
Devin sampai di kamarnya, dia melihat Alena sedang tidur dengan membelakanginya. Devin berjalan dengan pelan, dia ingin menjelaskannya pada Alena jika semuanya itu tidak benar, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh yang justru akn kehilangannya. Devin duduk di tepi ranjang, dia menatap punggung Alena, dimana dia bisa melihat Alena sedang menangis terisak.
“Honey, kamu jangan salah paham. Apa yang dikatakan Sandra itu semuanya bohong, percayalah padaku,” ucapku.
Aku mendekati Alena dimana dia semakin terisak karena tangisannya yag semakin dapat kudengar dan itu membuatku semakin sakit, sungguh aku tidak bisa melihat Alena menangis, aku langsung memeluk erat tubuh Alena.
“Sttss, honey. Please, aku mohon kamu jangan menangis lagi, kamu percaya padaku bukan? Aku hanya mencintai kamu selamanya dan tidak mungkin melakukan itu pada wanita lain, buat apa aku melakukan itu sedangkan aku memiliki istri cantik, bahkan dia sangat menggoda,” ucapku, aku mencoba menghibur istriku agar dia tidak menangis karena perkataan Sandra yang mengacau, karena terobsesinya ingin memilikiku.
Alena juga memukul dadaku, saat dia merubah posisi tidurnya dan kini kami saling berhadapan, “Apa benar? Apa kamu tidak berbohong padaku,” ucap Alena.
“Tentu saja, kamu tahu bukan honey, sebelum kita menikah. Aku menunggumu lama, bahkan aku berusaha meyakinkan dirimu agar kita bisa hidup bersama, dan mana mungkin aku akan melakukan hal bodoh yang justru akan membuat pernikahan kita hancur, aku tidak mau honey, aku tidak ingin kehilangan kalian berdua dan juga anak kita yang di dalam perut kamu, aku juga sudah tidak sabar menunggu kehadirannya honey,” ucapku.
Saat itu juga Alena mendongakkan wajahnya, dia menatapku sejenak dan tersenyum padaku, “Aku mencintaimu Dev, jangan tinggalin aku,” ucap Alena.
__ADS_1
Aku mengangguk, lalu aku mencium bibir ranum milik Alena, kami saling membalas ciuman kami satu sama lain, ciuman yang berlangsung hanya sebentar.
“Jadi? Kamu percaya padaku? Dan aku mohon tolong kamu jangan pernah dengarkan bualan Sandra. Setelah ini aku akan mengurus wanita sialan itu, kalau saja Austin tidak memohon padaku maka aku sudah lenyapkan Sandra wanita ****** itu,” ucapku kesal.
“Aku percaya padamu sayang, tapi satu hal yang aku inginkan jangan pernah berbuat sampai di luar batas kamu Dev, aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Yang aku inginkan keluarga kita hidup bahagia selamanya, dan kita bisa melewati setiap rintangan yang menerjang rumah tangga kita ke depannya, aku dan kamu, sama-sama membesarkan anak kita sampai kita di panggil ileh sang pecipta, aku dan kamu bisa melihat mereka hidup bahagia,” ucap Alena.
Devin mengangguk, lalu kembali memeluk tubuh Alena dengan erat, “Terima kasih sudah percaya denganku honey.”
Kini mereka baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, mereka sangat bahagia dimana mereka bisa melihat perkembangan anak mereka dengan sehat dan baik-baik saja. Devin dan Alena berjalan sepanjang koridor dengan senyum mereka, namun saat mereka sampai di parkiran melihat Austin bersama dengan Sandra, bahkan Devin dan Alena bisa melihat mimik wajah Sandra yang tidak terlalu suka atau bahagia di dekat Austin.
“Austin, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Devin.
Austin tersenyum, bahkan dia juga menepuk pundak Devin pelan dan berkata, “Aku akan mengantarkan Sandra untuk cek kehamilannya, dan kamu tahu dia menyembunyikan kehamilannya padaku,” ucap Austin.
__ADS_1
Saat itu juga tatapanku langsung tertuju pada Sandra dimana dia mengalihkan pandangannya kearah lain, dan aku pun kembali menatap Austin, “Aku rasa lain kali kita perlu bertemu karena ada seseuatu yang akan aku bicarakan padamu,” ucapku.
“Tentu, aku akan mengaturnya,” ucap Austin.
“Ya, dan satu lagi Austin. Tolong kamu jaga Sandra dengan baik dan jangan biarkan dia menggoda lelaki lain, buktikan jika dia hanya milikmu bukan milik banyak lelaki, kamu pasti paham bukan apa yang aku bicarakan bukan?”
Lagi-lagi Austin hanya mengangguk, dan saat itu juga dia langsung berpamitan pada Devin dan Alena. Austin menarik lengan Sandra dengan sedikit kasar, aku bisa merasakan jika Austin marah mendengar perkataanku karena memang Sandra kembali berbuat ulah lagi.
“Ayo, honey. Lebih baik kita segera kembali pulang,” ajakku.
“Hm, setelah ini aku ingin memakan yang manis dan gurih, apa kamu akan memasakkan untukku sayang?” tanya Alena.
“Tentu, apa yang di inginkan istri tercintaku akan aku kabulkan,” ucapku.
__ADS_1
Mungkin ini hanya sebagian ceritaku saja baik dan buruknya di kehidupan rumah tanggaku dan Alena, dimana kehidupan percintaan kita yang berjalan tidak semulus jalan tol, namun aku berharap jika kedepannya hubungan kami akan lebih baik, dimana semua penganggu tidak akan pernah muncul lagi. Sudah cukup yang dulu-dulu saja, aku percaya jika memang kehidupan akan terus berputar dan tidak akan sama.