
Hari ini Alena memang sengaja ikut Devin untuk pergi ke kantor Devin. Alena melakukan ini hanya ingin tahu interaksi antara Devin dan Sandra, entah sejak kapan dirinya jadi penasaran dan tidak mempercayai Devin. Alena duduk di sofa sambil menyalakan laptopnya, dia ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum sempat dia kerjakan. Bahkan sesekali dia juga melirik keluar dan dia juga mendapati Sandra yang sedari tadi menatapinya, dalam hati Alena hanya bisa bersabar, andai saja ini bukan di kantor suaminya maka Alena bisa menegur Sandra atau mungkin memberikan Sandra umpatan.
“Apa dia setiap hari pekerjaannya seperti itu?” tanya Alena dalam hati, dia langsung menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pekerjaannya, dia hanya ingin berpikir positif saja.
Waktu berjalan dengan cepat dan kini saatnya makan siang tiba, Alena yang masih sibuk dengan laptopnya di kagetkan Devin yang sudah berada di sampingnya.
“Honey, kamu makan di restoran apa di sini saja? Biar aku suruh Sandra yang memesan makanannya,” ucap Devin.
Alena tersenyum tipis, dan satu tangannya mengusap wajah Devin lembut. “Aku ingin makan di sini saja,” ucap Alena manja, dia memang sengaja melakukan ini agar Sandra tahu jika Devin adalah miliknya.
Devin pun menelepon Sandra dan menyuruh sekretaris centilnya untuk memesan makan siang untukku dan Devin, bahkan aku juga dengan sengaja mengajaknya makan siang bersama. Awalnya Devin keberatan namun karena aku memaksanya Devin mengiyakan, aku ingin tahu sampai mana Sandra akan terus menggoda Devin agar terpesona dengannya.
Setelah sampai makanannya kami pun makan siang bersama, bahkan aku juga melihat Sandra yang berusaha menampilkan miliknya agar Devin menatapnya namun sayangnya Devin terlalu fokus pada makan siangnya dan diriku, bahkan saat itu juga aku tertawa bahagia. Namun aku juga tidak bisa tenang sebelum Sandra keluar dari sini, bagaimana juga Alena harus cepat mendapatkan pengganti Sandra, karena dia tidak akan membiarkan penganggu untuk bertahan.
“San, ayo makan yang banyak,” ucapku.
“Aaa, i-iya nyonya,” ucapnya.
Aku hanya tersenyum, ternyata dia pandai berpura-pura menjadi polos di depan Devin. Aku tahu jika sebenarnya saat ini dia merasa tidak nyaman, bahkan dia juga merasa tidak suka dengan keberadaanku. Akan tetapi aku hanya cuek, dan mau melihat sejauh mana dia akan bertingkah atau melakukan berbagai trik liciknya untuk memikat lelaki lain selain Devin.
__ADS_1
Selesai makan siang, Sandra kembali ke tempat duduknya, sedangkan aku dan Devin masih duduk di sofa. Kami berdua bercanda dan terkadang Devin mencuri ciuman dariku, namun setelah itu aku merasakan mual yang begitu hebat, hingga aku beranjak dari dudukku dan berlari menuju kamar mandi. Devin pun yang panik segera mengikutiku bahkan dia juga membantuku memijat tengkukku, aku memuntahkan semuanya, bahkan kini kepalaku juga merasa pusing dan lemas.
“Honey, are you ok?” tanya Devin.
Aku menggelengkan kepalaku. “Kepalaku pusing, badanku lemas, dan mual Dev,” ucapku lemah.
“Kalau begitu kita ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa-napa,” ucap Devin, dimana dia langsung menggendongku ala bridel style. Saat itu juga Devin bilang ke Sandra bahwa suruh membatalkan jadwal selanjutnya karena Devin harus mengantarku ke rumah sakit.
Devin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sebenarnya jarak rumah sakit dari kantor Devin sangat dekat. Devin segera membawaku masuk ke dalam rumah sakit dan dengan di bantu suster menuju ke salah satu ruangan. Devin pun dengan gelisah menunggu dokter memeriksa keadaan Alena saat ini.
“Dengan pak Devin,” ucap dokter yang baru saja keluar ruangan, dokter itu tersenyum ramah.
“Pak Devin tidak perlu khawatir, bu Alena sedang mengandung dan usia kandungannya sudah tiga minggu,” ucap dokter.
“Benarkah? Istri saya hamil dok, anda tidak berbohong?” tanya Devin.
Dokter hanya tersenyum sambil mengangguk, bahkan Devin juga mengucapkan terima kasih pada sang dokter lalu dia langsung masuk ke dalam ruangan untuk segera menemui Alena. Bahkan dia juga tidak sabar untuk memberi kabar bahagia ini kepada keluarga besarnya, dimana dia dan Alena akan kembali memiliki anak.
“Dev,” panggil Alena.
__ADS_1
“Ya, honey.”
“Ada apa denganku?” tanya Alena.
Devin tersenyum, bahkan dia juga berkali-kali mencium kening Alena, dan Devin pun juga mengusap perut Alena yang masih rata, mungkin setelah ini Devin akan mengajak Alena untuk melakukan usg untuk melihat janin yang ada di perut Alena
“Thank you honey, kita akan kembali memiliki anak,” ucap Devin bahagia.
“Apa? Kamu tidak berbohong padaku’kan,” ucap Alena.
“No, kamu benar sedang hamil honey, usia kandungannya sudah tiga minggu,” ucap Devin, dan saat itu juga Alena langsung bangun dan memeluk tubuh suaminya dengan erat, sungguh ini adalah kabar bahagia dimana dia akan kembali melahirkan anak adik Kaendra.
“Aku bahagia Dev, akhirnya kita kembali memiliki anak lagi,” ucap Alena, dan Devin pun mengangguk.
Selesai melakukan usg, dimana janin yang berada di perut Alena bertumbuh kembang dengan baik, bahkan dokter juga meresepkan beberapa vitamin yang harus di minum Alena untuk memperkuat kandungannya, bahkan Alena juga di suruh untuk menjaga pola makannya dan Alena juga tidak boleh kecapean.
“Honey, kita langsung pulang saja ya? Agar kamu bisa istirahat di rumah dan nanti aku juga akan menyuruh pelayan untuk membeli buah dan sayuran yang nantinya untuk kamu makan, aku ingin semua yang terbaik untukmu,” ucap Devin.
Alena hanya mengangguk dan tersenyum, sungguh dia bahagia di kehamilannya yang kedua ini di temani Devin di sampingnya tidak seperti saat kehamilan pertamanya, dirinya sangat jauh dari Devin dan hubungannya tidak baik. Namun dia juga tidak akan menyesali semua itu yang telah terjadi, saat ini dirinya bahagia karena Devin benar-benar melakukan tanggung jawabnya sebagai papa yang baik, bahkan mengajarkan Kaendra apa yang harus di lakukan dan tidak, selama ini Devin sudah menunjukkan semuanya, laki-laki yang membuktikan semuanya dan hbukan hanya bualan.
__ADS_1