Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Devin


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi Devin bangun dan bersiap untuk pergi ke perusahaannya yang ada di Seoul. Devin baru meresmikan perusahaan barunya dalam satu tahun di Seoul, sebenarnya di Korea juga ada anak perusahaan milik ayahnya, namun Devin ingin mendirikan perusahaan dari jerih payahnya sendiri, walaupun nantinya akan memimpin dua perusahaan.


“Tuan, apa sudah siap untuk pergi ke kantor?” tanya Evan yang sedang berdiri di samping Devin.


Devin baru saja menyelesaikan sarapannya yang telah di siapkan oleh bibi tadi.


“Sudah, ayo kita berangkat, oh iya, Evan gimana dengan berkas yang aku suruh kemarin?” tanya Devin menoleh ke Evan.


“Semuanya sudah beres tuan, dan kita tinggal mengirimkan berkas itu untuk menjalin kerjasama,” ucap Evan.


“Tapi kamu nggak salah buat nama perusahaan kita yang barukan?” tanya Devin memastikan kembali.


“Tidak tuan,” ucap Evan.


Devin pun mengangguk dan berjalan terlebih dahulu sedangkan Evan berjalan di belakangnya. Evan membukakan pintu mobil untuk Devin dan Evan pun berjalan, lalu memasuki ke dalam mobil.


Evan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Devin, Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan Seoul pagi ini sudah ramai orang – orang ingin berangkat kerja dengan berjalan maupun menggunakan kendaraan umum.


Orang Korea sudah terbiasa setiap harinya berjalan dari pada menggunkan kendaraan untuk perjalanan atau menuju ke suatu tempat yang dekat.


“Evan, apa menurutmu ini akan berhasil?” tanya Devin yang duduk di belakang.


“Tuan tenang saja, aku yakin kalai kita bakal berhasil, nona Alena tak akan tahu jika perusahaan tuan mengajukan untuk menjalin kerjasama, perusahaan kita juga baru tuan dan nona Alena baru saja memimpin perusahaan sekitar satu bulan,” ucap Evan sambil melirik dari kaca mobil.

__ADS_1


“Aku baru ingat, ya, aku jadi yakin, lagi pula perusahaan kita juga sangat menjanjikan,” ucapnya.


Devin pun tersenyum sambil mengangguk – angguk, setelah semuanya berhasil Devin akan merencanakan sesuatu yang tak terduga untuk Alena.


**


Di dalam ruangan Alena sudah duduk di kursi kebesarannya sambil melihat pemandangan luar di Kota Seoul dari kaca. Alena tersenyum tipis sambil meminum susu coklat panas yang di buatkan oleh Kalista sekretarisnya.


“Aku nggak pernah menyangka bahwa aku akan mengantikan appa di perusahaan ini,” gumam Alena.


Alena masih bersantai sambil menikmati susu coklat hangatnya karena jadwal pagi ini tak terlalu padat. Biasanya Alena tiap pagi harus di hadapkan dengan klien atau pun rapat yang diadakan di perusahaan.


Alena berdiri dari tempat duduknya, berjalan keluar ruangan untuk mencari udara segar.


Menghirup udara pagi lalu mengeluarkan dengan pelan itu yang di lakukan oleh Alena sambil merentangkan kedua tangannya.


“Nona Alena,” panggil Kalista dari belakang.


Alena pun menoleh ke belakang sambil tersenyum kepada Kalista.


“Iya Ta, ada apa?” tanya Alena dengan masih terukir senyuman di bibirnya.


“Ini ada beberapa berkas yang nona harus cek dan tanda tangani dari beberapa perusahaan yang mengajukan kepada perusahaan kita,” ucapnya.

__ADS_1


“Baiklah, kamu taruh saja di meja, biar nanti aku cek,” ucap Alena sambil menatap pemandangan di depannya.


“Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Kalista sambil membungkukkan badannya.


Alena menoleh kembali mengangguk, dan Kalista pun kembali ke kantor untuk meletakkan berkas yang ia bawa tadi.


Alena berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pelan untuk kembali ke kantor.


Ting …


Bunyi pesan dari hp Alena, membuat Alena harus membuka hpnya siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.


Devin : Alena bagaimana kabar kamu? Kamu tahu aku sangat merindukanmu, tolong kasih tahu aku kamu berada dimana Alena. Aku sangat ingin bertemu denganmu.


Alena membaca pesan masuk yang di kirimkan oleh Devin, di sana ada sedikit air mata yang ingin menetes namun di tahan oleh Alena agar air mata itu tak jatuh.


“Maafkan aku Dev, maaf,” ucapnya sambil melanjutkan jalannya tanpa membalas pesan dari Devin.


Ingin rasanya Alena menangis sekeras – kerasnya namun ia tahan dan jangan sampai ada orang tahu seorang Alena menangis. Alena masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di kursi dan meletakkan hpnya di meja, meliriknya sekilas lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain.


“Cukup Alena, cukup mau tidak mau kamu harus segera bertindak,” ucap Alena kembali.


Alena lalu memfokuskan dengan melihat berkas – berkas tadi yang di bawa oleh Kalista, Alena mengecek satu persatu dan menanda tanganinya. Ya, Alena menyetujui beberapa berkas itu dan tanpa ada kecurigaan Alena juga menanda tangani berkas kerjasama milik Devin.

__ADS_1


__ADS_2