
Sekitar pukul 12.00 malam Jenny kembali ke apartemen dengan mengendarai mobilnya sendiri, awalnya Arbian ingin mengantarkannya namun Jenny menolaknya. Jenny yang sedikit berjalan sempoyongan tapi masih bisa mengendalikannya membuat Arbian sedikit cemas.
“Thank you, sudah menemani malam ini,” ucap Jenny kepada Arbian yang ingin membantu berjalan karena Jenny tadi hampir jatuh.
“Ya, sama – sama, lain kali kamu bisa datang ke sini kembali,” ucap Arbian.
Jenny hanya tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan jalannya keluar dari club malam, dengan di antarkan oleh Arbian sampai parkiran.
Arbian melambaikan tangannya saat Jenny melajukan mobilnya, Arbian menatap mobil Jenny yang sudah menghilang jauh. Arbian tersenyum kecil, malam ini dirinya bisa menemukan wanita cantik dan yang pasti tak membosankan buat dia.
“Aku pasti bisa mendapatkanmu,” ucapnya lalu berjalan kembali masuk ke dalam club.
Arbian kembali duduk di sofa yang tadi mereka tempatin, di sana Arbian sudah di tunggu oleh gadis cantik yang biasa menemaninya untuk minum.
“Tuan, apa tuan malam ini membutuhkanku?” tanya wanita cantik itu yang berada di samping Arbian sambil bermanja – manja ke Arbian.
“Tidak, aku hanya akan memintamu menemaniku di sini bukan di ranjang, karena aku sudah tak berminat,” ucap Arbian sambil menghisab rokoknya.
Wanita itu hanya mengangguk dan sedikit kesal karena tak biasanya Arbian bersikap seperti ini sebelum bertemu dengan wanita yang barusan.
Sedangkan itu Jenny sudah sampai di apartemen, kini dirinya memarkirkan mobilbya di basemant. Jenny berjalan menuju pintu lift untuk membawanya ke lantai atas.
Jenny berjalan sempoyong saat menuju pintu apartemen, Jenny dengan berjalan berpegangan tembok dengan berjalan pelan karena kepalanya yang sudah merasa pusing juga.
Tepat di depan pintu dirinya melihat Nathan yang sedang menunggunya sambil bersender ke pintu dengan ke dua tangannya di taruh depan dada.
__ADS_1
“Dari mana kamu Jen, ini sudah larut malam dan kamu baru pulang dengan keadaan mabuk,” ucap Nathan menatap Jenny dengan tajam.
“Apa urusan kamu Nat, apa pedulinya kamu kepadaku,” ucap Jenny dengan suara keras.
“Jenny kamu wanita dan nggak baik pulang malam dalam keadaan mabuk, gimana kalau nanti terjadi sesuatu dengan kamu?” tanya Nathan sambil memegang pundak Jenny.
Jenny hanya menatap tajam Nathan dan merasa muak dengan perhatian Nathan.
“Aku tak peduli dengan ucapanmu Nat, lebih baik kamu kembali pulang saja dan biarkan aku masuk ke dalam untuk segera istirahat,” ucapnya sambil melepaskan tangan Nathan dari pundaknya.
Jenny memasukkan sandi pintu apartemennya lalu pintu itu di buaknya dan masuk ke dalam, namun Nathan juga ikut masuk ke dalam apartemen Jenny.
“Ngapain kamu masuk Nat, bukannya tadi aku menyuruhmu untuk pulang,” ucap Jenny yang berjalan di depan Nathan sedangkan Nathan mengikuti Jenny di belakangnya.
“Aku nggak mau Jen,” ucap Nathan sambil meraih tangan Jenny dari belakang dan langsung menyeretnya agar bisa lebih dekat. Jenny pun terhuyung dan memeluk tubuh Nathan.
“Jen, aku mohon kamu jangan seperti ini lagi,” ucap Nathan memperingatinya namun Jenny hanya diam dan masih menatap Nathan.
Nathan lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jenny, Nathan mencium bibir Jenny dengan lembut dan hati – hati. Jenny yang sontak kaget hanya mematung dan melototkan matanya tanpa ada reaksi sedikitpun.
Ada sekitar lima menit Nathan mencium bibir Jenny, lalu dirinya menyudahi ciumannya dan mengajak Jenny untuk pergi ke kamarnya istirahat.
Jenny masih dengan diamnya tanpa menyahuti pembicaraan Nathan dan menuruti apa yang Nathan suruh. Jenny berbaring di kasur di ikuti Nathan di samping Jenny. Nathan membenarkan selimutnya agar menutupi tubuh mereka berdua, lalu Nathan memeluk Jenny dari belakang.
Jenny memejamkan matanya karena sudah tak kuat dengan rasa pusingnya akibat dia banyak minum, tanpa mandi ataupun memversihkan wajahnya dari make upnya seakan Jenny tak peduli dengan itu.
__ADS_1
Paginya Jenny terbangun merasakan kepalanya yang masih pusing, Jenny bangun dan menyenderkan badanya, Jenny menoleh ke arag jendela, ternyata dirinya bangun ke siangan.
Saat menoleh ke samping Jenny mendapati Nathan yang masih tertidur dengan pulas dan tunggu sejak kapan Nathan masuk ke apartemennya dan tidur bersama.
“Nat … Nathan bangun,” ucap Jenny sambil mengoyang – goyangkan lengan Nathan.
Nathan pun mengedipkan matanya, ternyata Jenny sudah bangun lebih dulu.
“Pagi Jen, kok kamu sudah bangun?” tanya Nathan sambil mengucek matanya.
“Kepalaku pusing,” ucapnya sambil masih memperhatikan Nathan.
Nathan tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Jenny.
“Mandilah terlebih dahulu, biar aku buat sarapan untuk kita,” ucap Nathan menyuruh Jenny segera mandi agar badannya kembali fress.
Jenny hanya mengangguk dan segera turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, sedangkan Nathan keluar dari kamar Jenny untuk pergi ke dapur.
Nathan hanya menyiapkan sarapan roti di tambah dengan telur mata sapi dan sedikit sayuran, Nathan juga tak lupa membuat segelas susu.
Nathan kembali ke kamar Jenny tepat Jenny baru saja selesai mandi dan keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di badannya dengan rambut basah, kemungkinan Jenny tadi mencuci rambutnya.
“Nathan,” ucap Jenny terkesiap.
“M-maaf Jen, lebih baik aku segera keluar sekarang,” ucap Nathan sambil berbalik ingin keluar kamar Jenny.
__ADS_1
“Nat, kamu tak usah keluar, lebih baik kamu juga mandi saja, nanti biar aku siapkan handuknya,” ucap Jenny sambil berjalan ke walk in closet.
Nathan yang niat mau keluar menghentikan jalannya dan mengangguk menuruti apa yang di perintahkan oleh Jenny, Jenny baru ingat bahwa semalam Nathan berkunjung ke apartemennya saat dirinya pulang dengan keadaan mabuk, Jenny juga tak melupakan ciuman dari Nathan dan itu ciuman pertama Jenny.