Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Devin


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di Hamburg bersama dengan Evan. Aku langsung menuju rumah mama dan papa karena paling dekat, aku juga ingin istirahat sebentar sebelum mengurus semuanya. Sedangkan Evan juga aku suruh untuk menginap di sini saja dari pada dia harus kembali ke apartemennya karena aku tahu dia juga pasti sangat lelah.


Aku langsung menuju ke dalam kamarku dan merebahkan tubuhku di atas ranjang, rasanya sangat nyaman dan aku pun memejamkan mataku. Bahkan aku sampai lupa untuk memberi kabar pada Alena.


Sore harinya aku terbangun, aku meraih hpku dan langsung mengirimkan pesan pada Alena. Aku kembali ke rumah mama dan papa aku, dan besok aku baru kembali ke perusahaan dan mengurus semuanya dan di sini papa juga ikut membantuku walauoun sepenuhnya di sini aku yang bertanggung jawab. Aku beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku, rasanya sangat menyegarkan saat badanku diguyur oleh air dingin.


Saat aku keluar dari kamar mandi tiba-tiba saja hpku berbunyi dan menampilkan nama Alena, aku pun langsung mengangkatnya.


“Hallo sayang,” ucapku.


“Kamu beneran sudah sampai di rumah?” tanya Alena dari seberang telepon dan itu membuatku tersenyum.


“Ya, sayang aku sudah sampai. Apa lebih baik kita video call saja bagaimana? Tapi tunggu kenapa kamu belum tidur sayang bukannya di sana sudah larut malam,” ucapku.

__ADS_1


Aku bahkan bisa mendengar helaan nafas Alena yang begitu panjang. “Aku tidak bisa tidur tanpamu Dev,” ucapnya.


Aku kembali tersenyum, “Apa kamu merindukan aku sayang? Bersabarlah sayang aku akan segera kembali kalau sudah selesai,” ucapku.


“Hm, tapi kamu jangan macam-macam saat di sana kalau kamu berani macam-macam maka aku membuat pelajaran padamu Dev,” ucap Alena dan lagi-lagi itu membuatku tertawa terbahak-bahak. Hah! Entah kenapa saat Alena marah itu terlihat sangat mengemaskan hingga membuatku ingin mencubit kedua pipinya.


“Sayang, kamu percaya padaku kan, aku enggak akan berbuat macam-macam sayang jadi kamu jangan berpikir macam-macam jadi mulai malam ini lebih baik kamu persiapkan saja dirimu dan nanti sampai aku kembali ke Seoul kita bikin adek buat Kaendra pasti dia akan sangat suka,” ucapku.


“Dasar Devin mesum,” ucap Alena.


“Baiklah, kalau begitu aku mau tidur dan kamu jangan lupa makan nanti,” ucap Alena, setelah itu Alena juga langsung memutuskan panggilan teleponnya sepihak. Emang dasar istri aku yang paling cantik dan mengemaskan ini selalu membuatku tidak bisa jauh darinya. Kehilangan cukup lama saja sudah membuatku gila, maka kali ini aku tidak mau sampai terjadi kembali.


Aku berjalan ke walk in closet untuk menggunakan baju karena keluar kamar mandi aku hanya menggunakan bathrobe. Setelah itu aku keluar kamar dan turun ke bawah, di bawah sudah ada Evan dan papa yang sedang mengobrol.

__ADS_1


“Dev, akhirnya kamu turun,” ucap papa, sedangkan aku hanya tersenyum dan ikut duduk di samping Evan.


“Kenapa pa?” tanyaku.


Papa hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak apa Dev, papa harap setelah kamu memindahkan semuanya kamu dan Alena akan sering berkunjung ke sini. Bagaimana juga papa dan mama juga ingin melihat cucu papa,” ucap papa.


“Pasti pa, Devin, Alena, dan Kaendra nanti beberapa bulan akan berkunjung ke sini jika Devin tidak banyak kerjaan,” ucapku.


Papa hanya mengangguk-angguk, dan tidak lama datang dengan membawa air minum. “Kalian bahas apa? Kenapa terlihat sangat serius?” tanya mama.


“Masalah pekerjaan dan papa juga menyuruh kami untuk selalu berkunjung ke sini ma,” ucapku.


Sedangkan mama hanya mengangguk. “Ya, mama juga setuju kalian harus tetap berkunjung ke sini dan kalau bisa kalian lama di sini dan pasti mama juga akan temannya dengan adanya cucu mama Kaendra,” ucap mama.

__ADS_1


Ya, semenjak mama dan papa tahu mereka memiliki cucu mereka jadi ingin selalu drkat dengan Kaendra. Apa lagi saat pernikahan kami saat itu mama dan papa sangat dekat banget dengan Kaendra. Mau bagaimana juga aku tidak mau memaksakan Alena untuk tinggal di sini karena mungkin dia masih mengingat perlakuanku padanya dan aku bisa merasakannya. Hingga aku memutuskan untuk ikut Alena di Seoul saja dan memindahkan kantor pusat di Seoul dan sebagian di sini juga papa yang akan mengurusnya.


Kami berbincang cukup lama dan setelah itu di lanjut makan malam bersama. Selesai makan malam bersama aku pergi ke ruang kerjaku untuk cek beberapa berkas dan juga email dari klien. Evan aku suruh untuk istirahat saja dan besok pagi baru kita memulai semuanya. Pekerjaanku di sini sudah cukup banyak terbengkalai bahkan aku juga membatalkan kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan namun itu tidak membuat perusahaanku akan bangkrut begitu saja karena di sini perusahaankulah yang paling besar sehingga jika aku membatalkannya maka mereka akan membuat jadwal ulang untuk bisa mendapatkan kontrak kerjasama.


__ADS_2