika Alena kabur kembali,” ucap Lee.
__ADS_1
“Baik om, Devin akan hati – hati untuk mendekati Alena kembali, agar Alena bisa menerima keberadaan Devin di dekatnya dan juga ayah dari anak yang di kandung Alena, dan mungkin anak itu sekarang udah lahir,” ucap Devin dengan tersenyum kecut.
“Aku tahu perasaan kamu Dev, maka kamu harus bersabar sedikit lagi mungkin,” ucap Sahira.
Devin hanya mengangguk, bagaimanapun memang dirinya memang harus bersabar, dan dirinya juga harus mendapatkan Alena sebagai istrinya. Setelah itu Devin berpamitan untuk segera pergi karena ada urusan yang harus segera di selesaikan.
Devin meminta kembali ke hotel di mana tempat mereka menginap sementara di Seoul, Devin ke Seoul juga ada pekerjaan yang harus ia tangani dan masih setia di temani oleh Evan.
“Apa kamu tahu kemana kira – kira perginya Alena, sampai saat ini aku tak berhasil menemukannya,” ucap Devin dengan tatapan matanya yang sendu.
“Maaf tuan, saya sendiri juga tak tahu nona Alena kemana, aku yakin mungkin sebentar lagi tuan akan bertemu segera dengan nona,” ucap Evan.
Devin yang mendengar itu menatap Evan dengan memicingkan matanya.
“Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu Evan,” ucapnya.
__ADS_1
“Hanya perasaan saya saja tuan,” ucap Evan dengan lirih.
“Aku juga maunya begitu Van,” ucap Devin yang kini mengalihkan pandangannya ke luar jendela melihat orang – orang Korea yang sangat suka dengan berjalan kaki.