
Austin membawa Sandra ke rumahnya, dimana rumah itu hanya ada dia saja. Keluarga Austin berada di Hamburg, di sini Austin sebenarnya hanya sementara waktu saja, namun karena Sandra dia rela membeli rumah ini dimana Sandra juga akan tinggal di sini. Austin tidak akan membiarkan Sandra berulah lagi, apa lagi tadi dia dengar dari mulut Devin dan Alena, bukankah Sandra sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa di maafkan. Akan tetapi apa daya Austin, dirinya tidak bisa berbuat kasar pada Sandra, dia bahakan juga tidak mau sampai terjadi kenapa-napa dengan janin yang ada di perut Sandra.
“Lebih baik kamu istirahat di sini, aku akan pergi sebentar,” ucap Austin, bahkan tatapannya yang sangat marah pada Sandra, akan tetapi dia hanya bisa meredamnya.
“Tunggu! Kenapa kamu membawaku ke sini? Lebih baik aku kembali ke apartemenku,” ucap Sandra, bahkan dia juga sudah beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar.
Tangan Austin segera mencekal tangan Sandra, agar dia tidak pergi dari sini, “Kamu tidak akan kembali ke apartemen itu, dan selamanya kamu akan tinggal di sini,” ucap Austin.
“Apa! Aku tidak salah mendengarnya? Untuk apa aku harus tinggal di sini dan lebih baik segera lepaskan cekalan tanganmu,” ucap Sandra sambil berusa melepaskan tangannya dari cekalan Austin.
“Bebas dari sini? Huh! Itu hanya impian kamu saja San, selama ini aku sudah mencoba bersabar tapi apa yang kamu lakukan padaku? Bahkan kamu juga tega mengakui janin itu anak lelaki lain padahal janin yang kamu kandung adalah benih buah cinta kita berdua San. Apa yang ada di pikiran kamu saat ini San?” Austin mengusap wajahnya dengan kasar, jujur saja dia juga sangat lelah menghadapi kelakuan Sandra, padahal dirinya juga di tolak mentah-mentah oleh Sandra namun dengan bodohnya dirinya masih saja mempertahankan Sandra.
__ADS_1
“Apa maksud kamu Austin? Kamu bahkan tidak berhak mengatur hidupku dan aku bebas menentukan sendiri hidupku dan dimana aku harus tinggal,” ucap Sandra dengan murka.
“Terserah,” ucap Austin dingin, bahkan Austin juga meninggalkan Sandra di dalam kamar dan menguncinya dari luar. Austin juga mendengar teriakan Sandra akan tetapi dia tidak peduli, dia terus berjalan meninggalkan rumah. Austin masuk ke dalam mobilnya dan dia juga segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya, Austin membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sungguh Austin benar-benar gila akan cintanya dengan Sandra, entah kenapa dirinya sampai tergila-gila dengan Sandra, padahal banyak wanita di dunia ini yang lebih baik dari Sandra namun tetap saja Austin memilih Sandra sebagai kekasih atau bahkan dia menginginkan pernikahan bersama dengan Sandra hingga akhirnya ,mereka akan hidup bahagia selamanya. Mungkin dia memang sudah di butakan oleh cinta, sehingga Austin tidak peduli lagi dengan masa lalu Sandra, karena apa yang di pikirkan nantinya adalah masa depan bukan masa lalu. Setiap orang memiliki masa lalu entah itu kelam atau apa pun itu, akan tetapi itu semua hanya sebuah masa lalu dan setiap orang juga akan berubah.
Austin memarkirkan mobilnya di depan rumah yang begitu sangat mewah sama seperti dengan rumahnya walau hanya berbeda arsitektur saja. Ya, Austin saat ini berada di rumah Devin, dia hanya ingin berbagi cerita dengan sahabatnya, dia sudah tidak tahu akan berbagi cerita kepada siapa lagi kalau bukan dengan Devin. Austin keluar dari dalam mobilnya dan langsung menuju pintu utama, Austin memencet bel yang berada di samping rumah dan tidak berapa lama ada yang membukakan pintunya.
“Tuan, cari siapa?” tanya seorang pelayan wanita.
“oh, tuan. Ada tuan, kalau begitu silahkan masuk lebih dulu,” ucap pelayan wanita mempersilahkan Austin masuk ke dalam, bahkan pelayan wanita itu juga menyuruh Austin untuk lebih dulu duduk, dan pelayan wanita tadi pun langsung pergi memanggil Devin.
__ADS_1
Tidak berapa lama menunggu, kini Devin sudah berada di depan Astin. Dimana Devin sedari tadi memperhatikan Austin yang wajahnya tampak kusut dan sangat prustasi, dia tahu kenapa Austin seperti saat ini. Siapa lagi kalau bukan Sandra yang membuatnya seperti ini, rasanya Devin ingin sekali menampar Austin agar sadar jika di dunia ini masih banyak wanita lain yang jauh lebih cantik dan segalanya lebih dari Sandra yang menurutnya wanita murahan, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatka targetnya.
“Lebih baik kamu kembali saja ke Hamburg, siapa tahu kamu bisa melupakan wanita itu. Kamu masih bisa mendapatkan yang jauh lebih baik Austin, dan soal bayi di kandungan Sandra kamu bisa menyuruhkan gugurkan kandungannya atau menunggu sampai bayi itu keluar dan nanti kamu bisa mengambil hak asuhnya. Jujur saja Austin sebenarnya Sandra juga tidak pantas untukmu,” ucap Devin.
Saat itu juga Devin mendongakkan wajahnya menatap Devin, dia juga berkata, “Sayangnya aku tidak bisa melakukannya Dev, aku sudah terlanjur mencintainya dan aku juga tidak ingin kehilangannya, bagaimana juga dia harus jadi milikku dan aku harap dia juga akan berubah walau entah itu kapan namun aku akan tetap mencobanya, mungkin hingga aku lelah.”
“Ck! Kamu memang sudah benar-benar jatuh dalam pikatannya,” ucap Devin kesal.
Austin hanya tersenyum kecil, lalu mengusap wajahnya dengan kasar, “Kamu tahu Dev, selama ini aku banyak mengencani wanita. Entah itu pelacur atau bukan namun tidak ada satu wanita yang bisa membuatku tertarik pada mereka dan saat aku bertemu dengan Sandra entah kenapa semuanya berbeda, Sandra seakan menjadi candu untukku,” ucap Austin.
Lagi dan lagi Devin hanya bisa menganggukkan kepalanya, “Ya, aku juga pernah merasakan itu namun aku berbeda denganmu. Aku tidak pernah tidur dengan wanita lain sebelum bertemu dengan Alena dan hanya dia satu-satunya wanita yang pernah tidur bersamaku hingga aku bisa memilikinya sampai saat ini, bagiku dia adalah hidupku,” ucap Devin.
__ADS_1
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan mengurung Sandra di rumahku terus-terussan? Bahkan aku tidak rela jika Sandra bertemu dengan lelaki lain dan menggodanya,” ucapnya.
“Lebih baik memang seperti itu, kamu terus yakinkan pada dia, bersikaplah manis pada dia atau apa yang kamu bisa,” ucap Devin, karena jujur saja Devin juga tidak begitu paham dengan hal-hal yang sangat romantis, sedangkan dulu saat dia mencoba meyakinkan Alena saja hanya berujung di atas ranjang dimana mereka saling mendesah untuk mencapai kenikmatan, bahkan Devin sampai tidak membiarkan Alena untuk keluar dari kamar.