Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Pernikahan


__ADS_3

Hari terus berganti dan pagi ini dimana pernikahanku dengan Devin akan dilaksanakan, aku menunggu appa menjemputku dan membawaku ke atas altar. Aku bahagia dimana saatnya aku menikah bersama dengan Devin dan aku juga enggak perlu repot-repot bermain petak umpet seperti dulu untuk menghindari Devin agar aku tak bertemu dengannya namun sekarang justru aku akan menikah dengannya dan hidup bahagia dengan keluarga kecilku nanti.


“Nona kamu sangat terlihat cantik,” ucap Alice yang baru saja masuk bersama dengan Kaendra.


Aku menoleh ke arah Alice dan Kaendra, aku tersenyum kecil pada mereka. “Terima kasih Alice pujiannya, kamu bisa saja,” ucapku.


“Iya, benar. Mama hari ini sangat cantik dan papa juga sangat tampan tadi Kaendra melihatnya,” ucap Kaendra anakku yang tampan dan pintar. Ya, semuanya mirip Devin mulai wajah dan kepintaran anakku.


Tak lama kemudian appa masuk ke dalam kamarku untuk menjemputku, sengan di gandeng appa ke atas altar bertemu dengan Devin yang sudah menungguku sedari tadi. Aku sangat deg-dengan padahal setiap hari aku selalu bersama dengan Devin tapi suasanya saat ini berbedda jadi membuatku sedikit gelisah. Tanganku pun kin sudah di gandeng oleh Devin dan kami mengucapkan janji suci pernikahan dengan khidmat, dan semuanya berjalan lancar. Kini aku dan Devin sah menjadi suami istri, kami berdua duduk di atas pelaminan dan sekali-kali berdiri untuk memberi salam pada tamu undangan yang mengucapkan selamat pada kami berdua.


“Alena hari ini aku sangat bahagia karena akhirnya kita berdua bisa menikah dan kini kamu enggak akan pernah bisa kabur dariku,” bisik Devin.


“Ya, aku tahu dan jika kamu sampai berselingkuh dariku maka kamu akan menerima pembalasanku Dev,” bisikku.

__ADS_1


Namun Devin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Buat apa aku selingkuh jika istriku saja sangat cantik dan seksi apa lagi jika sudah di atas ranjang sangat liar,” bisik Devin dan itu sukses membuatku malu dan mungkin wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.


Aku mencubit pinggang Devin pelan, “Gimana rasanya? Bisa-bisanya kamu berani menggodaku di saat enggak tepat tempatnya Devin,” ucapku.


Devin mengelus pinggangnya sambil mengadu kesakitan tapi aku tak peduli, aku lebih baik duduk dan memberi salam pada tamu undangan, pesta yang diadakan sampai malam nanti. Sebenarnya aku menyuruh agar tamu undangannya enggak usah terlalu banyak namun ini lebih dari dugaanku.


Malam harinya setelah selesai acara Devin mengajakku ke kamar hotel, sedangkan Kaendra sedang bersama nenek dan kakeknya. Aku duduk di depan meja rias untuk membersihkan make up dan juga melepas beberapa hiasan yang aku kenakan, aku juga menyuruh Devin untuk mandi lebih dulu. Sambil menunggu Devin selesai mandi aku duduk di ranjang dan tak lama Devin keluar dengan menggunakan bathrobe, setelah itu aku masuk ke dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, aku juga akan berganti dengan baju tidur dan setelah itu aku ingin tidur karena aku benar-benar merasa lelah. Tapi sepertinya melihat Devin yang menatapku seakan ingin menerkamku, namun aku tetap cuek dan terus berjalan dan membaringkan tubuhku di samping Devin.


“Hm, ada apa Dev. Bisa enggak malam ini kamu enggak minta aku sangat lelah, lagi pula sebelum menikah kamu hampir tiap hari meminta,” ucapku sambil memejamkan mataku.


“Tapi sayang, malam ini kan malam pertama kita sayang,” ucapnya merajuk namun aku masih memejamkan mataku.

__ADS_1


“Please malam ini saja sayang, aku benar-benar lelah. Kamu kenapa sih? Udah jadi bapak-bapak pula suka merajuk,” ucapku, aku tersenyum lalu mencium pipinya dan mengajaknya untuk tidur dengan Devin memelukku.


Pagi harinya aku terbangun dan mendapati Devin sudah tak ada di sampingku. Aku beranjak dari ranjang dan mencari keberadaan Devin namun tak ada, di kamar mandi juga enggak ada. Aku pun meraih hpku berniat ingin menelepon Devin namun Devin lebih dulu masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekatiku.


“Maaf, tadi aku keluar sebentar untuk menemui Evan,” ucap Devin lalu menciun dahiku dengan lembut.


“Kenapa enggak bangunkan aku Dev,” ucapku, sambil mendongak menatap Devin yang masih tersenyum padaku.


“Kamu tidurnya sangat pulas sayang jadi aku enggak berani bangunkan kamu, aku tahu kamu kecapean karena kemarin,” ucap Devin.


Kini aku berada di pangkuan Devin, kami duduk di tepi ranjang sambil sesekali kami berciuman. Saat Devin meminta lebih aku menghentikannya karena kita harus kembali pulang aku tak mau jika nanti Kaendra menangis mencariku akan tetapi ternyata Devin banyak cara bahkan dia menghentikan aku untuk turun dari pangkuanku.


“Dev, kamu mau apa sih,” ucapku.

__ADS_1


“Aku mau tadi malam yang sempat tertunda sayang,” ucapnya.


Ya, kami melakukan hubungan panas kembali dan kami mengakhiri saat jam makan siang karena aku ribut lapar jadi Devin mengajakku makan siang.


__ADS_2