
Hari ini Alice dan Evan kembali ke Seoul, mereka kembali ke rumah Alena dan Devin, sebenarnya Evan sudah menyiapkan apartemen dan rumah, nantinya Alice tinggal memilih mau tinggal dimana, itu semua terserah Alice. Akan tetapi saat ini Alice dan Evan ke rumah Alena dan Devin karena Alice sudah diberitahu oleh Alena jika mama dan adiknya tinggal di rumahnya, saat itu juga Alice langsung kaget bahkan dia juga ingin cepat sampai di rumah, entah kenapa dia sangat khawatir mengetahui mama dan adik tirinya berada di sana. Alice langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh Evan di belakangnya, Alice langsung mencari keberadaan Alena.
“Eonie!” teriak Alice.
Alena yang merasa di panggil namanya langsung berjalan ke sumber suara, dan dia melihat Alice yang berada di ruang keluarga langsung menghampirinya. “Kenapa kamu teriak-teriak Alice?”
Alice pun tersenyum langsung memeluk Alena dengan erat, “Aku merindukan eonie.”
“kamu baru satu bulan meninggal eonie, dan bahkan kita juga saling bertukar pesan,” ucap Alena melepaskan pelukan Alice.
Lagi dan lagi Alice hanya tersenyum, “Apa mereka ada di sini? Apa mereka melakukan sesuatu?” tatapan Alice yang penuh dengan pertanyaan.
“Maksud kamu apa Alice? Eonie tidak tahu, siapa?” tanya Alena yang masih tidak tahu.
Alice mengajak duduk Alena dan menatapnya sebentar, “Eonie, apa benar mama dan adikku di sini? Apa mereka melakukan sesuatu hal yang buruk?”
Alena menggelengkan kepalanya, “Aniyo, tapi eonie sering melihat mereka belanja banyak dan suatu hari eonie juga sempat melihat mereka pulang dini hari. Eonie tidak tahu mereka habis dari mana dan eonie juga takut akan menegur mereka,” ucap Alena.
Alice yang mendengar semuanya hanya bisa diam dan merasa tidak enak, entah apa yang akan mereka lakukan di sini? Padahal dirinya sudah membelikan apartemen dan uang untuk kehidupan mereka agar tidak menganggu hidupnya. Tapi kenapa mereka seakan di sini merencanakan sesuatu yang jahat.
“Baby yang sedang kamu pikirkan? Apa yang sebenarnya terjadi, tolong ceritakan pada kami,” ucap Evan yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan. Jujur saja Evan baru tahu juga jika mereka berdua adalah mama dan adik tiri Alice, dimana mereka dulu memperlakukan Alice dengan jahat. Itu juga Alice baru cerita saat berada di dalam pesawat, saat kembali ke Seoul.
“Eonie, sebenarnya mereka jahat. Bahkan Alice sudah memberikan apa yang mereka inginkan tapi entah rencana jahat apa lagi yang akan mereka lakukan sehingga datang ke sini,” ucap Alice.
Alena memegang tangan Alice dengan erat, “Sstt, sudahlah kamu tidak usah terlalu memikirkannya, kita lihat saja apa yang akan dia lakukan dan kamu tetap bersikap baik kepada mereka sama seperti kami. Jika memang nanti mereka berbuat jahat dengan dirimu maka eonie tidak segan-segan akan mengusirnya dari sini.”
“Maafkan Alice, sudah membuat eonie dan oppa memasukkan mereka ke rumah ini,” ucap Alice, lalu Alena kembali membawa Alice ke dalam pelukannya.
Di sisi lain Mareta dan Sania yang masih berada di kamar mereka tidak mengetahui jika Alice sudah kembali, bahkan mereka masih asyik mencoba baju baru untuk mereka kenakan nanti malam. Nanti malam juga Sania akan bertemu dengan klien pentingnya dan tentunya dia juga harus berdandan dengan sangat cantik kalau tidak nanti dirinya akan mendapat bayaran yang sedikit. Atau bahkan dia juga harus di tuntut untuk memuaskan kliennya dengan sebaik mungkin.
“Bagaimana kamu sudah menentukan baju yang akan kamu kenakan?” tanya Mareta.
“Tentu saja sudah ma, apa nanti malam mama akan menemaniku?” tanya balik Mareta.
__ADS_1
Mareta menatap pada Sania dan tersenyum, Mareta menggelengkan kepalanya, “Tidak mama hanya akan di rumah, dan mama harap kamu bersikap baik pada klien kamu.”
“Why? Kenapa Sania harus berangkat sendiri ma,” ucap Sania dengan cemberut.
Mareta ingin anaknya ini bisa belajar mandiri, keluar rumah tanpa dirinya, bahkan kalau bisa dirinya bisa mencari klien sendiri tanpa dia harus repot-repot mencari klien untuk Sania dqn lebih baik dia menikmati hidupnya dengan belanja atau yang lainnya mungkin.
“Sudahlah jangan bawel, lebih baik kamu istirahat sana,” ucap Mareta, dia langsung beranjak dari duduknya dab berjalan keluar kamar.
Mareta ingin pergi ke dapur namun langkahnya terhenti saat dia melewati ruang keluarga dimana dia melihat Alice dan yang lainnya. Dia berjalan menuju sofa, Mareta mendekati Alice. Bahkan Mareta berpura-pura bersikap baik pada Alice.
“Sayang, kamu sudah kembali?” tanya dengan senyuman yang penuh kepalsuan itu.
Alice hanya bisa menganggukan kepalanya dan tersenyum, “Ya, ma, Alice baru saja sampai di rumah. Oh, iyya. Mana Sania ma?”
“Ah, dia. Anak itu sedang istirahat karena semalam dia tidak bisa tidur, dan mama suruh dia tidur,” ucap Mareta.
Alice tersenyum, lalu setelah itu dia berpamitan pada semua orang untuk masuk ke dalam kamar. Evan yang melihat istrinya diam, dia menghela nafasnya dan segera mendekati Alice. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Evan.
“Aku hanya tidak tenang saja mereka tinggal di sini, aku ingin mereka pergi dari sini. Padahal aku sudah memberikan segalanya,” ucap Alice.
Malam harinya setelah mereka selesai makan malam, Alice berjalan menuju halaman belakang. Tanpa Alice sadari di belakangnya sudah ada sang mama yang mengikutinya. “Kamu kaget ya? Mama dan Sania ada di sini. Atau bahkan kamu sangat takut, jika aku akan membuat nama kamu jelek dan di usir atau kamu takut jika mama akan merebut segalanya.”
Mareta tertawa lepas bahkan dia juga tidak takut jika tawanya akan ada yang mendengarnya, “Dengar Alice, kamu itu harusnya tidak bisa mendapatkan semua ini. Harusnya yang lebih pantas mendapatkan semuanya adalah Sania bukan kamu gadis pembawa sial.”
Alice yang mendengarkan perkataan mama tirinya hanya bisa menangis, entah sudah berapa kali dirinya harus di hina dan di sakiti. Bahkan Alice yang sudah berusaha menjauh namun tetap saja Alice bisa di temukan oleh mereka dan pada akhirnya mereka akan menyakiti dirinya. “Apa mama belum puas dengan apa yang telah aku lakukan selama ini? Mama masih kurang dengan apa yang telah aku berikan, bahkan sampai aku rela mengorbankan semuanya tapi apa yang aku dapat, hanya penyiksaan,’ ucap Alice.
“Kenapa? Kamu tidak suka,” ucap Mareta, bahkan dia seakan meremehkan Alice, lagi-lagi Alice hanya bisa menangis. Hatinya terlalu rapuh dan tidak bisa di sakiti sama sekali, cukup banyak penderitaan selama ini yang dia dapatkan dan menahannya sendiri tanpa ada yang membantunya.
“Cukup ma, Alice sudah cukup bersabar selama ini tapi apa semuanya hanya sia-sia saja dan mama sangat jahat,” ucap Alice.
“Sudahlah, lebih baik aku masuk ke dalam dan tidak akan mendengarkan ocehan kamu itu, lebih baik aku melihat Sania, apakah dia sudah siap apq belum,” ucap Mareta langsung meninggalkan Alice sendirian yang masih menangis.
Alice duduk di kursi kosong yang ada di halaman belakang, dia berdoa agar apa yang dia alami selama ini sudah cukup sampai di sini dan berharap jika mama dan Sania akan berubah. Sungguh dia tidak ingin melawan mamanya namun mamanya itu selalu berbuat ulah dan selalu memaksakan dirinya agar tujuan sang mama tercapai.
__ADS_1
**
Waktu terus berjalan, kehidupan keluarga Alena dan Devin yang hangat dan humoris membuat keluarga mereka terlihat sangat harmonis. Bahkan Alice yang sampai saat ini yang terkadang suka menginap di rumahnya membuat Alena senang, karena ada temannya saat sang suami sedang pergi ke luar negeri. Untuk Kaendra, anak itu bahkan lebih sibuk lagi dengan urusannya. Sehingga membuat Alena dan anaknya yang masih kecil terkadang hanya di rumah sendiri.
“Alice, bagaimana dengan kandungan kamu?” tanya Alena, sambil memberikan susu ibu hamil untuk Alice.
“Semuanya baik-baik saja eonie,” ucap Alice tersenyum.
Alena yang ikut duduk di sampingnya pun ikut tersenyum karena mengetahui kandungan adiknya baik-baik saja. “Syukurlah, dan kamu juga jangan terlalu banyak pikiran karena tidak baik untuk kesehatan ibu hamil.”
“Ya, eonie. Maka dari itu terkadang Evan suka mengajakku pergi keluar walau hanya ke taman. Eonie, terima kasih untuk segalanya,” ucap Alice yang saat ini tatapan ke arah Alena.
“Sudahlah, kamu tidak perlu berterima kasih Alice karena bagaimana juga kita adalah keluarga dan akan saling membantu jika salah satu dari kita mengalami kesulitan. Kamu juga jangan pikirkan itu lagi, eoni yakin jika mama dan adik tiri kamu itu akan berubah. Bahkan mereka juga tidak bisa menganggu kamu lagi Alice,” ucap Alena, sedangkan Alice hanya mengangguk, lalu memeluk Alena dengan erat.
Sudah berapa banyak Alena membantu dirinya, sehingga Alice merasa bersalah jika terus membuat eonie dan oppanya terus kesusahan karena dirinya. “Stttss, kamu jangan berpikiran macam-macam, sudah cukup saat ini yang kamu pikirkan adalah kandungan kamu bukan hal-hal yang tidak berguna,” ucap Alena melepaskan pelukan Alice dengan perlahan.
Sore harinya Alena yang sedang menggendong anaknya dan berusaha menidurkan si kecil karena sedari tadi rewel dan tidak mau berhenti menangis dan baru beberapa menit tertidur. Alena menidurkan anaknya di ranjang yang, dan setelah itu Alena mencium kening anaknya dengan lembut setelah itu keluar dari kamar anaknya.
Alena masuk ke dalam kamarnya dan melihat sang suami yang sedang duduk di balkon sambil meminum wine. Alena berjalan dengan pelan mendekati suaminya, Alena memeluk Devin dari belakang, bahkan Alena menyenderkan kepalanya di punggung kokoh milik Devin.
“Aku merindukan dirimu,” ucap Alena.
Devin tersenyum kecil lalu meletakan gelasnya dan merubah badannya dan saat ini tatapannya bertemu dengan Alena, “Baru aku tinggal satu minggu ke Hambrung, kamu sudah merindukan aku saja honey.”
“Tentu saja,” ucap Alena cemberut dan Devin lagi-lagi hanya tertawa lalu mencubit hidung Alena dengan pelan, karena saat Alena sedang merajuk membuatnya sangat gemas.
“Aku sangat merindukan dirimu honey, bahkan saat ini juga aku ingin memakan dirimu,” bisik Devin, Alena yang tahu akan maksud Devin pun mengalungkan tangannya dan mencium bibir Devin.
Ya, dan keduanya pun melakukan hal yang sangat menyenangkan, memuaskan satu sama lain. Bahkan Devin tidak ingin sampai Alena pergi dari kamarnya saat ini juga, sungguh dia sangat merindukan aroma wangi dari tubuh Alena yang selalu membuatnya ingin tetap dekat dan ingin melakukan lagi dan lagi. Kehidupan keluarga yang bahagia dan hanya akan terpisahkan oleh maut, dan cinta mereka akan kekal abadi.
END
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti ceritaku sampai selesai, dan aku juga meminta maaf jika banyak kekurangan dalam menulis novel ini. Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca setiaku.