
Nathan yang juga belum tidur masih setia menunggu balasan dari Alena, namun kenapa Alena sangat lama sekali membalas pesannya, Nathan yang masih mengharapkan cinta dari Alena, dirinya masih setia menunggu Alena.
Dengan berbaring sambil memainkan hpnya, Nathan menatap kembali paesan dari Alena namun juga belum di balas dan hanya di baca saja, itu membuat Nathan menghembuskan nafas kasarnya, Nathan terbangun dan meninggalkan hpnya begitu saja di ranjang. Nathan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket karena keringat.
“Alena, bagaimana dengan perasaanku yang masih sama sampai saat ini,” gumamnya di depan pantulan kaca Nathan berbicara sendiri.
Nathan mengepalkan tangannya seakan ingin meninju seseorang, Nathan kembali memghebuskan nafasnya dan memejamkan matanya sebentar, berjalan ke arah showe dan menyalakannya, guyuran air dingin yang membuatnya kembali segar dan melupakan pikirinnya sejenak.
Tak ada yang kurang dari Nathan hanya saja Nathan memang menginginkan wanita yang baik dan menerima dirinya apa adanya dan juga merawat ibunya, karena saat ini hanya ibunya saja yang Nathan punya keluarga yang lainnya Nathan sudah tak punya.
Nathan keluar kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, berjalan ke arah ranjang dan meraih hpnya namun sama saja Alena juga belum membalasnya, Nathan melemparkan hpnya kembali ke ranjang, berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
Nathan kembali lagi membaringkan tubuhnya dan melihat hpnya kembali namun juga belum Alena balas pesannya. Nathan menaruh kembali hpnya di nakas samping tempat tidur lalu memakai selimut dan memejamkan matanya.
“Argrhh! Sial, kenapa jadi ngga bisa tidur,” gerutu Nathan, dan kembali terbangun bersenderan melihat ke arah jendela yang memang sudah tengah malam.
Nathan kembali mengambil hpnya dan menelpon Jenny, dan tak berapa lama di angkat oleh pemiliknya.
“Hallo, siapa sih ganggu orang tidur saja,” ucapnya dari seberang telepon.
__ADS_1
“Ini aku Nathan, kamu udah tidur Jen?”
“Sudah, tapi kebangun gara – gara kamu telepon aku,” ucap Jenny dengan sebal.
“Maaf, keluar yuk, kita minum,” ajak Nathan.
“Aku ngantuk Nat, lagian ngpain sih kamu tengah malam gini ngajak minum lagi ada masalah?”
“Ayolah Jen, nggak ada yang aku ajak lagi, Lionel lagi aku tugaskan dia,” ucap Nathan dengan merajuk agar Jenny mau.
“Ya, udah, tapi kamu jemput aku, aku mau siap – siap dulu,” ucap Jenny lalu mematikan teleponnya sepihak.
Nathan pun langsung bergegas ganti baju, sebelum keluar kamar tak lupa membawa dompet dan kunci mobilnya. Nathan menuruni anak tangga dengan hati – hati agar sang mama tak mengetahui jika dirinya pergi.
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di apartemen Jenny, karena hari sudah sangat larut malam jadi jalanan sudah sepi hanya ada beberapa kendaraan saja yang lewat.
**
Jenny yang masih males untuk bangun, kini dirinya masih santai melanjutkan tidurnya dan tak bersiap. Jenny terbangun karena dari tadi bel apartemennya terus berbunyi yang Jenny pastikan itu Nathan yang mengajaknya pergi untuk minum.
__ADS_1
Jenny membukakan pintu untuk Nathan dengan masih berantakan, Jenny menyuruh Nathan untuk masuk ke dalam, tak lupa Jenny menutup pintunya jembali.
“Kok kamu belum siap sih Jen, katanya tadi mau siap – siap,” ucapnya sambil duduk di sofa.
“Aku ngantuk Nat, kamu nggak tahu waktu banget sih ngajak orang,” ucap Jenny kesal dan duduk di samping Nathan.
“Udah buruan sana siap – siap, masa iya kamu mau pakai baju tidur.”
Namun Jenny masih belum beranjak dari tempatnya dan masih santai duduk,”memangnta kamu lagi kenapa Nat?” Jenny masih kepo kenapa selarut malam gini Nathan mengajak keluar hanya untuk minum.
“Kamu masih belum terima kenyataan kalau Alena menolakmu, atau kamu masih belum bisa melupakannya?” Jenny masih menunggu jawaban dari Nathan yang masih terdiam.
“Sudahlah Nat, aku yakin kamu bisa cari penganti Alena yang jauh lebih baik,” ucap Jenny kembali dan menoleh ke Nathan yang menatapnya.
“Tak semudah itu Jen, kamu tahu dari awal aku sudah terpesona dengan Alena,” ucapnya.
“Ya, aku tahu itu Nat, tapi cobalah sedikit demi sedikit melupakannya,” ucap Jenny.
Nathan hanya diam tanpa menjawab perkataan Jenny, Jenny menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur meninggalkan Mathan sendiri. Jenny mengambil sebotol wiski dan juga dua gelas, Jenny berjalan kembali ke sofa dan menyodorkan minuman wiski itu ke Nathan.
__ADS_1
“Ini minum, aku nggak mau keluar, aku temenin kamu di apartemen saja, boleh kamu habiskan aku masih punya banyak stok, aku juga temenin kamu minum tapi nggak banysk,” ucapnya, Nathan hanya mengangguk dan tersenyum kepada Jenny.
“Makasih Jen,” ucapnya yang hanyq di angguki oleh Jenny.